http://us.images.detik.com/logo_tematik/logodetikinet.png
 
 

Catatan Oleh Rama

Video Game dari Generasi ke Generasi (2)

Penulis: Eko Ramaditya Adikara - detikinet
Minggu, 26/11/2006 14:04 WIB
http://us.images.detik.com/content/2006/11/26/317/generasigame.jpg (inet)
Jakarta - Perkembangan videogame kini telah masuk ke generasi ketujuh. Microsoft telah menggeber XBox 360, sementara itu Sony dan Nintendo telah bersiap dengan PS3 dan Wii. Tak diragukan lagi kalau ketiganya adalah konsol terbaru dan tercanggih. Namun, tahukah Anda bagaimana wujud rupa video game di generasi-generasi sebelumnya? Sebelum berkembang jadi seperti sekarang, video game mengalami beberapa momen bersejarah yang menarik untuk disimak. Setelah sebelumnya dibahas mengenai perkembangan video game dari generasi pertama sampai generasi ketiga, tulisan kali ini menceritakan perkembangan video game dari generasi keempat sampai generasi terkini, yaitu generasi ketujuh. Generasi Keempat Generasi ini disebut-sebut sebagai "jaman emas" dalam dunia video game. Masa di mana konsol 16-bit muncul dan membawa perubahan drastis pada grafik, tata suara, dan gameplay. Era ini juga kian memanas saat terjadinya persaingan seru antara Sega dan Nintendo. Pada tahun 1990, Sega menggelontorkan Sega Megadrive/Genesis, konsol 16-bit yang memukau perhatian pecinta game, khususnya Amerika. Selanjutnya, Sega merilis game yang akhirnya menjadi maskot Sega, Sonic the Hedgehog (1991). Game ini lagi-lagi mencengangkan para pecinta game, karena game tersebut memiliki grafik dan tata suara yang kualitasnya jauh di atas Super Mario Bros. Melihat rivalnya terus menghabiskan pelanggannya, Nintendo tak tinggal diam. Mereka merilis Super Famicom / Super Nintendo Entertainment System (SNES) pada 1991. Bersama paket SNES disertakan game Super Mario World, yang tentu saja memiliki fitur grafis dan suara yang jauh lebih baik dari pendahulunya. Nintendo dan Sega pun terus berlomba-lomba meningkatkan kualitas konsol mereka. Sega mengeluarkan periferal Sega-CD dan Sega 32-X untuk meng-upgrade mesin 16-bit mereka ke 32-bit, tapi sayangnya kurang sukses. Sementara itu, Nintendo membuat beberapa perjanjian dengan Sony. Salah satunya adalah proyek konsol Nintendo berbasis CD-ROM, namun proyek itu batal dan Nintendo tidak jadi membuat konsol baru. Sebaliknya, Sony terus menjalankan proyek itu sendiri, dan akhirnya mengeluarkan konsolnya yang diberi nama PlayStation (nama berdasar pada kode saat melakukan perjanjian dengan Nintendo). Pada era ini juga tercatat beberapa konsol 16-bit lain, seperti Neo-Geo, PC-Engine/Turbografx-16 dan Philips CD-I, namun ketiganya tenggelam di bawah pamor Sega dan Nintendo. Pasar game sempat dibuat heboh ketika Panasonic mengeluarkan konsol game 3DO. Selain dapat memutar Audio CD dan VCD (dengan tambahan add-on), konsol ini memiliki prosesor 32-bit dan dapat menyajikan game dengan kualitas audio video setara film. Sayang, lagi-lagi konsol ini terpuruk di bawah nama Sega dan Nintendo. Anda pernah memainkan game pertarungan Street Fighter dan Mortal Kombat? Keduanya adalah game baku hantam yang juga menuai sukses pada era 16-bit. Street Fighter unggul dengan animasi dan gameplay, sementara Mortal Kombat menduduki posisi puncak karena adegan banjir darah dan jurus-jurusnya yang mematikan. Akibat pemunculan Street Fighter dan Mortal Kombat, senat Amerika memberlakukan Entertainment Software Rating Board (ESRB) karena terjadi kekerasan akibat videogame. Sistem rating ini diberlakukan tahun 1994 hingga sekarang. Era 16-bit ditutup pada tahun 1995, dan Nintendo keluar sebagai pemenang dengan menguasai 65% pasar dunia. Sega harus menerima kekalahan karena kegagalan periferal dan kurang baiknya manajemen pemasaran mereka. Generasi Kelima Era 32-bit dan 64-bit ini diawali dengan penyelenggaraan Electronic Entertainment Expo (E3) untuk pertama kalinya di Los Angeles Convention Center. Inilah ajang hiburan dan game terbesar di Amerika yang masih terus diadakan hingga sekarang. Selanjutnya, Sony merilis Sony PlayStation (1995), diikuti dengan Nintendo 64 (1996). Untuk kali ini, persaingan dimenangkan Sony karena Nintendo memutuskan untuk tidak meng-upgrade ke CD-ROM dan tetap menggunakan cartridge. Tentu saja developer lebih melirik CD-ROM, karena biaya produksi lebih murah dan kapasitas penyimpanan lebih besar. Sega pun merilis Sega Saturn, konsol game yang juga berbasis CD-ROM dan memiliki delapan prosesor. Sayang, konsol ini harus tersingkirkan oleh dominasi Nintendo dan Sony. Kegagalan juga dirasakan Atari, yang sudah lebih dahulu merilis konsol game 64-bit mereka, Jaguar. Hal itu dikarenakan banyaknya bug pada konsol dan kurangnya dukungan dari para pengembang game. Melihat kenyataan itu, Atari memutuskan untuk tidak memproduksi konsol lagi, dan fokus dalam pengembangan software. Gunpei Yokoi -- yang sebelumnya menjadi penggagas Gameboy -- membuat Gameboy Color dan Virtual Boy (konsol portabel berbentuk kacamata 3D). Sayang, Virtual Boy gagal meraih kesuksesan. Beberapa game yang berjaya pada generasi kelima ini adalah Super Mario 64, Tekken, Metal Gear Solid, Virtua Fighter, dan Final Fantasy VII. Kesemuanya telah mengimplementasikan teknologi 3D ke dalam game dan menjadi standar pembuatan game saat ini. Generasi Keenam Generasi keenam dibuka dengan peluncuran konsol terakhir Sega, Dreamcast (1999). Konsol unik ini memiliki fitur game online, dan merupakan konsol game 128-bit pertama. Sayang, Sega gulun tikar dan memutuskan untuk hengkang dari dunia konsol game dua tahun berikutnya. Pada tahun 2001, Sony menggeber PS2, disusul Nintendo dengan GameCube-nya. Kali ini, keduanya menuai kesuksesan yang hampir berimbang, meskipun PS2 masih menduduki peringkat teratas. Pada era ini, Nintendo mengeluarkan dua konsol genggam, yaitu Gameboy Advance, dan Nintendo DS, handheld terbaru Nintendo yang berlayar ganda dan memiliki fitur online serta touch sensitive. Sony pun mengeluarkan versi ekonomis dari PS, yaitu PSone. Lalu, mereka memproduksi handheld pertamanya, PlayStation Portable (PSP) yang hingga saat ini terus membayangi kesuksesan Nintendo DS. Game-game pada generasi ini sudah dapat disejajarkan dengan film. Selain animasi dan tata grafis yang memukau, pemain juga dapat menikmati tema lagu dan soundtrack seperti halnya film layar lebar. Tak hanya game konsol, game PC pun semakin berkembang. Yang paling nyata terlihat adalah munculnya berbagai game online, seperti Ragnarok Online (2003), Pangya, Final Fantasy XI, dan lain-lain. Generasi Ketujuh Masih terlalu dini untuk membeberkan apa yang akan terjadi dalam perkembangan videogame di generasi ini. Yang jelas, tiga konsol tercanggih akan mewarnai persaingan dalam industri videogame kali ini. Microsoft dengan XBox 360, sementara itu Sony dan Nintendo telah bersiap dengan PS3 dan Wii. Bagaimana jadinya? Kita tunggu saja! *) Penulis, Eko Ramaditya Adikara (Rama), adalah seorang tuna-netra yang gemar menulis menggunakan komputer. Penulis tergabung dalam Yayasan Mitra Netra (MitraNetra.or.id). Blog pribadinya dapat dibaca di alamat www.ramaditya.com. Keterangan Gambar: Konsol game Sega Genesis 1 (atas), Sony PlayStation (tengah) dan Rama (bawah). Sumber: Jeff's Collection (atas dan tengah) dan dbu/inet (bawah). "Catatan Rama" lainnya: -Video Game dari Generasi ke Generasi (1) - Basmi Pocong dengan Game Lokal - Bermain Game, Baik atau Buruk? - Khusus Tuna Netra, ATM Bisa 'Bicara' - Wii Virtual Console, Bagi Penggemar Game 80-an - Mengenal Google lebih Dekat - Berkenalan dengan YM Tak Resmi - Sulit Tidur? Gunakan Mesin Mimpi Indah (nks/nks)


Berita ini juga dapat dibaca melalui m.detik.com dan aplikasi detikcom untuk BlackBerry, Android, iOS & Windows Phone. Install sekarang!
Sponsored Link


 atau daftar untuk mengirim komentar
Tampilkan Komentar di:        

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Berita Terbaru Index »
Pro Kontra Index »

Nokia Android bakal Menggigit?

Nokia resmi memperkenalkan tiga seri Nokia X yang sudah mengusung sistem operasi Android. Mampukah tiga ponsel kelas menengah itu menggaet perhatian pasar?
Pro
56%
Kontra
44%


Must Read close