Berita Utama
-
Jumat, 25/05/2012 11:19 WIB
I Made Wiryana, Anak Band yang Jadi 'Cyber Paspampres'
-
Jumat, 25/05/2012 12:52 WIB
Mencicipi Facebook Camera: Instagram ala Facebook
-
Jumat, 25/05/2012 10:19 WIB
Tips Mengubah Kontak di BlackBerry Menjadi Excel
-
Kamis, 24/05/2012 15:37 WIB
Negara Mana 'Raja' Internet ASEAN?
-
Kamis, 24/05/2012 12:12 WIB
5 'Nenek Moyang' Smartphone Android
-
Kamis, 24/05/2012 11:43 WIB
Serba 5 di Ultah ke-5 Android
-
Kamis, 24/05/2012 11:15 WIB
Waspadai Email Palsu dari 'Facebook'
-
Kamis, 24/05/2012 10:31 WIB
27 Ribu Karyawan HP akan Di-PHK
-
Rabu, 23/05/2012 15:50 WIB
13 Model BlackBerry dari Masa ke Masa
Catatan Nol Kilobyte
Pertunjukan Teater yang Sulit Untuk Dinikmati
Senin, 20/07/2009 11:40 WIB

ilustrasi (wikipedia/matanya/cc)
Jakarta - Drama ini menyedihkan, mengerikan dan benar-benar menyebalkan. Tak ada keamanan, yang ada hanya pertunjukan teater yang sulit untuk dinikmati.
Tapi anehnya, kita tetap melotot memandangi drama ini berjalan di depan mata. Pecahan kaca, runtuhan tembok, serpihan kayu dan logam. Tubuh manusia. Darah. Darah. Darah.
Randall Munroe, pembuat komik xkcd.com, menyebutnya sebagai disaster voyeurism. Betapa manusia diam-diam tertarik menyaksikan sebuah bencana.
"Harusnya bom itu meledak saat PRJ," ujar seorang teman, "atau malah waktu pertandingan MU vs Indonesia," tambahnya lagi.
Maaf, ia bukannya tidak sensitif apalagi seorang yang sadis. Teman ini hanya mengungkapkan apa yang mungkin diam-diam ada di benak semua orang: seandainya tragedi ini lebih besar lagi.
Tapi mau sebesar apa lagi? Tragedi yang menghantam dua hotel super mewah (dan super ketat) itu sudah terlalu berlebihan. Satu bom meledak saja sudah terlalu banyak, apalagi kalau sampai mengambil nyawa.
Paling Aman?
Ngomong-ngomong soal dua hotel korban serangan itu. JW Marriot dan Ritz Carlton punya reputasi bukan hanya sebagai dua di antara hotel-hotel paling mewah di Jakarta, tapi juga dua di antara hotel paling aman di Jakarta.
Hal itu bisa dilihat dari pengamanan yang dilakukan keduanya. Mulai dari menempatkan metal detector, menjauhkan jarak lobi hotel dari pinggir jalan hingga menggunakan prosedur pemeriksaan mobil yang terlihat ketat.
Namun buktinya, pelaku bisa masuk ke dalam hotel dan meledakkan bom di dalam lokasi hotel. Bukan dari pinggir jalan, bukan dari jarak jauh, tapi benar-benar di dalam bangunan hotel yang konon paling aman di Jakarta itu.
Bruce Schneier punya istilah untuk prosedur pengamanan yang ternyata tidak aman seperti ini --istilah yang saya adopsi ke dalam judul tulisan ini. Bruce menyebutnya 'security theater'.
"Teater keamanan mencakup semua upaya pengamanan yang dimaksudkan untuk memberikan perasaan peningkatan keamanan padahal tidak atau hanya sedikit memperbaiki pengamanan sesungguhnya" (Wikipedia)
Tapi jangan buru-buru menganggap serangan yang terjadi adalah kesalahan pengamanan kedua hotel itu. Seorang tokoh pernah mengatakan, hanya butuh segelintir orang dengan niat jahat untuk menjalankan aksi terorisme.
Pada Sebuah Komputer
Dalam skala yang jauh lebih 'damai' adalah keamanan di komputer. Pengguna awam seringkali merasa sangat cukup dengan hanya memasang program antivirus.
Program antivirus ini pun kerap muncul bagaikan pertunjukan teater belaka, lengkap dengan pesan-pesan penuh percaya diri seperti: "Komputer Anda 100% Terlindungi!"
Padahal, penggunaan antivirus tak pernah bisa menjamin sebuah komputer aman sepenuhnya. Bahkan, boleh dibilang, tak ada yang bisa menjamin sebuah sistem komputer akan aman seratus persen.
Pengguna komputer boleh-boleh saja merasa aman dan menikmati teater keamanan dari berbagai program pengaman komputer yang dipasangnya. Tapi jangan mencak-mencak pada program itu kalau suatu hari terjadi 'bencana'.
Bukan juga berarti bahwa pengguna harus mencabut seluruh kabel dari komputer dan kembali ke mesin ketik, hanya demi menghindari ancaman keamanan yang ada.
Jika itu yang dilakukan berarti mereka, para pembuat program jahat dan penjahat cyber, telah menang. Dan kita jangan pernah membiarkan mereka menang.
Kunci keamanan komputer adalah selalu berhati-hati dan waspada, apalagi jika terkait data-data sensitif (termasuk password, akses online banking dan lainnya). Kemudian, sadarilah, tak ada sistem yang 100 % aman dan lakukan langkah yang perlu untuk mengantisipasi 'bencana'.
Ah.. sudah cukup. Mari kita format ulang semua asumsi pertunjukan keamanan yang tak enak ditonton itu. Mari kita kembali ke nol kilobyte.
Catatan Nol Kilobyte adalah opini dari Wicak Hidayat, Managing Editor / Redaktur Pelaksana detikINET.com. Opini ini merupakan pendapatnya pribadi dan tidak mencerminkan pendapat institusi tempatnya bekerja.
( wsh / wsh )
Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Tapi anehnya, kita tetap melotot memandangi drama ini berjalan di depan mata. Pecahan kaca, runtuhan tembok, serpihan kayu dan logam. Tubuh manusia. Darah. Darah. Darah.
Randall Munroe, pembuat komik xkcd.com, menyebutnya sebagai disaster voyeurism. Betapa manusia diam-diam tertarik menyaksikan sebuah bencana.
"Harusnya bom itu meledak saat PRJ," ujar seorang teman, "atau malah waktu pertandingan MU vs Indonesia," tambahnya lagi.
Maaf, ia bukannya tidak sensitif apalagi seorang yang sadis. Teman ini hanya mengungkapkan apa yang mungkin diam-diam ada di benak semua orang: seandainya tragedi ini lebih besar lagi.
Tapi mau sebesar apa lagi? Tragedi yang menghantam dua hotel super mewah (dan super ketat) itu sudah terlalu berlebihan. Satu bom meledak saja sudah terlalu banyak, apalagi kalau sampai mengambil nyawa.
Paling Aman?
Ngomong-ngomong soal dua hotel korban serangan itu. JW Marriot dan Ritz Carlton punya reputasi bukan hanya sebagai dua di antara hotel-hotel paling mewah di Jakarta, tapi juga dua di antara hotel paling aman di Jakarta.
Hal itu bisa dilihat dari pengamanan yang dilakukan keduanya. Mulai dari menempatkan metal detector, menjauhkan jarak lobi hotel dari pinggir jalan hingga menggunakan prosedur pemeriksaan mobil yang terlihat ketat.
Namun buktinya, pelaku bisa masuk ke dalam hotel dan meledakkan bom di dalam lokasi hotel. Bukan dari pinggir jalan, bukan dari jarak jauh, tapi benar-benar di dalam bangunan hotel yang konon paling aman di Jakarta itu.
Bruce Schneier punya istilah untuk prosedur pengamanan yang ternyata tidak aman seperti ini --istilah yang saya adopsi ke dalam judul tulisan ini. Bruce menyebutnya 'security theater'.
"Teater keamanan mencakup semua upaya pengamanan yang dimaksudkan untuk memberikan perasaan peningkatan keamanan padahal tidak atau hanya sedikit memperbaiki pengamanan sesungguhnya" (Wikipedia)
Tapi jangan buru-buru menganggap serangan yang terjadi adalah kesalahan pengamanan kedua hotel itu. Seorang tokoh pernah mengatakan, hanya butuh segelintir orang dengan niat jahat untuk menjalankan aksi terorisme.
Pada Sebuah Komputer
Dalam skala yang jauh lebih 'damai' adalah keamanan di komputer. Pengguna awam seringkali merasa sangat cukup dengan hanya memasang program antivirus.
Program antivirus ini pun kerap muncul bagaikan pertunjukan teater belaka, lengkap dengan pesan-pesan penuh percaya diri seperti: "Komputer Anda 100% Terlindungi!"
Padahal, penggunaan antivirus tak pernah bisa menjamin sebuah komputer aman sepenuhnya. Bahkan, boleh dibilang, tak ada yang bisa menjamin sebuah sistem komputer akan aman seratus persen.
Pengguna komputer boleh-boleh saja merasa aman dan menikmati teater keamanan dari berbagai program pengaman komputer yang dipasangnya. Tapi jangan mencak-mencak pada program itu kalau suatu hari terjadi 'bencana'.
Bukan juga berarti bahwa pengguna harus mencabut seluruh kabel dari komputer dan kembali ke mesin ketik, hanya demi menghindari ancaman keamanan yang ada.
Jika itu yang dilakukan berarti mereka, para pembuat program jahat dan penjahat cyber, telah menang. Dan kita jangan pernah membiarkan mereka menang.
Kunci keamanan komputer adalah selalu berhati-hati dan waspada, apalagi jika terkait data-data sensitif (termasuk password, akses online banking dan lainnya). Kemudian, sadarilah, tak ada sistem yang 100 % aman dan lakukan langkah yang perlu untuk mengantisipasi 'bencana'.
Ah.. sudah cukup. Mari kita format ulang semua asumsi pertunjukan keamanan yang tak enak ditonton itu. Mari kita kembali ke nol kilobyte.
Catatan Nol Kilobyte adalah opini dari Wicak Hidayat, Managing Editor / Redaktur Pelaksana detikINET.com. Opini ini merupakan pendapatnya pribadi dan tidak mencerminkan pendapat institusi tempatnya bekerja.
( wsh / wsh )
Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Baca Juga
Berita Terbaru
Index »
-
Jumat, 25/05/2012 17:21 WIB
Warga Twitter Puji Dedikasi 'Satpam Digital'
-
Jumat, 25/05/2012 16:45 WIB
Tweet Satpam IPB Sebelum Ditembak: Hati-hati Curanmor di Kampus
-
Jumat, 25/05/2012 14:57 WIB
Google Didesak Tutup Keran Download Ilegal
-
Jumat, 25/05/2012 13:48 WIB
Napak Tilas Perjalanan Awal Facebook
-
Jumat, 25/05/2012 09:03 WIB
Lucu! Pencuri iPhone Kirim Foto Dirinya ke Facebook Korban
-
Jumat, 25/05/2012 08:51 WIB
BMW Punya 10 Juta Fans di Facebook
-
Jumat, 25/05/2012 08:28 WIB
Facebook Tak Berdaya Lawan Faceporn
-
Kamis, 24/05/2012 21:06 WIB
Yahoo Axis, Ketika Browser & Mesin Pencari Bergabung
- Jumat, 25/05/2012 18:23 WIB
Laporan dari Seoul
'Kulkas Pintar', Cek Stok Makanan dari Smartphone
- Jumat, 25/05/2012 16:07 WIB
6 Ponsel Nokia Terpopuler
- Jumat, 25/05/2012 17:21 WIB
Warga Twitter Puji Dedikasi 'Satpam Digital'
- Jumat, 25/05/2012 16:45 WIB
Tweet Satpam IPB Sebelum Ditembak: Hati-hati Curanmor di Kampus
- Jumat, 25/05/2012 15:50 WIB
Ini Dia Jadwal Update Android ICS untuk Ponsel HTC
- Jumat, 25/05/2012 15:19 WIB
5 Casing iPhone yang Punya 'Gigi' Pembuka Botol
- Jumat, 25/05/2012 14:57 WIB
Google Didesak Tutup Keran Download Ilegal
- Jumat, 25/05/2012 16:46 WIB
Pengakses Internet Masih Banyak dari Nokia
- Jumat, 25/05/2012 13:23 WIB
Android Makin Kuasai Dunia
-
198 Komentar
-
83 Komentar
-
75 Komentar
-
63 Komentar
-
63 Komentar
-
62 Komentar
-
54 Komentar
-
53 Komentar
-
48 Komentar
Pro Kontra
Index »
Galaxy S III Smartphone Terbaik Saat Ini?
Pro
Kontra
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer





Sending your message



.jpg)
.gif)
