detikinet

Pelanggan Telko Diklaim Rugi 35T Akibat Kartel Tarif

Achmad Rouzni Noor II - detikinet
Rabu, 07/11/2007 20:06 WIB
Jakarta - Pelanggan telekomunikasi Indonesia katanya telah dirugikan hingga Rp 35 triliun karena adanya kartel tarif yang dipicu praktik monopoli. Demikian klaim Institute for Development of Economics & Finance (Indef) berdasarkan hasil kajiannya pada seminar bertajuk "Melindungi Kepentingan Nasional dan Memberantas Praktik Monopoli di Indonesia" di Hotel Crowne Plaza, Rabu (7/11/2007). Presiden Direktur Indef, M. Fadhil Hasan mengatakan, potensi kerugian tersebut diakibatkan masih terlalu tingginya margin EBITDA (pendapatan sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi) meski telah banyak operator telekomunikasi di Indonesia. "Margin yang sangat tinggi di negara kita membuktikan masih adanya kartel dan monopoli," ujarnya. Di acara yang sama, Anggota Komisi VI DPR RI Nusron Wahid, menuding Temasek telah melakukan praktik monopoli dengan kepemilikan silang di Indosat dan Telkomsel melalui kedua anak perusahaannya, Singapore Technologies Telemedia (STT) dan Singapore Telecommunication Limited (SingTel). "Memang salah banget politiknya saat menjual Indosat waktu itu. Berhubung sudah terlanjur dijual, ya kita hormati. Tapi yang lebih salah lagi Temasek. Mereka waktu itu diundang ke Indonesia untuk berbisnis, bukan untuk memonopoli yang mengakibatkan imperfect competition (persaingan tidak sehat)," ujarnya. Sebelumnya, STT dalam jumpa persnya berulangkali menyanggah tuduhan praktik monopoli dan persaingan tidak sehat yang dialamatkan pada Grup Temasek. Corporate Communication Director STT, Melinda Tan, menegaskan pihaknya sama sekali tidak memiliki kontrol mayoritas di Indosat sementara dengan Telkomsel pihaknya tidak memiliki kaitan apa pun. "Temasek, STT, dan SingTel merupakan perusahaan yang terpisah," ujarnya waktu itu. Masih Bisa Dikoreksi Menurut Fadhil, proses divestasi terhadap Indosat masih bisa dikoreksi. "Di Thailand kasus tersebut pernah terjadi, di mana Sin Corp dibeli kembali dari Grup Temasek atas desakan masyarakat di negara tersebut," ujarnya. Sementara, pelaku bisnis telekomunikasi dari PT Emslanindo Pratista Mahardika, S Teguh mengeluhkan, sejak jalur distribusi dan harga di dua operator seluler terbesar Indonesia itu dikuasai asing, banyak dealer-dealer kecil yang merasa dimatikan. "Kepemilikan asing di Indonesia juga bisa berakibat pada keamanan terhadap rahasia negara," ujarnya dalam pesan singkat.
( rou / rou )

Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Share:

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Pro Kontra Index »

Galaxy S III Smartphone Terbaik Saat Ini?

Performa Galaxy S III terbilang menjanjikan. Ia mengusung quadcore, layar Gorilla Glass 2, serta fitur melimpah. Tak pelak, Samsung mengklaim Galaxy S III sebagai smartphone terbaik saat ini. Anda setuju?
Pro
50%
Kontra
50%