Berita Utama
-
Jumat, 25/05/2012 11:19 WIB
I Made Wiryana, Anak Band yang Jadi 'Cyber Paspampres'
-
Jumat, 25/05/2012 12:52 WIB
Mencicipi Facebook Camera: Instagram ala Facebook
-
Jumat, 25/05/2012 10:19 WIB
Tips Mengubah Kontak di BlackBerry Menjadi Excel
-
Kamis, 24/05/2012 15:37 WIB
Negara Mana 'Raja' Internet ASEAN?
-
Kamis, 24/05/2012 12:12 WIB
5 'Nenek Moyang' Smartphone Android
-
Kamis, 24/05/2012 11:43 WIB
Serba 5 di Ultah ke-5 Android
-
Kamis, 24/05/2012 11:15 WIB
Waspadai Email Palsu dari 'Facebook'
-
Kamis, 24/05/2012 10:31 WIB
27 Ribu Karyawan HP akan Di-PHK
-
Rabu, 23/05/2012 15:50 WIB
13 Model BlackBerry dari Masa ke Masa
Kolom Telematika
Mendewasakan Industri Telekomunikasi
Senin, 01/12/2008 11:35 WIB

Ventura (dok. pribadi)
Jakarta - Bersaing, bagi pelaku industri adalah hal yang wajar. Karena sejatinya semua pelaku industri butuh pesaing (lawan) yang bisa dijadikan pendorong untuk memberikan yang terbaik bagi konsumennya. Itu semua akan terjadi bila pelaku industri telah dewasa, sehingga persaingan yang muncul pun persaingan yang sehat.
Tapi rupanya persaingan yang sehat belum nampak di industri telekomunikasi seluler. Mau bukti? Baca saja ini. Perselisihan 2 operator selular besar (Telkomsel dan XL ) minggu lalu – yang dipicu oleh pembakaran materi promosi Telkomsel di daerah Sumatera Utara -- seakan menyadarkan semua pihak bahwa kompetisi di industri telekomunikasi sudah tidak sehat. Bahkan Dirjen Postel Basuki Yusuf Iskandar pun langsung bereaksi dan mengundang pimpinan kedua operator tersebut, untuk menjernihkan masalah yang cukup mencoreng citra industri ini.
Mencuatnya praktek liar yang dilakukan provider telekomunikasi juga menggambarkan betapa ketatnya persaingan di industri ini. Perilaku tak elok, tak cuma nampak dari area above the line atau perang iklan yang kerap bernuansa “saling menyudutkan” layanan pesaingnya. “Adu otot” sesungguhnya jauh lebih seru di level below the line melalui pencopotan atribut promosi pesaing, dan sebagainya.
Di industri telekomunikasi, praktek-praktek “liar” semacam itu sebenarnya bukanlah hal baru, bahkan sudah terjadi sejak awal 2000-an. Semisal, saat sebuah operator akan meluncurkan layanannya di suatu daerah baru, ia harus bersiap dan waspada menjaga materi promosinya agar tidak dilucuti oleh operator yang sudah terlbiha dulu eksis di wilayah tersebut. Perselisihan pun makin seru di level distributor dan agen penjualan di lapangan.
Aksi jegal menjegal seperti itu, sebetulnya juga terjadi di sejumlah industri lain. Di industri pers, misalnya, ketika booming di bisnis penerbitan yang didukung konglomerasi pun tak kalah hebohnya. Agen koran bisa saja di”bayar” agar tidak mengedarkan koran pesaing. Atau ada pihak yang sengaja memborong koran milik pesaing, agar tidak sampai ke tangan pembaca, dan masih banyak lagi praktek-praktek liar di lapangan yang terjadi.
Yang juga tak kalah maraknya adalah perang promosi partai. Misalnya, pagi hari, atribut partai A dicopot, siangnya spanduk partai B dilucuti, malamnya poster partai C yang jadi korban. Begitulah pemandangan yang jamak terjadi. Mungkin saja itu memang ada “arahan” dari partai yang bersangkutan, tapi yang lebih sering itu terjadi karena semangat anggota maupun simpatisan partai tersebut. Apalagi, kini dengan 34 partai yang berebut pemilih, sangat memungkinkan terjadinya gesekan di level lapangan seperti yang sudah kerap terjadi selama ini.
Perlu kedewasaan semua pihak
Saat ini industri telekomunikasi selular di Indonesia telah memasuki dekade ke 2. Dari sisi sosial ekonomi, efek pembiakan (multiplier effect) yang ditimbulkan oleh industri ini, sangatlah luar biasa. Kehadiran bisnis telekomunikasi bergerak ini telah menghadirkan lini usaha baru di sektor konten. Belum lagi usaha kecil yang bisa menggerakkan perekonomian rakyat, seperti agen penjual pulsa, ring tone, asesori hape, sampai hape bekas yang tersebar sampai pelosok.
Dari besaran, industri ini telah mampu meraih sekitar 120 juta pelanggan, sementara dari sisi omzet hingga akhir 2008 ini total diperkirakan akan mencapai Rp 70 triliun. Industri ini telah tumbuh secara pesat, berada di jajaran industri papan atas di Indonesia, dan menjadi salah satu industri strategis negara. Geliatnya, tak cuma menarik bagi investor asing untuk masuk, tapi juga pelbagai pihak untuk sekedar mengais peluang bisnis dari sini. Katakanlah, para ibu-ibu rumah tangga yang terpikat untuk jualan pulsa isi ulang untuk sekedar menambah pendapatan rumah tangganya.
Melihat ke dua sisi di atas, rasanya sangat disayangkan jika ke depan, perkembangan (juga persaingannya) di kancah ini diwarnai dengan hal-hal yang kekanak-kanakan seperti yang sudah terjadi. “Kok niru artis-artis saja yang kerap bertikai melalui media.” begitu komentar sejumlah pihak.
Yang juga perlu disadari adalah bahwa industri ini cukup istimewa, dimana unsur kolaboratifnya sangat besar. Sudah tidak ada monopoli, yang terjadi justru kolaborasi, yang mestinya bisa saling menguntungkan. Contohnya, ketika pelanggan operator X menghubungi pelanggan operator Y, keduanya mendapatkan manfaat bisnis.
Dengan pola bisnis semacam ini, sebenarnya banyak persoalan yang bisa disikapi secara dewasa oleh para pelakunya. Karena selama ini mereka juga kerap berkolaborasi dalam perumusan pelbagai kebijakan di industri telekomunikasi. Ada pula organisasi pemersatu seperti ATSI – Asosiasi Telekomunikasi Selular Indonesia, yang semestinya bisa menjadi forum untuk menyelesaikan masalah-masalah tehnis - operasional seperti yang selama ini sudah terjadi, termasuk soal-soal marketing dan sales.
Pertanyaannya, sejauh mana para pelaku di industri ini mau dan mampu menyikapi pertumbuhannya secara lebih dewasa. Baik ketika melahirkan program baru, dan mengkomunikasikannya. Juga saat harus “mendidik” para pelaku bisnis terkait (seperti Content Provider, distributor, agen penjualan, bahkan para vendor pembangunan jaringan), untuk mulai berinteraksi secara dewasa dengan stakeholder-nya.
Nampaknya kunci pendewasaan industri ini tak cukup jika yang memegang cuma para pelaku. Dibutuhkan juru kunci lain yaitu regulator yang mampu melihat arah industri ini ke depan, sehingga bisa melahirkan kebijakan-kebijakan yang antisipasif, yang tak sekedar reaktif..
*) Penulis, Ventura Elisawati, adalah blogger sekaligus pemerhati telematika di Indonesia. Dapat dihubungi melalui e-mail akoe[at]vlisa.com atau melalui blog-nya di http://www.vlisa.com.
( wsh / wsh )
Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Tapi rupanya persaingan yang sehat belum nampak di industri telekomunikasi seluler. Mau bukti? Baca saja ini. Perselisihan 2 operator selular besar (Telkomsel dan XL ) minggu lalu – yang dipicu oleh pembakaran materi promosi Telkomsel di daerah Sumatera Utara -- seakan menyadarkan semua pihak bahwa kompetisi di industri telekomunikasi sudah tidak sehat. Bahkan Dirjen Postel Basuki Yusuf Iskandar pun langsung bereaksi dan mengundang pimpinan kedua operator tersebut, untuk menjernihkan masalah yang cukup mencoreng citra industri ini.
Mencuatnya praktek liar yang dilakukan provider telekomunikasi juga menggambarkan betapa ketatnya persaingan di industri ini. Perilaku tak elok, tak cuma nampak dari area above the line atau perang iklan yang kerap bernuansa “saling menyudutkan” layanan pesaingnya. “Adu otot” sesungguhnya jauh lebih seru di level below the line melalui pencopotan atribut promosi pesaing, dan sebagainya.
Di industri telekomunikasi, praktek-praktek “liar” semacam itu sebenarnya bukanlah hal baru, bahkan sudah terjadi sejak awal 2000-an. Semisal, saat sebuah operator akan meluncurkan layanannya di suatu daerah baru, ia harus bersiap dan waspada menjaga materi promosinya agar tidak dilucuti oleh operator yang sudah terlbiha dulu eksis di wilayah tersebut. Perselisihan pun makin seru di level distributor dan agen penjualan di lapangan.
Aksi jegal menjegal seperti itu, sebetulnya juga terjadi di sejumlah industri lain. Di industri pers, misalnya, ketika booming di bisnis penerbitan yang didukung konglomerasi pun tak kalah hebohnya. Agen koran bisa saja di”bayar” agar tidak mengedarkan koran pesaing. Atau ada pihak yang sengaja memborong koran milik pesaing, agar tidak sampai ke tangan pembaca, dan masih banyak lagi praktek-praktek liar di lapangan yang terjadi.
Yang juga tak kalah maraknya adalah perang promosi partai. Misalnya, pagi hari, atribut partai A dicopot, siangnya spanduk partai B dilucuti, malamnya poster partai C yang jadi korban. Begitulah pemandangan yang jamak terjadi. Mungkin saja itu memang ada “arahan” dari partai yang bersangkutan, tapi yang lebih sering itu terjadi karena semangat anggota maupun simpatisan partai tersebut. Apalagi, kini dengan 34 partai yang berebut pemilih, sangat memungkinkan terjadinya gesekan di level lapangan seperti yang sudah kerap terjadi selama ini.
Perlu kedewasaan semua pihak
Saat ini industri telekomunikasi selular di Indonesia telah memasuki dekade ke 2. Dari sisi sosial ekonomi, efek pembiakan (multiplier effect) yang ditimbulkan oleh industri ini, sangatlah luar biasa. Kehadiran bisnis telekomunikasi bergerak ini telah menghadirkan lini usaha baru di sektor konten. Belum lagi usaha kecil yang bisa menggerakkan perekonomian rakyat, seperti agen penjual pulsa, ring tone, asesori hape, sampai hape bekas yang tersebar sampai pelosok.
Dari besaran, industri ini telah mampu meraih sekitar 120 juta pelanggan, sementara dari sisi omzet hingga akhir 2008 ini total diperkirakan akan mencapai Rp 70 triliun. Industri ini telah tumbuh secara pesat, berada di jajaran industri papan atas di Indonesia, dan menjadi salah satu industri strategis negara. Geliatnya, tak cuma menarik bagi investor asing untuk masuk, tapi juga pelbagai pihak untuk sekedar mengais peluang bisnis dari sini. Katakanlah, para ibu-ibu rumah tangga yang terpikat untuk jualan pulsa isi ulang untuk sekedar menambah pendapatan rumah tangganya.
Melihat ke dua sisi di atas, rasanya sangat disayangkan jika ke depan, perkembangan (juga persaingannya) di kancah ini diwarnai dengan hal-hal yang kekanak-kanakan seperti yang sudah terjadi. “Kok niru artis-artis saja yang kerap bertikai melalui media.” begitu komentar sejumlah pihak.
Yang juga perlu disadari adalah bahwa industri ini cukup istimewa, dimana unsur kolaboratifnya sangat besar. Sudah tidak ada monopoli, yang terjadi justru kolaborasi, yang mestinya bisa saling menguntungkan. Contohnya, ketika pelanggan operator X menghubungi pelanggan operator Y, keduanya mendapatkan manfaat bisnis.
Dengan pola bisnis semacam ini, sebenarnya banyak persoalan yang bisa disikapi secara dewasa oleh para pelakunya. Karena selama ini mereka juga kerap berkolaborasi dalam perumusan pelbagai kebijakan di industri telekomunikasi. Ada pula organisasi pemersatu seperti ATSI – Asosiasi Telekomunikasi Selular Indonesia, yang semestinya bisa menjadi forum untuk menyelesaikan masalah-masalah tehnis - operasional seperti yang selama ini sudah terjadi, termasuk soal-soal marketing dan sales.
Pertanyaannya, sejauh mana para pelaku di industri ini mau dan mampu menyikapi pertumbuhannya secara lebih dewasa. Baik ketika melahirkan program baru, dan mengkomunikasikannya. Juga saat harus “mendidik” para pelaku bisnis terkait (seperti Content Provider, distributor, agen penjualan, bahkan para vendor pembangunan jaringan), untuk mulai berinteraksi secara dewasa dengan stakeholder-nya.
Nampaknya kunci pendewasaan industri ini tak cukup jika yang memegang cuma para pelaku. Dibutuhkan juru kunci lain yaitu regulator yang mampu melihat arah industri ini ke depan, sehingga bisa melahirkan kebijakan-kebijakan yang antisipasif, yang tak sekedar reaktif..
*) Penulis, Ventura Elisawati, adalah blogger sekaligus pemerhati telematika di Indonesia. Dapat dihubungi melalui e-mail akoe[at]vlisa.com atau melalui blog-nya di http://www.vlisa.com.
( wsh / wsh )
Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Baca Juga
Berita Terbaru
Index »
-
Rabu, 23/05/2012 18:58 WIB
Indosat Siap Luncurkan Mobile Cloud
-
Rabu, 23/05/2012 12:38 WIB
Telkom Kembangkan e-Gov Berbasis Cloud
-
Rabu, 23/05/2012 11:12 WIB
Tender 3G Bisa Kembali Diundur Agar Tak Cacat Hukum
-
Senin, 21/05/2012 09:59 WIB
Kolom Telematika
Fenomena Social Networking
-
Senin, 21/05/2012 09:10 WIB
Lippo Luncurkan Satelit
-
Sabtu, 19/05/2012 14:26 WIB
Zuck Lebih Kaya dari Duo Pendiri Google
-
Sabtu, 19/05/2012 13:27 WIB
Duh, Angkasa Pura I Belum Miliki Izin Stasiun Radio
-
Sabtu, 19/05/2012 10:29 WIB
Musibah Sukhoi
Kominfo Enggan Berspekulasi Soal Interferensi Frekuensi
- Jumat, 25/05/2012 16:07 WIB
6 Ponsel Nokia Terpopuler
- Jumat, 25/05/2012 15:19 WIB
5 Casing iPhone yang Punya 'Gigi' Pembuka Botol
- Jumat, 25/05/2012 15:50 WIB
Ini Dia Jadwal Update Android ICS untuk Ponsel HTC
- Jumat, 25/05/2012 14:57 WIB
Google Didesak Tutup Keran Download Ilegal
- Jumat, 25/05/2012 16:46 WIB
Pengakses Internet Masih Banyak dari Nokia
- Jumat, 25/05/2012 13:23 WIB
Android Makin Kuasai Dunia
- Jumat, 25/05/2012 14:38 WIB
Pembuat 'Virus Angry Birds' Didenda Rp 724 Juta
- Jumat, 25/05/2012 17:20 WIB
Yahoo Axis Dikomplain Microsoft karena Bikin IE9 Lelet
- Jumat, 25/05/2012 14:16 WIB
Fujifilm Stop Pengapalan Film APS
-
197 Komentar
-
83 Komentar
-
75 Komentar
-
63 Komentar
-
62 Komentar
-
62 Komentar
-
54 Komentar
-
53 Komentar
-
48 Komentar
Pro Kontra
Index »
Galaxy S III Smartphone Terbaik Saat Ini?
Pro
Kontra
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer





Sending your message



.jpg)
