Berita Utama
-
Kamis, 24/05/2012 15:37 WIB
Negara Mana 'Raja' Internet ASEAN?
-
Kamis, 24/05/2012 12:12 WIB
5 'Nenek Moyang' Smartphone Android
-
Kamis, 24/05/2012 11:43 WIB
Serba 5 di Ultah ke-5 Android
-
Kamis, 24/05/2012 11:15 WIB
Waspadai Email Palsu dari 'Facebook'
-
Kamis, 24/05/2012 10:31 WIB
27 Ribu Karyawan HP akan Di-PHK
-
Rabu, 23/05/2012 15:50 WIB
13 Model BlackBerry dari Masa ke Masa
-
Rabu, 23/05/2012 15:28 WIB
Perang Ponsel Premium di Indonesia
-
Rabu, 23/05/2012 13:19 WIB
Galaxy S III Dibanderol Rp 6,9 Juta di Indonesia?
-
Rabu, 23/05/2012 13:07 WIB
7 Pilihan Game untuk Ponsel Low End
Tarif Turun, Seluler Bisa Bunuh FWA
Rabu, 29/04/2009 17:15 WIB

ilustrasi (ist)
Jakarta - Di satu pihak, penurunan tarif bisa sangat menguntungkan pelanggan--meski kualitas juga kena imbas ikut turun. Namun, di lain pihak, penurunan tarif yang tanpa batas juga bisa membuat telepon fixed wireless access (FWA) bisa mati terbunuh seluler.
Hal ini dikhawatirkan Ketua Komite Tetap Bidang Telekomunikasi Johnny Swandi Sjam. Menurutnya, sebagai pemegang lisensi yang berbeda, seluler dan FWA tentunya memiliki hak dan kewajiban yang tidak sama.
"Namun, realita memaksa keduanya harus bersaing memperebutkan segmen pasar yang sama. Kondisi seperti ini tidak menguntungkan kedua belah pihak," keluhnya dalam acara 'Evaluasi Satu Tahun Beleid Penurunan Tarif' di Hotel Sahid Jaya, Jakarta, Rabu (29/4/2009).
Dijelaskannya, tarif seluler yang mengalami penurunan sangat tajam membuat diferensiasi dengan FWA menjadi berbeda tipis. Jika dibiarkan terus menerus ini bisa menekan pemain FWA karena seluler lebih unggul di bidang infrastruktur .
Menurut Pengamat Telematika Miftadi Sudjai, kalah bersaingnya FWA bukan karena penambahan kanal yang belum jelas dari regulator. Tetapi FWA sebenarnya adalah teknologi seluler yang dikerdili oleh regulasi, terutama dari sisi mobilitas.
"Hal yang lumrah penurunan tarif akan membuat pelanggan beralih ke seluler karena sifatnya nasional. Sebenarnya memisahkan teknologi dengan lisensi ini sudah tidak relevan karena industri menuju era fixed mobile convergence," jelasnya.
Berikutnya Johnny memaparkan, secara bisnis rate of return dari operator mulai tertekan akibat biaya akuisisi pelanggan meningkat. Hal ini akan memicu adanya operator yang berguguran akibat tidak mampu memenuhi skala ekonomis.
"Memang ada kenaikan trafik, tetapi tarif kan turun. Jadinya kemampuan meningkatkan kapasitas dan coverage mulai berkurang. Hal ini berbeda dengan sebelum beleid dikeluarkan dimana rate of return masih wajar sehingga operator bisa berkespansi," jelasnya lagi.
Fakta lain yang dipaparkan Johnny adalah perang harga di pasar memicu pemborosan blok nomor oleh operator sehingga tingkat pindah layanan semakin tinggi. "Jika dibiarkan blok nomor bisa habis mengingat ini adalah sumber daya alam terbatas," katanya.
( rou / faw )
Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Hal ini dikhawatirkan Ketua Komite Tetap Bidang Telekomunikasi Johnny Swandi Sjam. Menurutnya, sebagai pemegang lisensi yang berbeda, seluler dan FWA tentunya memiliki hak dan kewajiban yang tidak sama.
"Namun, realita memaksa keduanya harus bersaing memperebutkan segmen pasar yang sama. Kondisi seperti ini tidak menguntungkan kedua belah pihak," keluhnya dalam acara 'Evaluasi Satu Tahun Beleid Penurunan Tarif' di Hotel Sahid Jaya, Jakarta, Rabu (29/4/2009).
Dijelaskannya, tarif seluler yang mengalami penurunan sangat tajam membuat diferensiasi dengan FWA menjadi berbeda tipis. Jika dibiarkan terus menerus ini bisa menekan pemain FWA karena seluler lebih unggul di bidang infrastruktur .
Menurut Pengamat Telematika Miftadi Sudjai, kalah bersaingnya FWA bukan karena penambahan kanal yang belum jelas dari regulator. Tetapi FWA sebenarnya adalah teknologi seluler yang dikerdili oleh regulasi, terutama dari sisi mobilitas.
"Hal yang lumrah penurunan tarif akan membuat pelanggan beralih ke seluler karena sifatnya nasional. Sebenarnya memisahkan teknologi dengan lisensi ini sudah tidak relevan karena industri menuju era fixed mobile convergence," jelasnya.
Berikutnya Johnny memaparkan, secara bisnis rate of return dari operator mulai tertekan akibat biaya akuisisi pelanggan meningkat. Hal ini akan memicu adanya operator yang berguguran akibat tidak mampu memenuhi skala ekonomis.
"Memang ada kenaikan trafik, tetapi tarif kan turun. Jadinya kemampuan meningkatkan kapasitas dan coverage mulai berkurang. Hal ini berbeda dengan sebelum beleid dikeluarkan dimana rate of return masih wajar sehingga operator bisa berkespansi," jelasnya lagi.
Fakta lain yang dipaparkan Johnny adalah perang harga di pasar memicu pemborosan blok nomor oleh operator sehingga tingkat pindah layanan semakin tinggi. "Jika dibiarkan blok nomor bisa habis mengingat ini adalah sumber daya alam terbatas," katanya.
( rou / faw )
Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Baca Juga
Berita Terbaru
Index »
-
Rabu, 23/05/2012 18:58 WIB
Indosat Siap Luncurkan Mobile Cloud
-
Rabu, 23/05/2012 12:38 WIB
Telkom Kembangkan e-Gov Berbasis Cloud
-
Rabu, 23/05/2012 11:12 WIB
Tender 3G Bisa Kembali Diundur Agar Tak Cacat Hukum
-
Senin, 21/05/2012 09:59 WIB
Kolom Telematika
Fenomena Social Networking
-
Senin, 21/05/2012 09:10 WIB
Lippo Luncurkan Satelit
-
Sabtu, 19/05/2012 14:26 WIB
Zuck Lebih Kaya dari Duo Pendiri Google
-
Sabtu, 19/05/2012 13:27 WIB
Duh, Angkasa Pura I Belum Miliki Izin Stasiun Radio
-
Sabtu, 19/05/2012 10:29 WIB
Musibah Sukhoi
Kominfo Enggan Berspekulasi Soal Interferensi Frekuensi
- Jumat, 25/05/2012 13:23 WIB
Android Makin Kuasai Dunia
- Jumat, 25/05/2012 10:51 WIB
Nasib BlackBerry Messenger Suram?
- Jumat, 25/05/2012 10:19 WIB
Tips Mengubah Kontak di BlackBerry Menjadi Excel
- Jumat, 25/05/2012 11:40 WIB
RIM Bantah Abaikan BlackBerry Messenger
- Jumat, 25/05/2012 11:19 WIB
Sosok
I Made Wiryana, Anak Band yang Jadi 'Cyber Paspampres'
- Jumat, 25/05/2012 12:52 WIB
Hands On
Mencicipi Facebook Camera: Instagram ala Facebook
- Jumat, 25/05/2012 10:09 WIB
Berbahaya, Yahoo Axis Ditutup untuk Chrome
- Jumat, 25/05/2012 14:05 WIB
Google Bongkar Pembajakan Microsoft
- Jumat, 25/05/2012 09:03 WIB
Lucu! Pencuri iPhone Kirim Foto Dirinya ke Facebook Korban
-
193 Komentar
-
83 Komentar
-
75 Komentar
-
63 Komentar
-
62 Komentar
-
54 Komentar
-
53 Komentar
-
48 Komentar
-
45 Komentar
Pro Kontra
Index »
Galaxy S III Smartphone Terbaik Saat Ini?
Pro
Kontra
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer





Sending your message



.jpg)
