http://us.images.detik.com/logo_tematik/logodetikinet.png

 
 

Kolom Telematika

Antiklimaks Ketoprak SLI

Penulis: Achmad Rouzni Noor II - detikinet
Jumat, 21/09/2007 15:32 WIB
http://us.images.detik.com/content/2007/09/21/328/ketoprakan.jpg Beberapa Pemeran Ketoprak Postel (rmd/detikcom)
Jakarta - Sejatinya, rentang waktu untuk mengajukan keberatan atas hasil tender lisensi sambungan langsung internasional (SLI) baru berakhir hari ini, Jumat (21/9/2007), namun PT Excelcomindo Pratama Tbk (XL) sudah memutuskan untuk tidak menyanggahnya lagi di saat kesempatan itu belum benar-benar berakhir. Layaknya ketoprak guyonan yang sempat dipentaskan demi menyambut Hari Bhakti Postel, proses tender SLI sudah seperti babak tambahan yang sayangnya antiklimaks. Terungkap sudah misteri yang selama ini menjadi tanda tanya, XL yang tadinya sedemikian ngotot mempertanyakan kekalahannya dalam tender, alih-alih menyudahi kasus ini dan berharap melupakannya sesegera mungkin. Mengacu pada Keputusan Presiden No. 80/2003, XL ternyata telah melalaikan satu hal yang sangat prinsipil dalam tender pemerintahan: tidak menyertakan dokumen administratif berupa akte pendirian perusahaan. Sangat tidak masuk akal memang, perusahaan sekaliber XL yang seharusnya sudah sangat paham aturan main semacam ini malah membuat blunder telak. Padahal, setidaknya, dokumen yang disertakan sebagai persyaratan tender tak akan jauh berbeda dengan yang pernah diikutsertakan dalam tender lisensi layanan 3G. Ada apa gerangan? Apakah XL memang tidak memiliki akte pendirian, rasanya tidak mungkin. Ataukah ada sesuatu yang sengaja disembunyikan mengingat persyaratan tender diharamkan memiliki afiliasi dengan operator SLI eksisting. Entahlah. Saling tuding bisa saja terjadi dalam kubu perusahaan. Padahal, XL sengaja membuat dua tim regulatory khusus untuk menyukseskan proyek tender SLI ini. Satu lagi pertanyaan besar, mengapa dokumen sepenting akte pendirian perusahaan masih bisa terlewatkan begitu saja? Ranah Politik Yang pasti, dengan ribut-ributnya kasus ini di berbagai media massa, akan berbuntut panjang di kemudian harinya. Bagaimana tidak, kasus tender SLI ini sudah sampai terseret (atau sengaja dibawa?) ke ranah politik. Tak ada angin tak ada hujan, tiba-tiba salah satu anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) sampai berteriak meminta Komisi Pengawas Persaingan Usaha untuk menyelidiki keputusan pemerintah yang memenangkan PT Bakrie Telecom Tbk dalam tender ini. Jelas hal itu membuat Dirjen Postel Basuki Yusuf Iskandar mencak-mencak. Kondite Departemen Komunikasi dan Informatika, khususnya Pos dan Telekomunikasi yang dibawahinya, pun jadi jadi dipertanyakanya gara-gara kasus ini keburu di-blow up dan jadi bola liar. Padahal penyebabnya hanya gara-gara kelalaian satu pihak semata. Yang tentu jadi "sasaran tembak" nantinya ialah sang Menteri "ketoprak" Mohammad Nuh beserta punggawanya ketika dipanggil dalam Rapat Dengar Pendapat di Komisi I DPR RI dalam waktu dekat ini. Sudah terbayang cecaran anggota Dewan yang akan "galak" bertanya banyak hal terkait tender lisensi ini, yang notabene merupakan aset negara. Kian Tertekan Begitu sadar kegagalan dalam memenangkan perburuan SLI murni sebagai kelalaian pihaknya, Presiden Direktur XL Hasnul Suhaimi langsung pasang badan dan mengklaim hal tersebut sebagai kesalahannya sebagai pimpinan proyek. Meski demikian, rona kesedihan tak bisa dielakan memancar dari sorot mata dan bahasa tubuh pria kelahiran Minang itu. Sudah menjadi rahasia umum di kalangan para direksi operator, key performance indicator Hasnul di mata Telekom Malaysia (TM) sebagai pemegang saham mayoritas XL, tak lain untuk mendapatkan lisensi SLI dan menggenjot jumlah pelanggan. SLI urung diraih, bayangan laba gagal ditangguk, target pelanggan pun bisa tak tergapai. Hingga medio September ini, XL paling banter hanya memiliki 11 juta pelanggan. Sementara target yang ditetapkan TM di akhir 2007, pelanggan XL mencapai 14-15 juta. Sulit rasanya meraih 3-4 juta pelanggan hanya dalam tiga bulan. XL jelas bukanlah Telkomsel. Mengejar pelanggan sebanyak-banyaknya dengan program pemasaran menarik bisa saja menjadi perjudian terakhir. Rumor yang beredar menyebutkan, selain bagi-bagi kartu perdana gratis, program promosi satu tarif pada produk kartu prabayar Bebas dan pascabayar Xplor jadi akal-akalan untuk menggenjot jumlah pelanggan sebanyak banyaknya. Banyak juga yang khawatir pariwara dari program promosi nasional Rp 1 per detik yang digeber bisa jadi berbalik menyerang XL. Program yang diklaim sebagai tanpa syarat dan ketentuan itu, justru sangat jelas memiliki kelemahan dengan begitu banyaknya aturan pemakaian dan bias bagi pelanggan yang tinggal di area berbeda. Well, dari antiklimaksnya ketoprak SLI yang dilakoni kali ini justru mengungkap rentetan hal baru yang menyisakan tanda tanya besar. Akankah lakon serupa berulang di ketoprak tender mendatang? Entahlah. *) Penulis adalah wartawan detikINET dan dapat dihubungi melalui e-mail rourry[at]detikinet.com. Tulisan ini adalah opini pribadi dan tidak mencerminkan pendapat institusi tempat penulis bekerja. (rou/rou)


Berita ini juga dapat dibaca melalui m.detik.com dan aplikasi detikcom untuk BlackBerry, Android, iOS & Windows Phone. Install sekarang!


 atau daftar untuk mengirim komentar
Tampilkan Komentar di:        
Sponsored Link

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Berita Terbaru Index »
Pro Kontra Index »

Rudiantara Cocok Jadi Menkominfo?

Dengan latar belakanganya sebagai seorang profesional di industri telekomunikasi, Rudiantara dianggap pas menempati kursi menkominfo. Lantas, bagaimana dengan Anda, apa berpendapat sama?
Pro
73%
Kontra
27%


Must Read close