detikinet

Weekly Review

Topeng Monyet Internet

Wicaksono Hidayat - detikinet
Senin, 24/07/2006 12:18 WIB

ilustrasi (diolah/wikipedia/inet)

Jakarta - Sarimin si monyet dibawa berkeliling dengan rantai di lehernya. Diiringi suara genderang, tingkah polahnya jadi hiburan murah meriah. Setelah itu, maukah para penonton 'memelihara monyet'? Sama seperti Sarimin, internet juga diseret-seret ke berbagai tempat. Dibawa dan dipamerkan, agar penonton terkesan dan terkesima. Namun setelah itu, belum tentu mereka yang terkesima mau 'memelihara monyet' alias memiliki koneksi internet sendiri di rumahnya. Apa sebabnya? Salah satu yang paling utama adalah biaya. Bukan hanya harga koneksi internet, atau yang keren disebut dengan harga bandwidth, tapi juga biaya terkait lainnya termasuk harga komputer dan listrik. "Untuk makan saja pas-pasan, apalagi untuk internet," keluh seorang ayah yang sebenarnya ingin memasang internet bagi anak-anaknya di rumah. Internet Pergi Ke Sekolah Sarimin diberikan sebatang kapur dan sebuah papan tulis. Pawang pun berteriak, sambil mengubah ketukan genderang dan tarikan kekang, "Sarimin pergi ke sekolaaah! Ayo Min, belajar Min!" Lalu monyet yang belum tentu namanya memang Sarimin itu pun menggoreskan kapur pada papan tulis. Dia bukan lumba-lumba, jadi tak bisa berhitung. Tapi aksinya sudah cukup membuat geli anak-anak yang berkerumun. Sama seperti Sarimin, internet pun dibawa ke sekolah-sekolah. Murid-murid dan guru (harapannya) dibuat terpesona dengan 'makhluk' yang bernama internet. Internet Goes to School (IG2S) adalah program Telkom yang membawa internet ke berbagai sekolah di pelosok Indonesia. Seperti diilustrasikan dalam iklan yang 'menyentuh', IG2S membawa internet ke sekolah yang benak murid-muridnya masih dipenuhi berbagai pertanyaan seputar internet. Namun sebelum IG2S, yang megah dengan berbagai iklan dan publikasinya, internet sudah pergi ke sekolah. Adalah upaya teman-teman di Jaringan Internet Sekolah (JIS), yang kini dikenal dengan sebutan ICT Centre, yang menghubungkan berbagai sekolah kejuruan di berbagai daerah ke internet. Setelah ada internet di sekolah, apakah murid-murid kemudian akan memiliki akses internet di rumah? Itu tergantung dari kemampuan orang tua masing-masing. 'Memelihara monyet' tentu jauh lebih susah daripada 'menonton monyet'. Ada satu hal lagi yang perlu ditanyakan selain akses internet di rumah. Pertanyaan yang berikut ini mungkin lebih penting: Bagaimana murid-murid memanfaatkan internet? Dalam iklan IG2S Telkom seakan-akan ada penegasan mitos bahwa 'semua bisa dicari di internet'. Kenyataannya, belum semua informasi yang ada di muka bumi ini terdapat di internet. Meskipun ada, belum tentu semua informasi itu bermanfaat bagi murid sekolah. Ini jadi tantangan buat penggiat internet di Indonesia. Mampukah kita menghadirkan konten yang bisa bermanfaat bagi murid-murid sekolah? Internet Pergi ke Pasar Sarimin lelah tapi tak ada yang peduli. Pawang menyentak kekangnya dan mengubah ketukan genderang. "Sarimin pergi ke pasaaar! Ayo Min, belanja Min!" seru sang pawang. Selain bisa pergi ke pasar, di Internet juga ada pasar. Istilah kerennya e-commerce alias perdagangan online. Sebagai pasar, internet seharusnya bisa menjadi tempat terjadinya jual-beli, baik barang maupun jasa. Contoh 'besar' internet sebagai pasar adalah kesuksesan toko online Amazon.com dan lelang online e-Bay. Di Indonesia, 'pasar internet' masih belum merasuk layaknya e-Bay dan Amazon. Beberapa toko-toko online memang sudah cukup sukses menjual barang via internet. Namun kebanyakan masih sebatas etalase online, sederhananya: 'lihat barang online, bayarnya offline'. Penghambat berkembangnya pasar itu adalah rendahnya kepercayaan masyarakat terhadap transaksi finansial di internet. Selain itu juga ada faktor suburnya mitos internet sebagai tempat mendapatkan barang-barang gratis. Seorang rektor sebuah universitas negeri pernah mengatakan ini pada pekerja yang hendak memasang internet di ruangannya. "Internet itu hebat ya. Itu anak saya bisa dapat barang-barang gratis dari internet!" Berbeda dengan internet, transaksi via ponsel (SMS) ternyata lebih mudah diterima masyarakat. Contohnya membeli pulsa via SMS, download content, membayar jasa ring back tone, hingga transfer pulsa. Agaknya hanya menunggu waktu saja sampai transaksi yang lebih 'konvensional' juga bisa dilakukan via SMS. Beli baju? SMS saja. Makan di restoran, bayarnya? SMS saja. Internet pergi ke pasar? Terlambat, pasarnya sudah 'masuk kantung'! (wsh) Penulis adalah wartawan teknologi informasi di kanal detikINET, situs berita www.detik.com. Penulis bisa dihubungi melalui e-mail wicak[at]staff.detik.com. Tulisan ini merupakan pendapat pribadi dan tidak menggambarkan sikap/pendapat tempat institusi penulis bekerja.
( wsh )

Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Share:

Komentar (0 Komentar)


    Klik disini untuk berkomentar menggunakan account anda :

    Facebook Login Twitter Login detikID Login


    Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
    Informasi pemasangan iklan
    hubungi : sales[at]detik.com
    Pro Kontra Index »

    Galaxy S III Smartphone Terbaik Saat Ini?

    Performa Galaxy S III terbilang menjanjikan. Ia mengusung quadcore, layar Gorilla Glass 2, serta fitur melimpah. Tak pelak, Samsung mengklaim Galaxy S III sebagai smartphone terbaik saat ini. Anda setuju?
    Pro
    50%
    Kontra
    50%