Berita Utama
-
Jumat, 25/05/2012 17:21 WIB
Warga Twitter Puji Dedikasi 'Satpam Digital'
-
Jumat, 25/05/2012 16:07 WIB
6 Ponsel Nokia Terpopuler
-
Jumat, 25/05/2012 15:19 WIB
5 Casing iPhone yang Punya 'Gigi' Pembuka Botol
-
Jumat, 25/05/2012 11:19 WIB
I Made Wiryana, Anak Band yang Jadi 'Cyber Paspampres'
-
Jumat, 25/05/2012 12:52 WIB
Mencicipi Facebook Camera: Instagram ala Facebook
-
Jumat, 25/05/2012 10:19 WIB
Tips Mengubah Kontak di BlackBerry Menjadi Excel
-
Kamis, 24/05/2012 15:37 WIB
Negara Mana 'Raja' Internet ASEAN?
-
Kamis, 24/05/2012 12:12 WIB
5 'Nenek Moyang' Smartphone Android
-
Kamis, 24/05/2012 11:15 WIB
Waspadai Email Palsu dari 'Facebook'
Bulan Madu Industri Telekomunikasi Telah Usai
Rabu, 13/08/2008 08:32 WIB

ilustrasi (ist)
Jakarta - Dengan menurunnya margin pendapatan dan sulitnya mendapatkan sejumlah pelanggan baru akibat perang tarif, bisa dibilang masa bulan madu bagi industri telekomunikasi telah usai.
Demikian dikemukakan anggota Badan Regulasi Telkomunikasi Indonesia (BRTI), Heru Sutadi, ketika dimintai pendapatnya lewat pesan singkat oleh detikINET, Rabu (13/8/2008).
"Dengan persaingan yang ketat di mana terjadi perang tarif, tidak bisa lagi operator mengharapkan menikmati masa bulan madu dengan EBITDA margin yang tinggi dan mudahnya mendapat pelanggan baru seperti yang selama ini terjadi," jelasnya.
Belum lama ini sejumlah operator telekomunikasi mengumumkan kinerja kuartal keduanya 2008 ini. Seperti yang sudah diprediksi, kinerjanya memang tidak menunjukkan angka gemilang seperti tahun-tahun sebelumnya, khususnya bagi sang BUMN telekomunikasi.
Apalagi setelah pemerintah memberlakukan tarif interkoneksi baru yang berujung penurunan tarif ritel untuk pelanggan hingga 40% sejak April 2008, atau tepat ketika kuartal kedua bergulir.
Dengan penurunan tarif interkoneksi yang berimbas pada penurunan tarif, menurut Heru, memang akan menggeser apa yang disebut operator surplus ke konsumen surplus. "Sehingga penurunan pendapatan secara alami memang akan turun karena tarif akan murah dan kian murah," jelasnya lagi.
Dari sekian operator yang mengumumkan kinerjanya, hasil kurang menyenangkan tentu dialami Telkom. Pada kuartal kedua tahun ini, pendapatan usaha BUMN telekomunikasi itu hanya Rp 30,18 triliun atau naik cuma 5,86% dibandingkan periode yang sama tahun lalu Rp 28,51 triliun.
Rendahnya pendapatan usaha ini membuat laba bersih Telkom hanya sebesar Rp 6,3 triliun atau turun 5% dibandingkan periode yang sama tahun lalu senilai Rp 6,6 triliun. Penurunan juga terjadi pada margin pendapatan sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA), dari 64% pada kuartal kedua 2007 menjadi 60% pada kuartal kedua tahun ini.
Kurang Cemerlang
Direktur Utama Telkom Rinaldi Firmansyah menjelaskan, suramnya kinerja perusahaan yang dipimpinnya pada kuartal kedua ini karena anak usahanya, Telkomsel, tidak lagi bekerja secemerlang layaknya tahun-tahun sebelumnya.
Telkomsel yang sebelumnya dominan menjadi kontributor utama bagi pendapatan Telkom, pada kuartal kedua ini hanya menyumbang 7% untuk total pendapatan usaha Telkom atau sebesar Rp 778 miliar.
"Ini karena regulasi baru yang menurunkan biaya interkoneksi. Jadi, meskipun ada pertambahan sekitar lima juta pelanggan baru oleh Telkomsel tidak mampu menahan turunnya pendapatan seluler," kata Rinaldi saat menjelaskan kinerja Telkom belum lama ini.
Sementara, Direktur Utama Telkomsel Kiskenda Suriahardja menuturkan, penurunan yang dialami Telkomsel terjadi pada pendapatan dari layanan pascabayar Kartu Halo selama semester I 2008, turun 10% menjadi Rp 2,2 triliun dari periode yang sama 2007 sebesar Rp 2,45 triiun.
Penurunan pendapatan pascabayar itu disebabkan turunnya rata-rata penggunaan pulsa per pelanggan (average revenue per user/ARPU) kartuHalo dari sebelumnya Rp 265 ribu per bulan menjadi Rp 224 ribu per bulan.
Seperti diketahui, KartuHalo selama ini adalah penyumbang terbesar bagi ARPU campuran (blended) milik Telkomsel. Turunnya ARPU KartuHalo, secara signifikan menurunkan ARPU blended 19% atau menjadi Rp 63 ribu dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
"Secara keseluruhan pendapatan dari layanan suara turun hingga 15 persen, sedangkan pendapatan dari pesan singkat (SMS) turun 26 persen. Ini konsekuensi dari turunnya tarif kedua layanan tersebut masing-masing sebesar 30 persen dan 70 persen," jelas Kiskenda.
Terjebak Perang Tarif
Tidak hanya di layanan dasar seperti suara dan SMS, layanan data Telkomsel juga mulai dikeluhkan oleh pelanggan di daerah padat. Semua ini akibat Telkomsel ikut terjebak stigma penurunan tarif yang dilancarkan beberapa kompetitornya.
Sementara, Excelcomindo Pratama (XL) sebagai salah satu kompetitornya, justru mengalami perbaikan. Strategi yang dilakukan XL berhasil membuat terjadinya penambahan pelanggan baru sebesar empat juta nomor dan menaikkan menit pemakaiaan secara signifikan pada kuartal kedua lalu.
Berdasarkan catatan, XL pada kuartal kedua lalu kinerjanya memang lebih baik dibandingkan Telkomsel. Perusahaan ini mengalami kenaikan laba bersih sebesar 38% atau mencapai Rp 459 miliar dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Namun, kinerja yang positif tersebut tetap menuntut kerja keras manajemen XL ke depannya mengingat tren aliran kas perusahaan ini cenderung negatif akibat investasi yang agresif di jaringan.
Terlepas dari itu semua, Heru Sutadi menyarankan kepada sang BUMN telekomunikasi agar membuat inovasi baru supaya pendapatannya tidak terus-terusan turun.
"Yang diperlukan adalah bagaimana operator punya strategi menarik pelanggan baru dan lama dengan menawarkan tarif yang terjangkau, layanan berkualitas, dan mengoptimalkan jaringan sehingga pendapatan tidak turun," tandasnya.
Pro atau kontra? Diskusikan saja di detikINET Forum!
( rou / rou )
Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Demikian dikemukakan anggota Badan Regulasi Telkomunikasi Indonesia (BRTI), Heru Sutadi, ketika dimintai pendapatnya lewat pesan singkat oleh detikINET, Rabu (13/8/2008).
"Dengan persaingan yang ketat di mana terjadi perang tarif, tidak bisa lagi operator mengharapkan menikmati masa bulan madu dengan EBITDA margin yang tinggi dan mudahnya mendapat pelanggan baru seperti yang selama ini terjadi," jelasnya.
Belum lama ini sejumlah operator telekomunikasi mengumumkan kinerja kuartal keduanya 2008 ini. Seperti yang sudah diprediksi, kinerjanya memang tidak menunjukkan angka gemilang seperti tahun-tahun sebelumnya, khususnya bagi sang BUMN telekomunikasi.
Apalagi setelah pemerintah memberlakukan tarif interkoneksi baru yang berujung penurunan tarif ritel untuk pelanggan hingga 40% sejak April 2008, atau tepat ketika kuartal kedua bergulir.
Dengan penurunan tarif interkoneksi yang berimbas pada penurunan tarif, menurut Heru, memang akan menggeser apa yang disebut operator surplus ke konsumen surplus. "Sehingga penurunan pendapatan secara alami memang akan turun karena tarif akan murah dan kian murah," jelasnya lagi.
Dari sekian operator yang mengumumkan kinerjanya, hasil kurang menyenangkan tentu dialami Telkom. Pada kuartal kedua tahun ini, pendapatan usaha BUMN telekomunikasi itu hanya Rp 30,18 triliun atau naik cuma 5,86% dibandingkan periode yang sama tahun lalu Rp 28,51 triliun.
Rendahnya pendapatan usaha ini membuat laba bersih Telkom hanya sebesar Rp 6,3 triliun atau turun 5% dibandingkan periode yang sama tahun lalu senilai Rp 6,6 triliun. Penurunan juga terjadi pada margin pendapatan sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA), dari 64% pada kuartal kedua 2007 menjadi 60% pada kuartal kedua tahun ini.
Kurang Cemerlang
Direktur Utama Telkom Rinaldi Firmansyah menjelaskan, suramnya kinerja perusahaan yang dipimpinnya pada kuartal kedua ini karena anak usahanya, Telkomsel, tidak lagi bekerja secemerlang layaknya tahun-tahun sebelumnya.
Telkomsel yang sebelumnya dominan menjadi kontributor utama bagi pendapatan Telkom, pada kuartal kedua ini hanya menyumbang 7% untuk total pendapatan usaha Telkom atau sebesar Rp 778 miliar.
"Ini karena regulasi baru yang menurunkan biaya interkoneksi. Jadi, meskipun ada pertambahan sekitar lima juta pelanggan baru oleh Telkomsel tidak mampu menahan turunnya pendapatan seluler," kata Rinaldi saat menjelaskan kinerja Telkom belum lama ini.
Sementara, Direktur Utama Telkomsel Kiskenda Suriahardja menuturkan, penurunan yang dialami Telkomsel terjadi pada pendapatan dari layanan pascabayar Kartu Halo selama semester I 2008, turun 10% menjadi Rp 2,2 triliun dari periode yang sama 2007 sebesar Rp 2,45 triiun.
Penurunan pendapatan pascabayar itu disebabkan turunnya rata-rata penggunaan pulsa per pelanggan (average revenue per user/ARPU) kartuHalo dari sebelumnya Rp 265 ribu per bulan menjadi Rp 224 ribu per bulan.
Seperti diketahui, KartuHalo selama ini adalah penyumbang terbesar bagi ARPU campuran (blended) milik Telkomsel. Turunnya ARPU KartuHalo, secara signifikan menurunkan ARPU blended 19% atau menjadi Rp 63 ribu dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
"Secara keseluruhan pendapatan dari layanan suara turun hingga 15 persen, sedangkan pendapatan dari pesan singkat (SMS) turun 26 persen. Ini konsekuensi dari turunnya tarif kedua layanan tersebut masing-masing sebesar 30 persen dan 70 persen," jelas Kiskenda.
Terjebak Perang Tarif
Tidak hanya di layanan dasar seperti suara dan SMS, layanan data Telkomsel juga mulai dikeluhkan oleh pelanggan di daerah padat. Semua ini akibat Telkomsel ikut terjebak stigma penurunan tarif yang dilancarkan beberapa kompetitornya.
Sementara, Excelcomindo Pratama (XL) sebagai salah satu kompetitornya, justru mengalami perbaikan. Strategi yang dilakukan XL berhasil membuat terjadinya penambahan pelanggan baru sebesar empat juta nomor dan menaikkan menit pemakaiaan secara signifikan pada kuartal kedua lalu.
Berdasarkan catatan, XL pada kuartal kedua lalu kinerjanya memang lebih baik dibandingkan Telkomsel. Perusahaan ini mengalami kenaikan laba bersih sebesar 38% atau mencapai Rp 459 miliar dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Namun, kinerja yang positif tersebut tetap menuntut kerja keras manajemen XL ke depannya mengingat tren aliran kas perusahaan ini cenderung negatif akibat investasi yang agresif di jaringan.
Terlepas dari itu semua, Heru Sutadi menyarankan kepada sang BUMN telekomunikasi agar membuat inovasi baru supaya pendapatannya tidak terus-terusan turun.
"Yang diperlukan adalah bagaimana operator punya strategi menarik pelanggan baru dan lama dengan menawarkan tarif yang terjangkau, layanan berkualitas, dan mengoptimalkan jaringan sehingga pendapatan tidak turun," tandasnya.
Pro atau kontra? Diskusikan saja di detikINET Forum!
( rou / rou )
Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Baca Juga
Berita Terbaru
Index »
-
Rabu, 23/05/2012 18:58 WIB
Indosat Siap Luncurkan Mobile Cloud
-
Rabu, 23/05/2012 12:38 WIB
Telkom Kembangkan e-Gov Berbasis Cloud
-
Rabu, 23/05/2012 11:12 WIB
Tender 3G Bisa Kembali Diundur Agar Tak Cacat Hukum
-
Senin, 21/05/2012 09:59 WIB
Kolom Telematika
Fenomena Social Networking
-
Senin, 21/05/2012 09:10 WIB
Lippo Luncurkan Satelit
-
Sabtu, 19/05/2012 14:26 WIB
Zuck Lebih Kaya dari Duo Pendiri Google
-
Sabtu, 19/05/2012 13:27 WIB
Duh, Angkasa Pura I Belum Miliki Izin Stasiun Radio
-
Sabtu, 19/05/2012 10:29 WIB
Musibah Sukhoi
Kominfo Enggan Berspekulasi Soal Interferensi Frekuensi
- Sabtu, 26/05/2012 12:48 WIB
Karyawan Yahoo Ramai-ramai Puji Axis di App Store
- Sabtu, 26/05/2012 10:27 WIB
Sensor 16 MP OmniVision Mampu Rekam Video 4K
- Sabtu, 26/05/2012 11:06 WIB
Provider ICT Mencari Tantangan Baru di Sektor Migas
- Jumat, 25/05/2012 10:51 WIB
Nasib BlackBerry Messenger Suram?
- Jumat, 25/05/2012 16:07 WIB
6 Ponsel Nokia Terpopuler
- Jumat, 25/05/2012 09:03 WIB
Lucu! Pencuri iPhone Kirim Foto Dirinya ke Facebook Korban
- Jumat, 25/05/2012 10:19 WIB
Tips Mengubah Kontak di BlackBerry Menjadi Excel
- Jumat, 25/05/2012 13:23 WIB
Android Makin Kuasai Dunia
- Jumat, 25/05/2012 11:19 WIB
Sosok
I Made Wiryana, Anak Band yang Jadi 'Cyber Paspampres'
-
210 Komentar
-
84 Komentar
-
75 Komentar
-
73 Komentar
-
63 Komentar
-
63 Komentar
-
54 Komentar
-
54 Komentar
-
48 Komentar
Pro Kontra
Index »
Galaxy S III Smartphone Terbaik Saat Ini?
Pro
Kontra
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer





Sending your message



.jpg)

