Berita Utama
-
Jumat, 25/05/2012 17:21 WIB
Warga Twitter Puji Dedikasi 'Satpam Digital'
-
Jumat, 25/05/2012 16:07 WIB
6 Ponsel Nokia Terpopuler
-
Jumat, 25/05/2012 15:19 WIB
5 Casing iPhone yang Punya 'Gigi' Pembuka Botol
-
Jumat, 25/05/2012 11:19 WIB
I Made Wiryana, Anak Band yang Jadi 'Cyber Paspampres'
-
Jumat, 25/05/2012 12:52 WIB
Mencicipi Facebook Camera: Instagram ala Facebook
-
Jumat, 25/05/2012 10:19 WIB
Tips Mengubah Kontak di BlackBerry Menjadi Excel
-
Kamis, 24/05/2012 15:37 WIB
Negara Mana 'Raja' Internet ASEAN?
-
Kamis, 24/05/2012 12:12 WIB
5 'Nenek Moyang' Smartphone Android
-
Kamis, 24/05/2012 11:15 WIB
Waspadai Email Palsu dari 'Facebook'
Operator Belum Turunkan Tarif Telepon
Jumat, 28/03/2008 14:11 WIB

Iklan Operator Seluler (bdi/detikcom)
Jakarta - Operator telekomunikasi dinilai belum menurunkan tarif ritel percakapan teleponnya. Namun, baru sekedar menawarkan layanan dengan benefit yang lebih banyak.
Dirjen Postel Basuki Yusuf Iskandar berpendapat, penawaran tarif yang digencarkan operator saat ini masih belum mencerminkan penurunan tarif retail.
"Saya harap operator benar-benar menurunkan tarif ritelnya seiring mulai turunnya biaya interkoneksi per 1 April 2008 nanti," tandasnya kepada detikINET, Jumat (28/3/2008).
Biaya interkoneksi merupakan beban yang harus dibayarkan satu operator ketika melakukan koneksi lintas jaringan dengan operator lain. Dengan turunnya tarif interkoneksi, seharusnya biaya ritel percakapan antaroperator semakin murah.
Pengamat kebijakan publik Mas Wigrantoro Roes Setyadi belum beranggapan demikian ketika menyikapi perang iklan yang dilancarkan operator tentang penawaran tarifnya. "Operator cenderung tidak menurunkan tarif. Mereka cuma membuat asumsi lebih murah saja," ujarnya dalam diskusi soal tarif di Restoran Cloud, Menara Jamsostek.
"Karena dengan harga tak jauh beda dari sebelumnya, pelanggan bisa menelpon lebih lama dari biasanya," ia menambahkan.
Mas Wig pun menilai, aktivitas pemasaran tentang tarif masih belum menyentuh edukasi pelanggan. "Operator cuma sekadar cari pelanggan saja," keluhnya.
"Dari 100% marketing effort yang dilakukan operator, 80% di antaranya terfokus pada akuisisi pelanggan," ia menambahkan.
Anggapan tersebut dibantah I Made Harta Wijaya, VP VAS & New Business dari Excelcomindo Pratama (XL). Menurutnya, XL telah mengalokasikan 60% biaya pemasarannya untuk edukasi pelanggan soal tarif. Edukasi tersebut diklaimnya telah dilakukan secara above dan below the line.
"Masalahnya, tidak bisa di semua media kita mengedukasi tarif, misalnya di billboard iklan," kata dia. "Namun, kami aktif melakukan edukasi melalui sarana media lain seperti televisi, radio, cetak, maupun internet," imbuhnya cepat.
XL sendiri menyatakan bakal menurunkan tarifnya lagi. "Tarif kami selalu turun tiap tahunnya. Dari tahun lalu saja kami telah menurunkan 39% tarif kami," ujar Made tanpa menyebut penurunan ritel setelah makin murahnya biaya interkoneksi.
Sementara, Telkom dan Smart Telecom sudah menyatakan bakal menurunkan tarif ritelnya hingga 20% setelah implementasi interkoneksi berbasis biaya awal April mendatang.
Masih Diragukan
Di lain kesempatan, Komite Nasional Telekomunikasi Indonesia (KNTI) meragukan implementasi interkoneksi yang akan dijalankan bakal menurunkan tarif ritel seluler sekitar 20-40% dibandingkan saat ini.
Ketua KNTI Srijanto Tjokrosudarmo merasa, harapan pemerintah menurunkan tarif bisa tidak terwujud jika operator mempertahankan pengambilan margin keuntungan yang tinggi dari pelanggan.
"Formula interkoneksi berbasis biaya sudah diterapkan sejak tahun lalu, tetapi kenyataannya tidak ada tarif murah yang dirasakan pelanggan," demikian pernyataannya.
Menurut dia, saat ini operator telekomunikasi mengambil margin keuntungan sekitar 60 sampai 70 persen dari pelanggan. Hal ini jika merujuk pada penawaran interkoneksi yang diberikan operator tahun lalu.
Dari penawaran tahun lalu, interkoneksi yang ditawarkan untuk panggilan lokal adalah Rp 361 sedangkan untuk panggilan jarak jauh adalah Rp 471. Jika angka itu yang digunakan, panggilan lintas operator sewajarnya sekitar Rp 1.000 per menit dan panggilan ke sesama pelangggan operator sekitar Rp 400 per menit.
Namun, kenyataan di lapangan operator menetapkan tarif lintas operator hingga Rp 3.000 per menit dan ke sesama pelanggan mulai Rp 600 hingga Rp 1.500 per menit. "Ilustrasi ini mencerminkan operator telah mengambil marjin terlalu tinggi," Srijanto berseloroh.
Berkaitan dengan pernyataan para operator yang memasukkan biaya pemasaran ke dalam tarif, Srijanto mengatakan, perhitungan berbasis biaya sudah memperhitungkan hal tersebut. "Itu hanya bisa-bisanya operator saja memberi alasan," keluhnya.
Anda mau bertukar opini/informasi lainnya? Silakan langsung kunjungi tread khusus di detikINET Forum.
( rou / dwn )
Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Dirjen Postel Basuki Yusuf Iskandar berpendapat, penawaran tarif yang digencarkan operator saat ini masih belum mencerminkan penurunan tarif retail.
"Saya harap operator benar-benar menurunkan tarif ritelnya seiring mulai turunnya biaya interkoneksi per 1 April 2008 nanti," tandasnya kepada detikINET, Jumat (28/3/2008).
Biaya interkoneksi merupakan beban yang harus dibayarkan satu operator ketika melakukan koneksi lintas jaringan dengan operator lain. Dengan turunnya tarif interkoneksi, seharusnya biaya ritel percakapan antaroperator semakin murah.
Pengamat kebijakan publik Mas Wigrantoro Roes Setyadi belum beranggapan demikian ketika menyikapi perang iklan yang dilancarkan operator tentang penawaran tarifnya. "Operator cenderung tidak menurunkan tarif. Mereka cuma membuat asumsi lebih murah saja," ujarnya dalam diskusi soal tarif di Restoran Cloud, Menara Jamsostek.
"Karena dengan harga tak jauh beda dari sebelumnya, pelanggan bisa menelpon lebih lama dari biasanya," ia menambahkan.
Mas Wig pun menilai, aktivitas pemasaran tentang tarif masih belum menyentuh edukasi pelanggan. "Operator cuma sekadar cari pelanggan saja," keluhnya.
"Dari 100% marketing effort yang dilakukan operator, 80% di antaranya terfokus pada akuisisi pelanggan," ia menambahkan.
Anggapan tersebut dibantah I Made Harta Wijaya, VP VAS & New Business dari Excelcomindo Pratama (XL). Menurutnya, XL telah mengalokasikan 60% biaya pemasarannya untuk edukasi pelanggan soal tarif. Edukasi tersebut diklaimnya telah dilakukan secara above dan below the line.
"Masalahnya, tidak bisa di semua media kita mengedukasi tarif, misalnya di billboard iklan," kata dia. "Namun, kami aktif melakukan edukasi melalui sarana media lain seperti televisi, radio, cetak, maupun internet," imbuhnya cepat.
XL sendiri menyatakan bakal menurunkan tarifnya lagi. "Tarif kami selalu turun tiap tahunnya. Dari tahun lalu saja kami telah menurunkan 39% tarif kami," ujar Made tanpa menyebut penurunan ritel setelah makin murahnya biaya interkoneksi.
Sementara, Telkom dan Smart Telecom sudah menyatakan bakal menurunkan tarif ritelnya hingga 20% setelah implementasi interkoneksi berbasis biaya awal April mendatang.
Masih Diragukan
Di lain kesempatan, Komite Nasional Telekomunikasi Indonesia (KNTI) meragukan implementasi interkoneksi yang akan dijalankan bakal menurunkan tarif ritel seluler sekitar 20-40% dibandingkan saat ini.
Ketua KNTI Srijanto Tjokrosudarmo merasa, harapan pemerintah menurunkan tarif bisa tidak terwujud jika operator mempertahankan pengambilan margin keuntungan yang tinggi dari pelanggan.
"Formula interkoneksi berbasis biaya sudah diterapkan sejak tahun lalu, tetapi kenyataannya tidak ada tarif murah yang dirasakan pelanggan," demikian pernyataannya.
Menurut dia, saat ini operator telekomunikasi mengambil margin keuntungan sekitar 60 sampai 70 persen dari pelanggan. Hal ini jika merujuk pada penawaran interkoneksi yang diberikan operator tahun lalu.
Dari penawaran tahun lalu, interkoneksi yang ditawarkan untuk panggilan lokal adalah Rp 361 sedangkan untuk panggilan jarak jauh adalah Rp 471. Jika angka itu yang digunakan, panggilan lintas operator sewajarnya sekitar Rp 1.000 per menit dan panggilan ke sesama pelangggan operator sekitar Rp 400 per menit.
Namun, kenyataan di lapangan operator menetapkan tarif lintas operator hingga Rp 3.000 per menit dan ke sesama pelanggan mulai Rp 600 hingga Rp 1.500 per menit. "Ilustrasi ini mencerminkan operator telah mengambil marjin terlalu tinggi," Srijanto berseloroh.
Berkaitan dengan pernyataan para operator yang memasukkan biaya pemasaran ke dalam tarif, Srijanto mengatakan, perhitungan berbasis biaya sudah memperhitungkan hal tersebut. "Itu hanya bisa-bisanya operator saja memberi alasan," keluhnya.
Anda mau bertukar opini/informasi lainnya? Silakan langsung kunjungi tread khusus di detikINET Forum.
( rou / dwn )
Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Baca Juga
Berita Terbaru
Index »
-
Rabu, 23/05/2012 18:58 WIB
Indosat Siap Luncurkan Mobile Cloud
-
Rabu, 23/05/2012 12:38 WIB
Telkom Kembangkan e-Gov Berbasis Cloud
-
Rabu, 23/05/2012 11:12 WIB
Tender 3G Bisa Kembali Diundur Agar Tak Cacat Hukum
-
Senin, 21/05/2012 09:59 WIB
Kolom Telematika
Fenomena Social Networking
-
Senin, 21/05/2012 09:10 WIB
Lippo Luncurkan Satelit
-
Sabtu, 19/05/2012 14:26 WIB
Zuck Lebih Kaya dari Duo Pendiri Google
-
Sabtu, 19/05/2012 13:27 WIB
Duh, Angkasa Pura I Belum Miliki Izin Stasiun Radio
-
Sabtu, 19/05/2012 10:29 WIB
Musibah Sukhoi
Kominfo Enggan Berspekulasi Soal Interferensi Frekuensi
- Sabtu, 26/05/2012 15:36 WIB
Rumor: FIFA 2013 'Kick-off' September 2012
- Sabtu, 26/05/2012 13:19 WIB
Siri Dibenamkan di OS X Mountain Lion?
- Sabtu, 26/05/2012 14:45 WIB
Main Videogames Bisa Bikin Anak Balita Mimpi Buruk
- Sabtu, 26/05/2012 12:48 WIB
Karyawan Yahoo Ramai-ramai Puji Axis di App Store
- Sabtu, 26/05/2012 10:27 WIB
Sensor 16 MP OmniVision Mampu Rekam Video 4K
- Sabtu, 26/05/2012 11:06 WIB
Provider ICT Mencari Tantangan Baru di Sektor Migas
- Jumat, 25/05/2012 10:51 WIB
Nasib BlackBerry Messenger Suram?
- Jumat, 25/05/2012 16:07 WIB
6 Ponsel Nokia Terpopuler
- Jumat, 25/05/2012 09:03 WIB
Lucu! Pencuri iPhone Kirim Foto Dirinya ke Facebook Korban
-
211 Komentar
-
84 Komentar
-
75 Komentar
-
73 Komentar
-
63 Komentar
-
63 Komentar
-
54 Komentar
-
54 Komentar
-
48 Komentar
Pro Kontra
Index »
Galaxy S III Smartphone Terbaik Saat Ini?
Pro
Kontra
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer





Sending your message



.jpg)

