KONSULTASI CYBERLIFE
Dewi Widya Ningrum
Dewi Widya Ningrum
Dewi Widya Ningrum adalah seorang mantan jurnalis, ia pernah bekerja di beberapa media online besar di Indonesia sejak awal 2005 hingga akhir 2015. Sejak 2008, Dewi yang suka travelling ini juga aktif membantu kampanye program Internet Sehat yang digagas oleh ICT Watch.

Dewi dapat dihubungi via email dew.ningrum[at]gmail.com atau blogwww.dewningrum.com
Jumat, 16 Sep 2016 11:31 WIB

KlinikINET

Jangan Asal Sebar Informasi di Medsos

Konsultan: Dewi Widya Ningrum - detikInet
Foto: GettyImages Foto: GettyImages
Jakarta - Di media sosial ada banyak sekali update informasi. Terkadang saya ikut share meski baru baca judulnya aja, tapi setelah baca isinya ternyata gak jelas sumbernya. Bagaimana sebaiknya?

Jawaban:

Media sosial sudah menjadi bagian dari kehidupan hampir setiap orang. Layanan ini dibuat agar penggunanya bisa bersosialisasi dari mana saja, atau untuk sekadar mencari teman baru atau bertemu teman lama. Tak sedikit pula orang yang menjadikan media sosial sebagai buku diary alias tempat curhat. Curhat di media sosial boleh-boleh saja, asal sesuai porsinya dan layak dilihat publik serta tidak menjelek-jelekkan orang lain.

Fungsi lain dari media sosial adalah sebagai alat berbagi update informasi di sekitar pengguna seperti pantauan macet, banjir, hingga tempat nongkrong. Saat terjadi ledakan bom di Hotel JW Marriot beberapa tahun lalu, informasi pertama yang memuat kejadian tersebut justru dari pengguna media sosial yang sedang berada di dekat lokasi kejadian. Media mainstream kemudian memberitakannya, lalu mengembangkannya lagi.

Seiring perkembangannya, ada pihak-pihak tertentu yang sengaja memanfaatkan layanan media sosial untuk menebar informasi hoax atau yang provokatif, termasuk yang bernada kebencian (hate speech).

Dan sayangnya, tidak semua pengguna media sosial bijak dalam menyaring informasi yang mereka dapat. Mereka langsung men-share ulang kabar yang beredar di media sosial. Padahal mungkin informasi itu dapat memancing permusuhan terkait SARA misalnya.

Perlu diketahui, ada banyak oknum yang sengaja membuat situs radikal untuk tujuan memecah belah. Bahkan ada orang yang sengaja membuat situs seperti itu hanya untuk mendapatkan uang melalui iklan lewat Google AdSense. Pendapatan yang diperoleh situs-situs tersebut dari AdSense per harinya bisa mencapai jutaan rupiah lho... dan mereka hanya bekerja dari rumah.

Pentingnya self-filtering

Pemerintah beberapa waktu lalu sempat memblokir sejumlah situs radikal. Namun menurut saya, pemblokiran bukanlah satu-satunya solusi. Masih ada cara lain yang lebih efektif, yaitu dengan melibatkan pengguna internet sendiri.

Dalam setiap kampanye Internet Sehat, program yang digagas ICT Watch, kami lebih mengedepankan pada pendekatan self-filtering daripada melakukan pemblokiran. Bukan berarti kami tidak setuju dengan blokir, tapi melakukan pemblokiran tidak akan pernah ada habisnya. Karena setiap hari ada ratusan ribu situs pornografi/radikal yang muncul, atau ada banyak pesan hoax yang disebar.

Dengan pendekatan self-filtering, setiap orang diimbau untuk menyaring informasi yang diterimanya lebih dulu sebelum mempostingnya. Kalau misalnya ada akun yang menyebarkan informasi yang membuat Anda tidak nyaman, sebaiknya laporkan postingan tersebut (Report post) atau mengklik "I don't like this post". Jika ada akun yang dirasa sudah sangat mengganggu, Anda bisa memblokir, meng-unfollow/unfriend akun tersebut.

Jika Anda ikut menyebarkan informasi hoax atau hate speech di media sosial, itu berarti Anda ikut membantu menyebarkannya. Karena itu setiap pengguna media sosial diimbau agar "Think before posting", "Wise while online". Media sosial sebaiknya dimanfaatkan untuk berbagi hal-hal yang bermanfaat dan inspiratif. (jsn/fyk)
-
Load Komentar ...

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed