detikinet
 
 

Tarif Turun, Seluler Bisa Bunuh FWA

Achmad Rouzni Noor II - detikinet
Rabu, 29/04/2009 17:15 WIB

ilustrasi (ist)

Jakarta - Di satu pihak, penurunan tarif bisa sangat menguntungkan pelanggan--meski kualitas juga kena imbas ikut turun. Namun, di lain pihak, penurunan tarif yang tanpa batas juga bisa membuat telepon fixed wireless access (FWA) bisa mati terbunuh seluler.

Hal ini dikhawatirkan Ketua Komite Tetap Bidang Telekomunikasi Johnny Swandi Sjam. Menurutnya, sebagai pemegang lisensi yang berbeda, seluler dan FWA tentunya memiliki hak dan kewajiban yang tidak sama.

"Namun, realita memaksa keduanya harus bersaing memperebutkan segmen pasar yang sama. Kondisi seperti ini tidak menguntungkan kedua belah pihak," keluhnya dalam acara 'Evaluasi Satu Tahun Beleid Penurunan Tarif' di Hotel Sahid Jaya, Jakarta, Rabu (29/4/2009).

Dijelaskannya, tarif seluler yang mengalami penurunan sangat tajam membuat diferensiasi dengan FWA menjadi berbeda tipis. Jika dibiarkan terus menerus ini bisa menekan pemain FWA karena seluler lebih unggul di bidang infrastruktur .

Menurut Pengamat Telematika Miftadi Sudjai, kalah bersaingnya FWA bukan karena penambahan kanal yang belum jelas dari regulator. Tetapi FWA sebenarnya adalah teknologi seluler yang dikerdili oleh regulasi, terutama dari sisi mobilitas.

"Hal yang lumrah penurunan tarif akan membuat pelanggan beralih ke seluler karena sifatnya nasional. Sebenarnya memisahkan teknologi dengan lisensi ini sudah tidak relevan karena industri menuju era fixed mobile convergence," jelasnya.

Berikutnya Johnny memaparkan, secara bisnis rate of return dari operator mulai tertekan akibat biaya akuisisi pelanggan meningkat. Hal ini akan memicu adanya operator yang berguguran akibat tidak mampu memenuhi skala ekonomis.

"Memang ada kenaikan trafik, tetapi tarif kan turun. Jadinya kemampuan meningkatkan kapasitas dan coverage mulai berkurang. Hal ini berbeda dengan sebelum beleid dikeluarkan dimana rate of return masih wajar sehingga operator bisa berkespansi," jelasnya lagi.

Fakta lain yang dipaparkan Johnny adalah perang harga di pasar memicu pemborosan blok nomor oleh operator sehingga tingkat pindah layanan semakin tinggi. "Jika dibiarkan blok nomor bisa habis mengingat ini adalah sumber daya alam terbatas," katanya.


( rou / faw )

Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Share:

Komentar (0 Komentar)


    Klik disini untuk berkomentar menggunakan account anda :

    Facebook Login Twitter Login detikID Login


    Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
    Informasi pemasangan iklan
    hubungi : sales[at]detik.com
    Berita Terbaru Index »
    Pro Kontra Index »

    Galaxy S III Smartphone Terbaik Saat Ini?

    Performa Galaxy S III terbilang menjanjikan. Ia mengusung quadcore, layar Gorilla Glass 2, serta fitur melimpah. Tak pelak, Samsung mengklaim Galaxy S III sebagai smartphone terbaik saat ini. Anda setuju?
    Pro
    50%
    Kontra
    50%