Berita Utama
-
Jumat, 25/05/2012 17:21 WIB
Warga Twitter Puji Dedikasi 'Satpam Digital'
-
Jumat, 25/05/2012 16:07 WIB
6 Ponsel Nokia Terpopuler
-
Jumat, 25/05/2012 15:19 WIB
5 Casing iPhone yang Punya 'Gigi' Pembuka Botol
-
Jumat, 25/05/2012 11:19 WIB
I Made Wiryana, Anak Band yang Jadi 'Cyber Paspampres'
-
Jumat, 25/05/2012 12:52 WIB
Mencicipi Facebook Camera: Instagram ala Facebook
-
Jumat, 25/05/2012 10:19 WIB
Tips Mengubah Kontak di BlackBerry Menjadi Excel
-
Kamis, 24/05/2012 15:37 WIB
Negara Mana 'Raja' Internet ASEAN?
-
Kamis, 24/05/2012 12:12 WIB
5 'Nenek Moyang' Smartphone Android
-
Kamis, 24/05/2012 11:15 WIB
Waspadai Email Palsu dari 'Facebook'
Krisis AS Bakal Goyang Industri TI?
Senin, 06/10/2008 17:25 WIB

ilustrasi (sxc.hu)
Jakarta - Krisis yang menerpa Amerika Serikat sudah pasti akan berpengaruh pada industri teknologi informasi. Seperti apa pengaruhnya? Mungkinkah 'keruntuhan dot com episode dua' akan terjadi?
Tahun 1999-2000 adalah tahun-tahun penuh ketidakpastian bagi industri teknologi. Pada saat itu adalah puncak kejayaan sekaligus awal keruntuhan kekuatan ekonomi baru yang disebut 'dot com bubble'.
Kejatuhan itu menyebabkan pengangguran dan bahkan gulung-tikar-nya beberapa perusahaan. Meski demikian, banyak perusahaan yang tetap bisa bertahan hidup sampai saat ini.
Krisis finansial yang kini melanda Amerika Serikat mau tidak mau membangkitkan lagi kenangan pada 'keruntuhan dot com' tersebut. Akibatnya muncul beberapa spekulasi bahwa dampak krisis itu akan menyebabkan 'keruntuhan dot com episode dua' atau bolehlah disebut 'keruntuhan dot com 2.0'.
Jim Kerstetter dari Cnet, yang dikutip detikINET Senin (6/10/2008), mencoba menguraikan dampak krisis saat ini terhadap industri teknologi. Menurut Jim, krisis finansial ini lambat laun pasti akan berdampak pada industri teknologi informasi. Tapi seberapa jauh?
Kekacauan Finansial
Faktor pertama yang akan menyumbang pada kekacauan di industri TI, tulis Jim, adalah kekacauan finansial. Ini mencakup anjloknya harga properti yang membuat jaminan berupa properti menjadi tidak bernilai, keruntuhan saham di bursa (terutama Wall Street), seretnya keran kredit dari institusi pemberi pinjaman hingga lemahnya aktivitas modal ventura.
Sebagai contoh, seretnya aliran dana kredit perbankan akan membuat perusahaan besar kesulitan mencari dana jika hendak melakukan ekspansi, termasuk ekspansi infrastruktur teknologi mereka. Sulitnya kredit juga akan menghambat perusahaan teknologi pemula (start-up).
Contoh lainnya, aktivitas modal ventura periode ini menurun. Padahal modal ventura adalah salah satu 'mesin penggerak' utama ekonomi di industri TI.
Jim mencatatkan hanya ada 56 transaksi modal ventura terkait teknologi dengan nilai total USD 4,7 miliar pada kuartal kedua 2008. Bandingkan dengan 97 transaksi dengan nilai USD 8,8 miliar di periode yang sama tahun 2007.
Lebih lanjut, papar Jim, sudah bisa dipastikan belanja TI di industri keuangan akan sangat rendah. Teknologi akan memiliki prioritas rendah dalam anggaran perusahaan keuangan.
Tak Ada Jalan Keluar
Banyak perusahaan teknologi pemula yang bisa bertahan --dan pendirinya tak menjadi bangkrut-- dengan mengambil 'jalan keluar'. Biasanya exit strategy ini mencakup merger, akuisisi (oleh perusahaan besar), penawaran saham ke bursa publik alias Initial Public Offerings (IPO) dan Leveraged Buyout.
Akuisisi dan meger di industri teknologi, menurut Jim, hanya mencapai 691 transaksi senilai total USD 37 miliar pada kuartal ketiga 2008. Padahal pada 2007, periode yang sama mencatatkan 822 transaksi dengan nilai total USD 58 miliar.
Artinya? Lebih sedikit perusahaan teknologi yang berminat melakukan merger dan akuisisi. Salah satu sebabnya konon adalah seretnya aliran dana kredit.
Sedangkan IPO juga sedang lesu seiring kondisi lantai bursa yang tak stabil. Bahkan menurut Jim, sejak 'keruntuhan dot com' di 2000, pasar bursa cenderung emoh dengan IPO perusahaan teknologi.
Leveraged Buyout (LBO) adalah pembelian perusahaan yang sedang 'sekarat' untuk kemudian diperbaiki dan dijual lagi dengan harga lebih tinggi. Diperkirakan banyak perusahaan pemain LBO yang memilih untuk berhati-hati dalam kondisi finansial saat ini.
Kesimpulannya
Jim menuliskan, pada akhirnya, industri TI akan mengalami kelesuan. Perusahaan yang memiliki dana segar harus bertindak cerdas dan menjaga aset tersebut. Sedangkan mengandalkan dana dari kredit atau modal ventura akan seperti 'merindukan hujan di padang pasir'.
Meski demikian, industri TI terutama yang berbasis web diyakini tak akan mengalami keambrukan separah 'keruntuhan dot com' di 2000. Alasannya? Kekacauan tidak berasal dari dalam industri TI, tak banyak dana publik di industri TI saat ini dan kebanyakan perusahaan dot com 2.0 hati-hati dalam menggunakan uang mereka.
Di sisi lain, resesi yang kemungkinan terjadi di AS dikhawatirkan akan menyebabkan banyak konsolidasi. Kelesuan pun diyakini tak bisa dihindari dan mungkin bisa berlangsung cukup lama.
( wsh / ash )
Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Tahun 1999-2000 adalah tahun-tahun penuh ketidakpastian bagi industri teknologi. Pada saat itu adalah puncak kejayaan sekaligus awal keruntuhan kekuatan ekonomi baru yang disebut 'dot com bubble'.
Kejatuhan itu menyebabkan pengangguran dan bahkan gulung-tikar-nya beberapa perusahaan. Meski demikian, banyak perusahaan yang tetap bisa bertahan hidup sampai saat ini.
Krisis finansial yang kini melanda Amerika Serikat mau tidak mau membangkitkan lagi kenangan pada 'keruntuhan dot com' tersebut. Akibatnya muncul beberapa spekulasi bahwa dampak krisis itu akan menyebabkan 'keruntuhan dot com episode dua' atau bolehlah disebut 'keruntuhan dot com 2.0'.
Jim Kerstetter dari Cnet, yang dikutip detikINET Senin (6/10/2008), mencoba menguraikan dampak krisis saat ini terhadap industri teknologi. Menurut Jim, krisis finansial ini lambat laun pasti akan berdampak pada industri teknologi informasi. Tapi seberapa jauh?
Kekacauan Finansial
Faktor pertama yang akan menyumbang pada kekacauan di industri TI, tulis Jim, adalah kekacauan finansial. Ini mencakup anjloknya harga properti yang membuat jaminan berupa properti menjadi tidak bernilai, keruntuhan saham di bursa (terutama Wall Street), seretnya keran kredit dari institusi pemberi pinjaman hingga lemahnya aktivitas modal ventura.
Sebagai contoh, seretnya aliran dana kredit perbankan akan membuat perusahaan besar kesulitan mencari dana jika hendak melakukan ekspansi, termasuk ekspansi infrastruktur teknologi mereka. Sulitnya kredit juga akan menghambat perusahaan teknologi pemula (start-up).
Contoh lainnya, aktivitas modal ventura periode ini menurun. Padahal modal ventura adalah salah satu 'mesin penggerak' utama ekonomi di industri TI.
Jim mencatatkan hanya ada 56 transaksi modal ventura terkait teknologi dengan nilai total USD 4,7 miliar pada kuartal kedua 2008. Bandingkan dengan 97 transaksi dengan nilai USD 8,8 miliar di periode yang sama tahun 2007.
Lebih lanjut, papar Jim, sudah bisa dipastikan belanja TI di industri keuangan akan sangat rendah. Teknologi akan memiliki prioritas rendah dalam anggaran perusahaan keuangan.
Tak Ada Jalan Keluar
Banyak perusahaan teknologi pemula yang bisa bertahan --dan pendirinya tak menjadi bangkrut-- dengan mengambil 'jalan keluar'. Biasanya exit strategy ini mencakup merger, akuisisi (oleh perusahaan besar), penawaran saham ke bursa publik alias Initial Public Offerings (IPO) dan Leveraged Buyout.
Akuisisi dan meger di industri teknologi, menurut Jim, hanya mencapai 691 transaksi senilai total USD 37 miliar pada kuartal ketiga 2008. Padahal pada 2007, periode yang sama mencatatkan 822 transaksi dengan nilai total USD 58 miliar.
Artinya? Lebih sedikit perusahaan teknologi yang berminat melakukan merger dan akuisisi. Salah satu sebabnya konon adalah seretnya aliran dana kredit.
Sedangkan IPO juga sedang lesu seiring kondisi lantai bursa yang tak stabil. Bahkan menurut Jim, sejak 'keruntuhan dot com' di 2000, pasar bursa cenderung emoh dengan IPO perusahaan teknologi.
Leveraged Buyout (LBO) adalah pembelian perusahaan yang sedang 'sekarat' untuk kemudian diperbaiki dan dijual lagi dengan harga lebih tinggi. Diperkirakan banyak perusahaan pemain LBO yang memilih untuk berhati-hati dalam kondisi finansial saat ini.
Kesimpulannya
Jim menuliskan, pada akhirnya, industri TI akan mengalami kelesuan. Perusahaan yang memiliki dana segar harus bertindak cerdas dan menjaga aset tersebut. Sedangkan mengandalkan dana dari kredit atau modal ventura akan seperti 'merindukan hujan di padang pasir'.
Meski demikian, industri TI terutama yang berbasis web diyakini tak akan mengalami keambrukan separah 'keruntuhan dot com' di 2000. Alasannya? Kekacauan tidak berasal dari dalam industri TI, tak banyak dana publik di industri TI saat ini dan kebanyakan perusahaan dot com 2.0 hati-hati dalam menggunakan uang mereka.
Di sisi lain, resesi yang kemungkinan terjadi di AS dikhawatirkan akan menyebabkan banyak konsolidasi. Kelesuan pun diyakini tak bisa dihindari dan mungkin bisa berlangsung cukup lama.
( wsh / ash )
Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Baca Juga
Berita Terbaru
Index »
-
Kamis, 24/05/2012 17:29 WIB
Modal Pas-pasan, Tantangan Start Up Lokal
-
Kamis, 24/05/2012 15:11 WIB
Bos Sales BlackBerry Mengundurkan Diri
-
Kamis, 24/05/2012 10:31 WIB
27 Ribu Karyawan HP akan Di-PHK
-
Rabu, 23/05/2012 20:11 WIB
Operator-Vendor Kolaborasi Kembangkan Mobile Cloud
-
Rabu, 23/05/2012 18:09 WIB
Telkom Kucurkan USD 10 Juta Kembangkan Cloud
-
Rabu, 23/05/2012 17:08 WIB
Penyelenggara Cloud Wajib Bangun Data Center di Indonesia
-
Rabu, 23/05/2012 12:52 WIB
UKM Belum Melek Cloud Computing
-
Rabu, 23/05/2012 10:10 WIB
Motorola Resmi Jadi Milik Google
- Jumat, 25/05/2012 18:23 WIB
Laporan dari Seoul
'Kulkas Pintar', Cek Stok Makanan dari Smartphone
- Jumat, 25/05/2012 16:07 WIB
6 Ponsel Nokia Terpopuler
- Jumat, 25/05/2012 17:21 WIB
Warga Twitter Puji Dedikasi 'Satpam Digital'
- Jumat, 25/05/2012 16:45 WIB
Tweet Satpam IPB Sebelum Ditembak: Hati-hati Curanmor di Kampus
- Jumat, 25/05/2012 15:50 WIB
Ini Dia Jadwal Update Android ICS untuk Ponsel HTC
- Jumat, 25/05/2012 15:19 WIB
5 Casing iPhone yang Punya 'Gigi' Pembuka Botol
- Jumat, 25/05/2012 18:07 WIB
Google+ Ingin Curi 'Mahkota' Flickr?
- Jumat, 25/05/2012 16:46 WIB
Pengakses Internet Masih Banyak dari Nokia
- Jumat, 25/05/2012 14:57 WIB
Google Didesak Tutup Keran Download Ilegal
-
198 Komentar
-
83 Komentar
-
75 Komentar
-
64 Komentar
-
63 Komentar
-
63 Komentar
-
54 Komentar
-
53 Komentar
-
48 Komentar
Pro Kontra
Index »
Galaxy S III Smartphone Terbaik Saat Ini?
Pro
Kontra
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer





Sending your message



.jpg)

