BERITA TERBARU
KONSULTASI CYBERLIFE
Dewi Widya Ningrum
Dewi Widya Ningrum
Dewi Widya Ningrum adalah seorang mantan jurnalis, ia pernah bekerja di beberapa media online besar di Indonesia sejak awal 2005 hingga akhir 2015. Sejak 2008, Dewi yang suka travelling ini juga aktif membantu kampanye program Internet Sehat yang digagas oleh ICT Watch.

Dewi dapat dihubungi via email dew.ningrum[at]gmail.com atau blogwww.dewningrum.com
Senin, 19 Sep 2016 15:49 WIB

KlinikINET

Bahaya Memposting Foto Anak di Media Sosial

Konsultan: Dewi Widya Ningrum - detikInet
Foto: GettyImages Foto: GettyImages
Jakarta - Saya memposting foto anak saya dan temannya ke media sosial. Tidak lama kemudian ibunya meminta saya untuk menghapus foto itu karena saya tidak ijin dulu. Apa salah meng-upload foto anak-anak ke media sosial? [Lina]

Jawaban:

Ibu Lina yang baik, memposting foto orang lain ke media sosial (meskipun Anda yang memotretnya), bagi sebagian orang dianggap melanggar privasi mereka. Tidak semua orang suka fotonya dibagikan di dunia maya, termasuk foto anak-anak mereka.

Sejak media sosial booming, salah satu kegiatan yang paling banyak digemari pengguna adalah 'pamer' foto, entah itu foto kegiatan sehari-hari, foto kebersamaan dengan teman dan keluarga saat liburan, lengkap dengan infonya yang sangat detil.

Kegiatan 'pamer' foto di media sosial ini juga banyak dilakukan para orangtua, terutama ibu yang memilik balita. Berbagai pose anak diposting, dan tampaknya ini sudah menjadi tren. Seakan-akan penghuni media sosial perlu diberi tahu mereka lagi apa, sedang sama siapa dan dimana. Kalau tidak dianggap tidak kekinian.

Tidak ada yang salah dengan memposting foto. Tapi sebaiknya Anda mengetahui beberapa fakta ini sebelum memposting foto anak orang lain, atau sebaliknya, membiarkan orang lain men-share foto anak Anda.

Pertama, memposting foto-foto anak ini berarti Anda merekam jejak digital mereka. Suatu hari, saat anak masuk sekolah, mereka mungkin tidak ingin foto-foto mereka saat bayi, saat lagi telanjang dan menggunakan popok saja misalnya, bertengger di dunia maya dan dilihat oleh teman-teman mereka. Anak bisa saja merasa dieksploitasi.

Kedua, setelah Anda memposting foto di media sosial, foto-foto itu tidak lagi dapat Anda kontrol penggunaannya. Orang lain bisa saja dengan mudah menyalin foto tersebut, lalu men-tag, menyimpan, atau menggunakannya untuk keperluan lain yang nantinya dapat merugikan si pemilik foto - Anda tidak pernah tahu.

Semua status dan foto yang Anda posting merupakan informasi yang berharga bagi para pengiklan dan pengumpul data. Kalau Anda rajin memposting foto anak misalnya, ini menunjukkan Anda mungkin tertarik pada produk bayi.

Sikap terlalu terbuka di dunia maya bisa berujung bahaya. Terkait hal ini, menurut informasi di situs TheVerge, kepolisian Prancis bahkan telah mengeluarkan imbauan kepada para orangtua agar tidak sembarang memposting foto atau video anak ke media sosial karena melanggar privasi anak. Selain itu, aksi pamer foto ini memungkinkan predator online berbuat jahat.

Di bawah hukum privasi Prancis bahkan disebutkan, siapapun yang mempublikasikan dan mendistribusikan foto seseorang tanpa meminta izin bisa dikenakan hukuman penjara hingga satu tahun dan denda 45.000 euro.

Media sosial memang tidak pernah melarang Anda untuk berbagi foto-foto anak. Namun mengingat resiko yang dapat ditimbulkan kelak, sebaiknya kita sendiri yang harus sadar dan menjaganya.

Paling tidak, Anda dapat meminimalkan konsekuensi berbagi foto dengan beberapa tindakan pencegahan. Misalnya: gunakan pengaturan privasi (privacy setting), buat batasan siapa saja yang boleh melihat postingan Anda (hanya keluarga, misalnya), matikan GPS ponsel Anda, atau Anda bisa menggunakan situs berbagi foto seperti Picasa dan Flickr yang mengharuskan pengguna login untuk melihat gambar (tidak seperti di media sosial, dimana semua pengikut Anda dapat melihatnya). (jsn/ash)
Load Komentar ...

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed