Selasa, 02 Mei 2017 09:43 WIB

Gelora Bung Kamto

Silicon Valley dan Visi Pergi ke Bulan

Penulis: Yansen Kamto - detikInet
Foto: dok. JFKLibrary Foto: dok. JFKLibrary
Jakarta - "We choose to go to the Moon! We choose to go to the Moon in this decade and do the other things, not because they are easy, but because they are hard; because that goal will serve to organize and measure the best of our energies and skills, because that challenge is one that we are willing to accept, one we are unwilling to postpone, and one we intend to win."

Paragraf di atas adalah penggalan pidato John F. Kennedy, Presiden Amerika Serikat ke-35, pada tanggal 12 September 1962. JFK, begitu panggilannya, adalah salah satu tokoh dunia yang begitu visioner.

Di tulisan kali ini saya ingin mengupas visi seorang JFK hanya dari satu paragraf di atas. Hal ini kemudian coba saya kaitkan dengan semangat entrepreneurial para founder yang membangun ekosistem tech startup di Silicon Valley.

1. Memulai dengan visi besar

Me, saya, visi adalah sebuah tujuan yang dibayangkan. Sesuatu yang tidak ada sebelumnya. Sesuatu yang besar. Idealnya, visi haruslah sesuatu yang dianggap banyak orang sebagai tidak mungkin. Sesuatu yang dianggap terlalu gila untuk orang awam.

"We choose to go to the moon!" bukan hanya dianggap gila, tapi bahkan hampir tidak bisa dibayangkan.

Jadi, mulailah dengan ide membangun sebuah startup dengan visi besar berskala global, bukan hanya untuk Indonesia. Hampir semua founder muda yang saya temui di Silicon Valley mengatakan bahwa mereka mau mengubah dunia menjadi lebih baik lewat solusi digital yang mereka tawarkan.

Terdengar klise, namun saya yakin memang itulah yang membedakan founder Silicon Valley dengan siapapun, terutama dengan mereka yang hanya ingin menjadi kaya raya membeli beberapa petak sawah dan beberapa ekor sapi di kampung, atau cuma sekadar poligami.

2. Menempuh jalan yang lebih sulit

"We choose to go to the moon in this decade and do the other things, not because they are easy, but because they are hard."

Jalan yang sulit, berbatu, berlubang, menanjak, adalah jalan yang tidak dipilih banyak orang. Sementara jalan yang mulus, lurus, tanpa halangan, adalah jalan yang dilalui banyak orang. Hidup adalah tentang pilihan.

Entrepreneur adalah jenis manusia yang memilih jalan yang lebih sulit, mencoba memecahkan masalah yang dianggap tidak bisa dipecahkan, serta mau berkorban dengan melakukan hal besar untuk kepentingan orang banyak.

Oleh karena itulah, Silicon Valley sudah menghasilkan banyak penemuan yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Jangan harap bisa jadi orang besar yang dikenang banyak orang kalau selama ini cuma mau main aman.

3. Memaksimalkan tenaga dan kemampuan

"Because that goal will serve to organize and measure the best of our energies and skills."

Diberkahi iklim tropis dengan segala sumber daya alam yang berlimpah sebenarnya menjadikan banyak manusia Indonesia tidak seambisius ataupun sekompetitif bangsa lain yang hidup serba berkekurangan. Beberapa teman saya lebih suka berkumpul tanpa tujuan, karena pedoman hidupnya adalah "makan gak makan, yang penting ngumpul".

Saya juga mengenal banyak orang tua yang meminta anaknya agar tidak perlu terlalu ngoyo dalam hidup dan jangan bekerja terlalu keras. Yang penting bisa makan, nak! Pokoknya jam 7 malam harus sampai di rumah untuk berkumpul bersama, makan nasi plus kecap saja udah syukur.

Sementara itu, Silicon Valley disesaki para imigran yang ingin mengubah dunia dan hidupnya mereka. Beda banget sama di sini yang masih sebatas membahas tentang perbedaan gara-gara warna kulit, ukuran mata, serta seberapa sering beribadah.

4. Bermental pemenang

"Because that challenge is one that we are willing to accept, one we are unwilling to postpone, and one we intend to win."

Semua pemenang itu memiliki mental pejuang dan petarung, di mana mereka akan bangkit di saat gagal, belajar dari kesalahan, kemudian mencoba lagi, mungkin gagal lagi, tapi tetap mencoba, hingga akhirnya menang.

Di Silicon Valley, founder yang pernah mengalami berbagai kegagalan dan akhirnya bisa bangkit hingga mencapai kesuksesan, akan lebih dihargai dibanding founder hebat yang tidak pernah gagal sebelumnya.

Mentalitas yang memandang kegagalan sebagai sesuatu yang tabu haruslah dihapus, jika bangsa ini mau menjadi bangsa pemenang. Bisa dimulai, misalnya dengan kembali mendekati gebetan yang pernah menolak cintanya kamu.

Jika bangsa Amerika telah bermimpi mencapai bulan di tahun 1962, masa kita masih saja didorong untuk bekerja dan bekerja di tahun 2017 ini? Tapi sekali lagi, hidup adalah tentang pilihan. Menjadi kuli, babu, dan tukang juga sebuah pilihan. Tidak salah sama sekali!


*Penulis adalah Chief Executive KIBAR, sebuah perusahaan yang fokus membangun ekosistem startup digital melalui program pembangunan kapasitas, inkubasi, dan akselerasi. Bersama berbagai komunitas, universitas, media, korporasi, dan pemerintah dengan visi yang sama, penulis menggagas program Innovative Academy UGM, StartSurabaya, dan Gerakan Nasional 1000 Startup Digital. (rou/rou)
-
Load Komentar ...

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed