BERITA TERBARU
Sabtu, 06 Jan 2018 15:15 WIB

Di Jerman, Medsos Biarkan Kebencian Didenda Rp 805 Miliar

Agus Tri Haryanto - detikInet
Ilustrasi. Foto: Gettyimages Ilustrasi. Foto: Gettyimages
Jakarta - Pemerintah Jerman telah menerapkan aturan tegas bagi penyelenggara media sosial yang tidak gerak cepat mengatasi hate speech (ujaran kebencian-red). Denda sebesar USD 60 juta atau Rp 805 miliar menanti media sosial bila melanggarnya.

Denda tersebut berlaku bagi media sosial seperti Facebook, Twitter, hingga YouTube jika tidak menurukan postingan berbau hate speech di platform-nya dalam 24 jam terhitung setelah menerima keluhan. Dan, kebijakan Jerman ini resmi bergulir sejak 1 Januari 2018.

Dikutip detikINET dari Cnet, Sabtu (6/1/2018), Undang-Undang hate speech itu sejatinya telah disahkan pada Juni tahun lalu. Kemudian diberlakukan pada Oktober, tetapi Pemerintah Jerman memberikan masa tenggang dan baru efektif mulai 1 Januari 2018.

Undang-Undang yang dikenal dengan sebutan Netzwerkdurchsetzungsgesetz (NetzDG) ini menjadi upaya ketegasan Jerman dalam memerangi maraknya ujaran kebencian yang beredar di jejaring sosial.

NetzDG mewajibkan setiap penyelenggara media sosial di Jerman segera menerapkan sistem menghapus konten ujaran kebencian, hoax, ancaman kekerasan, dan konten negatif lain. Pemerintah Jerman memberi waktu Facebook dkk membersihkan konten negatif dengan batas 24 jam dan 7 hari untuk kasus kompleks.

Selain meminta perusahaan media sosial untuk bertindak cepat, NetzDG juga mendorong mereka agar menerapkan struktur keluhan yang komprehensif sehingga dapat segera dilaporkan ke stafnya.

Dampak dari aturan NetzDG, dilansir BBC, Twitter baru saja memperbarui panduan dalam menangani hate speech. Begitu juga yang dilakukan Facebook, di mana merekrut staf tambahan di Jerman untuk menangani laporan konten yang melanggar NetzDG.

Sejauh ini, Jerman merupakan negara paling tegas kepada perusahaan media sosial agar mengatasi persoalan ujaran kebencian yang marak berkembang. Beberapa waktu ke belakang, media sosial memang jadi sorotan karena menjamurnya hate speech sampai hoax di platform mereka masing-masing (agt/fyk)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed
  • Unik, Ada Go-Jek Bentor di Gorontalo

    Unik, Ada Go-Jek Bentor di Gorontalo

    Minggu, 27 Mei 2018 20:10 WIB
    Go-Jek kini telah resmi hadir di Gorontalo. Kehadiran layanan ini melalui kemitraan dengan para pengemudi becak motor atau yang sering disebut dengan bentor.
  • Ada Jutaan Anak Muda yang Diblokir WhatsApp

    Ada Jutaan Anak Muda yang Diblokir WhatsApp

    Minggu, 27 Mei 2018 19:03 WIB
    Jutaan pengguna WhatsApp tak bisa menggunakan layanan chat milik Facebook tersebut. Kebijakan pemblokiran ini diberlakukan bagi pengguna di bawah 16 tahun.
  • Leica Tutup Riwayat Kamera Ikonik M7

    Leica Tutup Riwayat Kamera Ikonik M7

    Minggu, 27 Mei 2018 17:07 WIB
    Seri M bisa dibilang adalah lini kamera jagoan buatan Leica. Umurnya pun terbilang panjang, seperti seri M7, yang pertama dirilis pada 2002 silam.
  • Palapa Ring Paket Tengah Hampir Rampung

    Palapa Ring Paket Tengah Hampir Rampung

    Minggu, 27 Mei 2018 16:16 WIB
    Menteri Kominfo Rudiantara menargetkan penggelaran kabel serat optik untuk Palapa Ring paket tengah akan selesai pada Agustus dan bisa beroperasi September.
  • Bitcoin Masih Jadi Favorit Para Kriminal

    Bitcoin Masih Jadi Favorit Para Kriminal

    Minggu, 27 Mei 2018 15:10 WIB
    Bagi yang berinvestasi Bitcoin harus waspada. Mata uang digital paling populer ini ternyata masih jadi primadona para pelaku kejahatan siber di seluruh dunia.
  • Bapak Android Belum Mau Menyerah

    Bapak Android Belum Mau Menyerah

    Minggu, 27 Mei 2018 14:06 WIB
    Essential kini ada di ujung tanduk. Sebab, pengembangan ponsel baru di bawah naungan bapak Android terancam dibatalkan, bahkan sampai perusahaannya mau dijual.
  • Akses 4G XL Tembus 376 Kota/Kabupaten

    Akses 4G XL Tembus 376 Kota/Kabupaten

    Minggu, 27 Mei 2018 13:02 WIB
    Selain memperluas akses jaringan 4G, operator seluler XL Axiata yang identik dengan warna biru itu juga melakukan perluasan jaringan 4,5G di 100 kota/kabupaten.