detikinet

Tantangan Menuju Konvergensi Multimedia

Devi Suzanti - detikinet
Selasa, 09/12/2008 16:35 WIB

Suasana diskusi (dev/inet)

Jakarta - Internet dan telepon seluler dinilai punya peranan penting sebagai medium untuk konvergensi multimedia saat ini. Namun masalahnya, apakah Indonesia sudah sepenuhnya siap menjawab tantangan ini?

Hal ini mengemuka dalam diskusi terbatas bertajuk 'Konvergensi Media: Peluang dan Tantangan New Media di Indonesia', di restoran Harum Manis, Jakarta, Selasa (9/12/2008).

Ketua Komite Tetap Bidang Telekomunikasi Kadin Indonesia, Anindya Bakrie berpendapat, perusahaan media konvensional harus segera berkemas untuk konsolidasi bisnis, mengantisipasi penetrasi Internet dan telepon seluler, jika tidak ingin bisnisnya tergerus zaman.

"Konvergensi media menjadi tantangan baru. Sebab, ada potensi besar yang belum digarap serius, yaitu: televisi, komputer, dan ponsel," ujar pria yang juga menjabat sebagai Dirut Bakrie Telecom itu.

Peluang memang besar, namun kendala juga tak luput untuk dihindari. Penetrasi internet, misalnya. Menurut praktisi media, Ninok Leksono, tumbuhnya media baru tak luput dari kendala penetrasi internet yang masih rendah dan tarif internet yang masih mahal.

Ninok memperkirakan penetrasi internet di Indonesia cuma berkisar 12% dari total populasi penduduk. "Selain itu, tarif bandwidth internet di Indonesia masih terasa mahal. Tarif bandwidth internet di Indonesia masih empat kali lebih mahal daripada di India," ujarnya.

Selain lebih mahal, tingkat kehandalan jaringan internet di Indonesia juga dinilai belum memadai. Kesulitan mengakses internet sempat dikeluhkan Sutikno Teguh, praktisi dan pengamat telekomunikasi yang sehari-hari berdomisili di Bandung.

"Padahal saya menggunakan akses internet milik operator besar. Sayang sekali, IndosatM2 dan TelkomselFlash mulai butut karena rebutan konsumen tanpa memerhatikan kualitas," keluhnya.

Sutikno menilai, operator penyedia jaringan telekomunikasi dan internet kurang mengantisipasi keluhan pelanggan jika layanan sedang bermasalah. Bahkan penanganan komplain pelanggan pun bisa dibilang jauh dari memuaskan. Sebaliknya, operator bisa tak segan-segan memberi sanksi jika pelanggan telat membayar tagihan.

"BRTI [Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia] seharusnya bertanggungjawab akan masalah yang kerap merugikan konsumen seperti ini. Namun sayangnya, mereka terkesan membiarkan saja," pungkasnya mengakhiri.




( rou / ash )

Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Share:

Komentar (0 Komentar)


    Klik disini untuk berkomentar menggunakan account anda :

    Facebook Login Twitter Login detikID Login


    Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
    Informasi pemasangan iklan
    hubungi : sales[at]detik.com
    Pro Kontra Index »

    Galaxy S III Smartphone Terbaik Saat Ini?

    Performa Galaxy S III terbilang menjanjikan. Ia mengusung quadcore, layar Gorilla Glass 2, serta fitur melimpah. Tak pelak, Samsung mengklaim Galaxy S III sebagai smartphone terbaik saat ini. Anda setuju?
    Pro
    50%
    Kontra
    50%