http://us.images.detik.com/logo_tematik/logodetikinet.png
 
 

Konsumen Merasa Dibodohi 'Meteran' Speedy

wicak - detikinet
Kamis, 05/10/2006 13:01 WIB
http://us.images.detik.com/content/2006/10/05/328/speedycloud.jpg
Jakarta - Sistem penagihan dan 'meteran bandwidth' Telkom Speedy ternyata masih membuat pusing pelanggan. Informasi tidak jelas, konsumen merasa dibodohi. Tahun 2004 layanan Telkom Speedy menuai banyak kritikan karena sistem penagihan (billing) yang melonjak tiba-tiba. Belakangan Speedy kembali dikeluhkan karena koneksi internasionalnya sempat mati total. Ternyata, masalah billing juga masih menghantui beberapa pengguna Speedy hingga kini. Simak saja kesaksian dari pembaca detikINET bernama Faizal. Faizal mengatakan, masalah lonjakan billing tahun 2004 terjadi bertepatan dengan perubahan Telkom MMA menjadi Speedy. "Nah, 2006 ini. Baru-baru ini kan ada perubahan skema tarif dan terjadilah masalah billing ini. Sepertinya Telkom memang selalu tidak siap dengan perubahan," tulis Faizal. Meski demikian, Faizal mengaku bisa 'mengatasi' kekacauan informasi soal billing karena ia menggunakan layanan Speedy+CBN. "Seperti kejadian tahun 2004 lalu tentang billing. Di saat 147 bilang tidak ada apa-apa, CBN menginformasikan sedang ada maintenance," ujarnya. "Mungkin ada untungnya juga menggunakan dua layanan yang berbeda, jadi ada cross check. Biarpun kami harus membayar lebih besar," Faizal menambahkan. Tak Percaya Pembaca detikINET lainnya, Apriyanto, juga mengeluhkan layanan Telkom Speedy yang digunakannya. Pada satu kesempatan, tulis Apri, tagihannya membengkak hingga Rp 2 juta. "Notabene saya menggunakan internet di rumah jarang sekali. Keanehan bertambah karena pada saat cross check ke speedy, saya hanya disuruh membayar Rp 325.000 saja," tulis Apri. Keanehan tidak berhenti di situ, Apri mengatakan sebelumnya ia telah menandatangani kontrak dan meminta pembatasan penggunaan maksimal Rp 300.000. "Kayaknya saya sudah tidak percaya lagi sama produk TELKOM. Bukannya tambah membantu, malahan tambah ruwet," Apri menandaskan. Rainer P. Tobing, pengguna Speedy dan pembaca detikINET, mempertanyakan cara perhitungan penggunaan Speedy. Rainer mengaku telah menanyakan hal ini pada Telkom, namun ia tak beroleh jawaban. Berikut kutipan surat Rainer pada Telkom:
Saya adalah pelanggan Speedy dengan kuota 750 Mb. Saat ini saya merasakan penggunaan Speedy saya tidak sebagaimana mestinya, terasa sangat banyak dalam download, untuk membuka dan membaca berita di Detik Com dan Rakyat Merdeka saja saat ini bisa mencapai lebih dari 6 Mb. Pada waktu quota masih 500 mb, apabila saya membuka Detik Com dan lainnya, paling banyak hanya 2 Mb, dan itupun sudah membaca semua berita. Bersama ini saya mohon penjelasan Telkom bagaimana cara Telkom menghitung penggunaan?, dan apa dasar pengukuran perhitungan download?, apakah ada meteran / tolok ukur yang digunakan untuk mengukur? seperti mengukur pulsa Telepon?, apakah kita bisa meminta data pengukuran tersebut?
Merasa Dibodohi Gregorius, pembaca detikINET yang baru dua bulan berlanggan Speedy, juga mengeluhkan sistem billing dan meteran bandwidth. Greg mengaku terkejut dengan besaran tagihan yang diterima, ia juga kaget dengan jatah bandwidth-nya yang menurun drastis dengan cepat. "Ada banyak keanehan pada tabel pemakaian. Saat kita mengirim email ternyata yang bertambah tidak hanya angka upload, tetapi juga download. Hal yang sama juga berlaku saat kita download," ia menuliskan. Bahkan, ujar Greg, saat baru mengaktifkan modem angka upload dan download pemakaian Speedy-nya segera bertambah. "Sempat saya baca tentang akibat virus, itu adalah alasan Telkom Speedy saja. Saya percaya kita semua dibodohi," tukasnya. (wsh) (wicak/wicak)


Berita ini juga dapat dibaca melalui m.detik.com dan aplikasi detikcom untuk BlackBerry, Android, iOS & Windows Phone. Install sekarang!
Sponsored Link


 atau daftar untuk mengirim komentar
Tampilkan Komentar di:        

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Pro Kontra Index »

Nokia Android bakal Menggigit?

Nokia resmi memperkenalkan tiga seri Nokia X yang sudah mengusung sistem operasi Android. Mampukah tiga ponsel kelas menengah itu menggaet perhatian pasar?
Pro
55%
Kontra
45%


Must Read close