detikinet

Meski Krisis, Sektor Telekomunikasi di Indonesia Masih Cerah

Wicak Hidayat - detikinet
Jumat, 27/02/2009 17:00 WIB

ilustrasi (sxc.hu)

Jakarta - Krisis global yang melanda dunia diprediksi tak banyak berpengaruh pada sektor telekomunikasi. Indonesia diprediksi akan mengalami pertumbuhan dua digit.

Demikian prediksi lembaga riset IDC dalam keterangan tertulis yang diterima detikINET, Jumat (27/2/2009). Pasar telekomunikasi Asia Tenggara diprediksi akan tetap tegar.

Vietnam dan Indonesia secara khusus disebut akan mengalami pertumbuhan dua digit. "Indonesia, meski masih pada tahap awal pembangunan infrastruktur dan pengembangan jangkauan layanan di area penting, akan tetap mendominasi pasar telekomunikasi Asia Tenggara dalam hal kontribusi pendapatan di 2009," tutur Ashadi Cahyadi, Senior Analyst Communication Research IDC Indonesia.

Berikut adalah ringkasan 10 prediksi IDC terhadap pasar telekomunikasi di Asia Tenggara:

1. Tetap Tegar di 2009

IDC memproyeksikan pendapatan gabungan pasar layanan telekomunikasi di Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura dan Thailand akan mencapai USD 35,7 miliar di 2009. Ini menunjukkan peningkatan 10 persen dari 2008.

2. Ubah Strategi

Krisis global bukan tak berpengaruh pada pasar telekomunikasi. IDC memperkirakan pemain telekomunikasi akan melakukan perubahan strategi pemasaran dan fokus produk mereka.

3. Fokus pada Usaha Kecil dan Menengah

Sedangkan operator besar yang sudah menguasai pasar diperkirakan akan makin tertarik untuk menggarap pasar perusahaan kecil dan menengah. Karena pulihnya ekonomi biasanya diawali oleh sektor ini, 2009 menjadi tahun yang tepat untuk investasi di pasar UKM.

4. Alternatif Hemat Biaya

Dengan anggaran yang makin ketat, IDC memperkirakan pengguna akan selalu mencari layanan dan perangkat telekomunikasi alternatif. Pilihannya mulai dari memilih layanan yang lebih baik hingga memilih produk yang makin praktis.

5. Pasar Internet dan Notebook Mini

Pasar broadband diperkirakan akan mendapatkan keuntungan dari maraknya notebook mini. Rekanan antara produsen notebook dengan operator telekomunikasi diperkirakan akan marak, terutama di Indonesia, Filipina dan Thailand.

6. Broadband Nirkabel Mengaum

Broadband nirkabel diprediksi bakal jadi salah satu area yang tahan menghadapi kondisi ekonomi di 2009. Teknologi seperti 3.5 G, Wimax dan lainnya diperkirakan akan tetap menjaga kesegaran sektor ini.

7. Wimax dan 3G Jalan Terus

IDC yakin pasar telekomunikasi di Asia Tenggara akan terus menunjukkan investasi di teknologi 3G, 3.5G dan Wimax. Penyedia layanan telekomunikasi besar diperkirakan akan sanggup melakukan investasi teknologi.

8. Pengawasan Berbasis IP

Faktor seperti kebutuhan akan keamanan dan penghematan biaya akan mendorong perusahaan besar dan lembaga-lembaga untuk mengadopsi pengawasan berbasis Internet Protocols (IP Surveillance). IDC yakin peluang dan minat di bidang ini akan hadir pada 2009.

9. Kesempatan Kedua untuk Internet Datacenter

Ekonomi yang makin ketat dibarengi isu-isu lain membuat perusahaan besar kembali melirik teknologi datacenter berbasis internet. Pilihan managed services untuk datacenter diyakini akan dilirik banyak pihak.

10. Femtocell Selamatkan Operator Besar?

Femtocell diprediksi jadi 'kata kunci yang panas' untuk 2009. Meski ada keterbatasan, teknologi ini diyakini bisa membantu mengatasi masalah seperti penurunan Average Revenue per User (ARPU).


( wsh / ash )

Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Share:

Komentar (0 Komentar)


    Klik disini untuk berkomentar menggunakan account anda :

    Facebook Login Twitter Login detikID Login


    Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
    Informasi pemasangan iklan
    hubungi : sales[at]detik.com
    Berita Terbaru Index »
    Pro Kontra Index »

    Galaxy S III Smartphone Terbaik Saat Ini?

    Performa Galaxy S III terbilang menjanjikan. Ia mengusung quadcore, layar Gorilla Glass 2, serta fitur melimpah. Tak pelak, Samsung mengklaim Galaxy S III sebagai smartphone terbaik saat ini. Anda setuju?
    Pro
    51%
    Kontra
    49%