detikinet

Postel Impikan Indonesia Ekspor Wimax

Achmad Rouzni Noor II - detikinet
Selasa, 29/01/2008 16:49 WIB

Basuki Yusuf Iskandar (rou/inet)

Jakarta - Direktorat Pos dan Telekomunikasi (Postel) memimpikan Indonesia menjadi negara yang bisa mengekspor perangkat Wimax. Sebuah unit khusus pun dirancang.

Hal itu dikemukakan Dirjen Postel, Basuki Yusuf Iskandar, seusai serah terima alat ukur telekomunikasi Wimax di Gedung Postel, Jakarta, Selasa (29/1/2008). Perangkat yang saat ini sedang dikembangkan, ujar Basuki, akan didemonstrasikan pada Mei 2008.

Selain untuk memenuhi kebutuhan infrastruktur telekomunikasi lokal, Basuki mengatakan pemerintah berharap Indonesia bisa mengekspor perangkat tersebut. Untuk itu, Postel berencana membuat sebuah unit khusus untuk membantu operator dan industri merambah pasar global.

Unit tersebut, ujar Basuki, saat ini sedang digarap dan menunggu persetujuan dari Kementerian Negara Pemberdayaan Aparatur Negara (PAN). Sebelumnya Postel juga telah mendapatkan persetujan Kementerian PAN untuk unit khusus satelit.

Sedangkan di sisi penyerapannya oleh industri lokal, Basuki mengatakan akan mewajibkan operator Wimax untuk menggunakan industri lokal. "Minimal akan seperti pada penyelenggara 3G, yaitu 35 persen Capex (belanja modal-red) untuk lokal dan 50 persen Opex (biaya operasional-red) untuk lokal," Basuki menjelaskan.
( wsh / wsh )

Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Share:

Komentar (0 Komentar)


    Klik disini untuk berkomentar menggunakan account anda :

    Facebook Login Twitter Login detikID Login


    Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
    Informasi pemasangan iklan
    hubungi : sales[at]detik.com
    Berita Terbaru Index »
    Pro Kontra Index »

    Galaxy S III Smartphone Terbaik Saat Ini?

    Performa Galaxy S III terbilang menjanjikan. Ia mengusung quadcore, layar Gorilla Glass 2, serta fitur melimpah. Tak pelak, Samsung mengklaim Galaxy S III sebagai smartphone terbaik saat ini. Anda setuju?
    Pro
    50%
    Kontra
    50%