detikinet

Diskusi di detikINET

Jurnalis 'USA Today' Dialog dengan Aktifis TI Indonesia

Commdev - detikinet
Jumat, 22/09/2006 20:55 WIB

Suasana Diskusi (wsh/inet)

Jakarta - Elizabeth Weise, salah satu dedengkot jurnalis bidang teknologi informasi (TI) dari USA Today bertandang ke kantor detikINET. Berhadapan dengan para aktivis akar rumput (grassroot) TI tanah air, suasana di dalam ruang diskusi, Selasa (19/9/2006), menghangat dengan berbagai topik bahasan. Weise berkunjung didampingi oleh Asisten Atase Kebudayaan Kedubes AS Scott Charles Bolz dan Asisten Informasi Benny Junito tersebut. Sebelum memulai diskusi pada pukul 17.00 WIB, Weise menyempatkan diri melihat proses kerja seluruh awak detikcom. Weise pun mendapatkan penjelasan dari Pimpinan Redaksi Budiono Darsono, didampingi Redaktur Pelaksana tentang mekanisme kerja, proses bisnis dan tipikal pembaca detikcom. "Suasana kerjanya (detikcom) seperti di kantor Yahoo," cetus Weise. Langsung saja cetusan tersebut di-samber secara bercanda oleh Donny, "ya, tetapi di sini belum ada meja biliar-nya". "Wah, kalau Anda memang menghasilkan uang, maka tidak ada alasan untuk tidak memiliki sebuah meja biliar di sini," timpal Bolz. Diskusi Usai berdialog dengan tim redaksi, Weise yang pernah bertahun-tahun menjadi wartawan TI di Associated Press dan kini menjadi wartawan khusus iptek di USA Today tersebut, mulai melakukan dialog dengan para penggiat TI di Indonesia. Ahmad Suwandi dan Sahaluddien dari Yayasan Air Putih, menjelaskan mengembangkan sistem peringatan dini (early warning system) bencana. Dijelaskan Suwandi, pengembangan sistem tersebut berkolaborasi dengan operator seluler, stasiun radio dan televisi, yang berperan menyebarkan peringatan bencana ke masyarakat. Selain sibuk mencatat dan bertanya, Weise juga mendapat pertanyaan dari peserta diskusi yang ingin tahu seperti apa sistem peringatan dini yang ada di Amerika Serikat saat ini. Weise pun menjelaskan bahwa di negerinya diimplementasikan sistem peringatan dini yang ditujukan untuk memberi peringatan akan adanya bencana pada warga. "Peringatan ada yang disampaikan lewat e-mail. Begitu ada bencana, kita langsung mendapat e-mail. Kita juga bisa melaporkan kepada badan yang berwenang, jika kita merasakan ada bencana alam di sekitar kita," paparnya. Jawaban Weise langsung direspon canda ringan dari para peserta diskusi. "Wah, kalau di sini mana bisa pakai e-mail. Bisa-bisa kita terlambat menyelamatkan diri kalau harus ngecek e-mail dulu," ujar Bona Simanjuntak, peserta diskusi dari ICT Centre. Diskusi pun berlanjut ke berbagai topik lainnya, seputar gerakan para aktivis TI dalam mengupayakan kemajuan di bidangnya masing-masing, seperti open source, SMS Rakyat, dan Voice over Internet Protocol (VoIP) Rakyat. Anton Raharja, dari ICT Center menjelaskan bahwa secara teknis, VoIP Rakyat sudah siap melakukan interkoneksi dengan sistem telepon yang sudah ada, baik telepon bergerak (seluler) maupun telepon tetap. Namun, regulasi yang ada belum memungkinkan hal itu terjadi. Jurnalis Tuna Netra Beberapa pengggiat TI di Indonesia yang hadir dan turut berbagi informasi antara lain aktifis Linux Prihantosa, anggota Presidium Asosiasi Warnet Indonesia Michael Sunggiardi, aktifis 2,4 Ghz Yohannes Sumaryo dan praktisi hukum ICT Watch Rapin Mudiardjo. Bahkan Eko Ramaditya Adikara, seorang tuna netra yang telah lama malang melintang dalam dunia TI, juga turut berbagi cerita. Dengan bahasa Inggris yang lumayan fasih, Rama kemudian memaparkan pengalamannya berkutat dengan komputer. Rama yang rutin menulis artikel di detikINET tersebut dan beberapa media massa lainnya, juga bercerita kiatnya dalam mencari bahan tulisan. MitraNetra.or.id, menurut Rama, adalah juga merupakan salah satu media bagi Rama dalam menuangkan hobi jurnalistiknya. Weise pun banyak mengajukan pertanyaan kepada Rama. Semisal, tentang software yang digunakannya untuk membantu Rama dalam mengoperasikan komputer. Diskusi pun terpaksa harus usai pukul 18.30 WIB, selain karena jadwal sudah ditentukan demikian, Weisei pun tampak lelah. "Mohon maaf, saya baru datang kemaren. Saya masih jetlag," ujarnya ketika berpamitan. Beberapa dari peserta diskusi masih tetap tinggal, hingga pukul 20.00 WIB. Tak ada acara tambahan pastinya, selain sekedar untuk beramah-tamah penuh canda dan serba geerrr. *) Keterangan foto: - 1 & 2 : Suasana Diskusi - 3 : Elizabeth Weise berfoto di depan wallpaper detikcom
( nks / nks )

Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Share:

Komentar (0 Komentar)


    Klik disini untuk berkomentar menggunakan account anda :

    Facebook Login Twitter Login detikID Login


    Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
    Informasi pemasangan iklan
    hubungi : sales[at]detik.com
    Pro Kontra Index »

    Galaxy S III Smartphone Terbaik Saat Ini?

    Performa Galaxy S III terbilang menjanjikan. Ia mengusung quadcore, layar Gorilla Glass 2, serta fitur melimpah. Tak pelak, Samsung mengklaim Galaxy S III sebagai smartphone terbaik saat ini. Anda setuju?
    Pro
    50%
    Kontra
    50%