Berita Utama
-
Jumat, 25/05/2012 17:21 WIB
Warga Twitter Puji Dedikasi 'Satpam Digital'
-
Jumat, 25/05/2012 16:07 WIB
6 Ponsel Nokia Terpopuler
-
Jumat, 25/05/2012 15:19 WIB
5 Casing iPhone yang Punya 'Gigi' Pembuka Botol
-
Jumat, 25/05/2012 11:19 WIB
I Made Wiryana, Anak Band yang Jadi 'Cyber Paspampres'
-
Jumat, 25/05/2012 12:52 WIB
Mencicipi Facebook Camera: Instagram ala Facebook
-
Jumat, 25/05/2012 10:19 WIB
Tips Mengubah Kontak di BlackBerry Menjadi Excel
-
Kamis, 24/05/2012 15:37 WIB
Negara Mana 'Raja' Internet ASEAN?
-
Kamis, 24/05/2012 12:12 WIB
5 'Nenek Moyang' Smartphone Android
-
Kamis, 24/05/2012 11:15 WIB
Waspadai Email Palsu dari 'Facebook'
Kolom Telematika
'Slumdog Millionaire' dari Indonesia
Rabu, 12/08/2009 08:45 WIB

Slumdog Millionaire
Kolom Telematika - Dalam salah satu adegan film pemenang delapan piala Oscar 2008, Slumdog Millionaire, sang pemeran utama, Jamal Malik, bertindak sebagai operator telepon yang melayani pelanggan di seluruh dunia.
Melalui koneksi internet sekaligus telepon tetap, Jamal bisa melayani pelanggan operator seluler dari Manchester, Inggris sekalipun dirinya tinggal di Mumbai, India. Tak ada lagi sekat negara, jarak, dan waktu dalam konsep bisnis aktual.
Apa yang digambarkan sang sutradara, Danny Boyle, dalam adegan itu merepresentasikan apa yang sesungguhnya terjadi. Dalam lima tahun terakhir, India menjadi negara penyedia jasa service center terbesar di dunia.
Dengan sistem kerja outsourcing yang menjalankan roda usahanya berbasis internet, banyak perusahaan India (umumnya berlokasi di region Bangalore) menjadi mitra operator telepon global sekaliber British Telecom dan AT&T.
Ratusan anak muda di negeri itu, selama 24 jam dan tujuh hari, bergiliran menerima komplain pengguna layanan, dengan peranan tak ubahnya customer service sesungguhnya dari operator global tadi.
Guna meyakinkan hal tersebut, Nandan Nilekani, CEO jasa outsourcing terbesar di India, sengaja melatih aksen bahasa pekerjanya. Ada yang dilatih aksen british, ada pula aksen bahasa slank khas Amerika Serikat (The World is Flat, 2005).
Maka, melihat apa yang terjadi di fragmen di atas ini, kini tak ada lagi kesenjangan sosio-ekonomi India sebagai negara Asia yang pendapatan per kapitanya minim dengan Inggris yang masyarakatnya sejahtera.
Internet
Teknologi internet telah meleburkan semua gap tadi. Potensi negara-negara berkembang, bahkan negara dunia ketiga yang identik miskin dan terbelakang, sebenarnya bisa sama bagusnya dengan yang diraih negara maju.
Dan nyatanya, opini ini bukan sekedar manis di bibir. Data faktual menunjukkan bahwa kemajuan pesat yang diraih Korea Selatan di bidang manufaktur ditunjang penetrasi internet yang sudah mencapai 80% dari total rumah tangga.
Bukan hanya itu. Munculnya Taiwan sebagai pusat produksi chip pesanan vendor prosesor kakap seperti Intel dan AMD juga dipercaya akibat penetrasi internet 100% di negara berpenduduk 6 juta orang itu (broadbandtrends.com, Maret 2008).
Pada data lebih makro yang dirilis eMarketer.com, pendapatan berikut jumlah pelanggan internet dari kawasan Asia saat ini sudah mencapai 20,1% atau urutan ketiga setelah Eropa Barat 27,6% serta Amerika Utara 23,2%.
Oleh karenanya, dalam tataran lebih kecil dan membumi, potensi masyarakat Indonesia di wilayah pedesaan maupun pesisir, sesungguhnya bisa sama melesatnya dengan kota apabila mampu memanfaatkan fasilitas teknologi informasi tersedia dengan optimal.
Apalagi, jasa layanan internet saat ini kian mudah diakses masyarakat, di lokasi manapun. Dengan berbasis layanan seluler yang wilayah cakupannya kian meluas, akses internet saat ini mudah dilakukan hanya di genggaman tangan.
Dengan sentuhan telunjuk di ujung mouse, layanan fixed phone, data literatur yang berjumlah ribuan dengan varian konten sangat kaya, kini sudah bisa dipelajari sendiri (e-learning) masyarakat di wilayah marjinal dengan biaya super-efisien.
Situasi ini pada akhirnya akan menghantarkan konsep kolaborasi di masyarakat itu sendiri. Interaksi satu sama lainnya pada sebuah komunitas, akan diawali melalui implementasi teknologi informasi.
Rasa-rasanya, apa yang dilakukan Muhammad Yunus dengan Grameen Bank yang membuatnya dianugerahi Nobel, tidak akan terlalu sulit dimulai di negeri ini -- yang tipikal masyarakatnya memang tidak jauh berbeda.
Pada titik ini, maka yang dibutuhkan sebenarnya sederhana saja: Pertama, kemauan semua pemangku kepentingan (stakeholder) untuk terus menggelorakan sejumlah inisiatif yang sudah dilaksanakan jauh-jauh hari.
Sejumlah pemerintah daerah telah mencanangkan digitalisasi pembangunan seperti Pemkot Cimahi dengan konsep Cimahi Cyber City dan Pemkab Sragen (Sragen Cyber City). Demikian pula Menristek yang gencar memberdayakan open source.
Di sisi lain, operator telekomunikasi juga sudah mengampanyekan berbagai program konstruktif terkait seperti PT Telkom dengan program Internet goes to pesantren, PT Indosat (IWIC), atau PT Telkomsel (internet di sekolah dasar).
Kedua program tersebut, harus diakui, belum memiliki kontinuitas spirit. Karenanya, diperlukan kesamaan cara pandangan agar spirit menggelorakan program ini tiada surutnya sehingga masyarakat yang terlayani makin banyak.
Kedua, menggiring arah program ini pada tataran praktis yang lebih simpel dan segera dirasakan manfaatnya oleh rakyat. Substansi dari massalisasi internet sebenarnya bukan sekedar peneterasi yang meluas dari masyarakat.
Lebih jauh dari itu, internet harus menjadi perangkat (tools) yang memudahkan masyarakat dalam beraktifitas, menyinergikan potensi sumber daya yang ada, hingga menciptakan kemaslahatan ekonomis.
Jika dua aksi penajaman ini bisa segera dilakukan, maka Indonesia akan maju di semua wilayah. Bahkan, jika konsisten dilakukan, bukan tidak mungkin, akan muncul Jamal Malik-Jamal Malik lainnya di negeri ini. Ayo!
Penulis adalah Chief Lembaga Riset Telematika Sharing Vision. Bisa dihubungi lewat email redaksi@detikinet.com
( rou / rou )
Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Melalui koneksi internet sekaligus telepon tetap, Jamal bisa melayani pelanggan operator seluler dari Manchester, Inggris sekalipun dirinya tinggal di Mumbai, India. Tak ada lagi sekat negara, jarak, dan waktu dalam konsep bisnis aktual.
Apa yang digambarkan sang sutradara, Danny Boyle, dalam adegan itu merepresentasikan apa yang sesungguhnya terjadi. Dalam lima tahun terakhir, India menjadi negara penyedia jasa service center terbesar di dunia.
Dengan sistem kerja outsourcing yang menjalankan roda usahanya berbasis internet, banyak perusahaan India (umumnya berlokasi di region Bangalore) menjadi mitra operator telepon global sekaliber British Telecom dan AT&T.
Ratusan anak muda di negeri itu, selama 24 jam dan tujuh hari, bergiliran menerima komplain pengguna layanan, dengan peranan tak ubahnya customer service sesungguhnya dari operator global tadi.
Guna meyakinkan hal tersebut, Nandan Nilekani, CEO jasa outsourcing terbesar di India, sengaja melatih aksen bahasa pekerjanya. Ada yang dilatih aksen british, ada pula aksen bahasa slank khas Amerika Serikat (The World is Flat, 2005).
Maka, melihat apa yang terjadi di fragmen di atas ini, kini tak ada lagi kesenjangan sosio-ekonomi India sebagai negara Asia yang pendapatan per kapitanya minim dengan Inggris yang masyarakatnya sejahtera.
Internet
Teknologi internet telah meleburkan semua gap tadi. Potensi negara-negara berkembang, bahkan negara dunia ketiga yang identik miskin dan terbelakang, sebenarnya bisa sama bagusnya dengan yang diraih negara maju.
Dan nyatanya, opini ini bukan sekedar manis di bibir. Data faktual menunjukkan bahwa kemajuan pesat yang diraih Korea Selatan di bidang manufaktur ditunjang penetrasi internet yang sudah mencapai 80% dari total rumah tangga.
Bukan hanya itu. Munculnya Taiwan sebagai pusat produksi chip pesanan vendor prosesor kakap seperti Intel dan AMD juga dipercaya akibat penetrasi internet 100% di negara berpenduduk 6 juta orang itu (broadbandtrends.com, Maret 2008).
Pada data lebih makro yang dirilis eMarketer.com, pendapatan berikut jumlah pelanggan internet dari kawasan Asia saat ini sudah mencapai 20,1% atau urutan ketiga setelah Eropa Barat 27,6% serta Amerika Utara 23,2%.
Oleh karenanya, dalam tataran lebih kecil dan membumi, potensi masyarakat Indonesia di wilayah pedesaan maupun pesisir, sesungguhnya bisa sama melesatnya dengan kota apabila mampu memanfaatkan fasilitas teknologi informasi tersedia dengan optimal.
Apalagi, jasa layanan internet saat ini kian mudah diakses masyarakat, di lokasi manapun. Dengan berbasis layanan seluler yang wilayah cakupannya kian meluas, akses internet saat ini mudah dilakukan hanya di genggaman tangan.
Dengan sentuhan telunjuk di ujung mouse, layanan fixed phone, data literatur yang berjumlah ribuan dengan varian konten sangat kaya, kini sudah bisa dipelajari sendiri (e-learning) masyarakat di wilayah marjinal dengan biaya super-efisien.
Situasi ini pada akhirnya akan menghantarkan konsep kolaborasi di masyarakat itu sendiri. Interaksi satu sama lainnya pada sebuah komunitas, akan diawali melalui implementasi teknologi informasi.
Rasa-rasanya, apa yang dilakukan Muhammad Yunus dengan Grameen Bank yang membuatnya dianugerahi Nobel, tidak akan terlalu sulit dimulai di negeri ini -- yang tipikal masyarakatnya memang tidak jauh berbeda.
Pada titik ini, maka yang dibutuhkan sebenarnya sederhana saja: Pertama, kemauan semua pemangku kepentingan (stakeholder) untuk terus menggelorakan sejumlah inisiatif yang sudah dilaksanakan jauh-jauh hari.
Sejumlah pemerintah daerah telah mencanangkan digitalisasi pembangunan seperti Pemkot Cimahi dengan konsep Cimahi Cyber City dan Pemkab Sragen (Sragen Cyber City). Demikian pula Menristek yang gencar memberdayakan open source.
Di sisi lain, operator telekomunikasi juga sudah mengampanyekan berbagai program konstruktif terkait seperti PT Telkom dengan program Internet goes to pesantren, PT Indosat (IWIC), atau PT Telkomsel (internet di sekolah dasar).
Kedua program tersebut, harus diakui, belum memiliki kontinuitas spirit. Karenanya, diperlukan kesamaan cara pandangan agar spirit menggelorakan program ini tiada surutnya sehingga masyarakat yang terlayani makin banyak.
Kedua, menggiring arah program ini pada tataran praktis yang lebih simpel dan segera dirasakan manfaatnya oleh rakyat. Substansi dari massalisasi internet sebenarnya bukan sekedar peneterasi yang meluas dari masyarakat.
Lebih jauh dari itu, internet harus menjadi perangkat (tools) yang memudahkan masyarakat dalam beraktifitas, menyinergikan potensi sumber daya yang ada, hingga menciptakan kemaslahatan ekonomis.
Jika dua aksi penajaman ini bisa segera dilakukan, maka Indonesia akan maju di semua wilayah. Bahkan, jika konsisten dilakukan, bukan tidak mungkin, akan muncul Jamal Malik-Jamal Malik lainnya di negeri ini. Ayo!
Penulis adalah Chief Lembaga Riset Telematika Sharing Vision. Bisa dihubungi lewat email redaksi@detikinet.com
( rou / rou )
Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Baca Juga
Berita Terbaru
Index »
-
Rabu, 23/05/2012 18:58 WIB
Indosat Siap Luncurkan Mobile Cloud
-
Rabu, 23/05/2012 12:38 WIB
Telkom Kembangkan e-Gov Berbasis Cloud
-
Rabu, 23/05/2012 11:12 WIB
Tender 3G Bisa Kembali Diundur Agar Tak Cacat Hukum
-
Senin, 21/05/2012 09:59 WIB
Kolom Telematika
Fenomena Social Networking
-
Senin, 21/05/2012 09:10 WIB
Lippo Luncurkan Satelit
-
Sabtu, 19/05/2012 14:26 WIB
Zuck Lebih Kaya dari Duo Pendiri Google
-
Sabtu, 19/05/2012 13:27 WIB
Duh, Angkasa Pura I Belum Miliki Izin Stasiun Radio
-
Sabtu, 19/05/2012 10:29 WIB
Musibah Sukhoi
Kominfo Enggan Berspekulasi Soal Interferensi Frekuensi
- Sabtu, 26/05/2012 17:54 WIB
Tablet Google Dipamerkan Bulan Depan
- Sabtu, 26/05/2012 15:36 WIB
Rumor: FIFA 2013 'Kick-off' September 2012
- Sabtu, 26/05/2012 14:45 WIB
Main Videogames Bisa Bikin Anak Balita Mimpi Buruk
- Sabtu, 26/05/2012 13:19 WIB
Siri Dibenamkan di OS X Mountain Lion?
- Sabtu, 26/05/2012 12:48 WIB
Karyawan Yahoo Ramai-ramai Puji Axis di App Store
- Sabtu, 26/05/2012 10:27 WIB
Sensor 16 MP OmniVision Mampu Rekam Video 4K
- Sabtu, 26/05/2012 11:06 WIB
Provider ICT Mencari Tantangan Baru di Sektor Migas
- Jumat, 25/05/2012 10:51 WIB
Nasib BlackBerry Messenger Suram?
- Jumat, 25/05/2012 16:07 WIB
6 Ponsel Nokia Terpopuler
-
216 Komentar
-
84 Komentar
-
75 Komentar
-
75 Komentar
-
64 Komentar
-
63 Komentar
-
56 Komentar
-
54 Komentar
-
48 Komentar
Pro Kontra
Index »
Galaxy S III Smartphone Terbaik Saat Ini?
Pro
Kontra
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer





Sending your message



.jpg)

