BERITA TERBARU
Selasa, 14 Feb 2017 16:27 WIB

Resident Evil 7: Kembali ke Fitrah Game Horor

Angga Aliya ZRF - detikInet
Foto: screenshot detikINET Foto: screenshot detikINET
Jakarta - Ibarat Idul Fitri di mana kita saling memaafkan dan memulai kembali dari nol, itulah Resident Evil 7: Bioahazard (versi Jepangnya, Biohazard 7: Resident Evil). Bukan berarti di dalam gamenya kita saling maaf-maafan, tapi game terbaru dari Capcom ini ibarat permintaan maaf kepada para penggemar Resident Evil.

Sudah lama para penggemar game survival horror tidak disuguhkan judul dan permainan menarik dari seri Resident Evil. Beberapa game di seri Resident Evil 7 setelah Resident Evil 4 yang kurang meledak di pasaran.

Apalagi makin ke sini, genre-nya makin bergeser dari survival horror menjadi horror-shooting. Nah, di edisi terbaru ini, Resident Evil kembali ke awal alias mulai lagi dari nol dan mengambil kembali semua elemen horor yang pernah ada di game pertama Resident Evil.

Kengerian itu ditambah dengan sudut pandang orang pertama (first person), berbeda dengan Resident Evil 1 yang menggunakan sudut pandang orang ketiga (third person). Bisa dijamin betapa ngerinya memainkan game ini, di mana gamer seolah masuk di dalam permainan.

Yuk, kita maafkan seri-seri Resident Evil sebelumnya, mulai dari nol lagi dengan berbagai unsur Resident Evil original dan horor yang mencekam lewat Resident Evil 7.


Jalan Cerita Mencekam dan Menegangkan

Foto: screenshot detikINET

Resident Evil 7 benar-benar menghilangkan tradisi yang dihadirkan di seri-seri sebelumnya. Tak hanya dari segi gameplay, tapi juga alur cerita dan penokohan.

Ketika pertama kali melihat trailer, kami sudah mengesampingkan harapan akan tokoh utama seperti Chris Redfield, Claire Redfield, Leon S. Kennedy, dan semua yang pernah Anda kenal di seri terdahulu. Dan ini benar terjadi ketika game dirilis.

Tidak ada tokoh 'hero' seperti yang disebut di atas. Seperti yang pernah dikatakan oleh sang produser Masachika Kawata, Andalah yang berperan sebagai hero dalam sudut pandang pertama. Namun, tetap ada tokoh utama yang menggabungkan benang merah dalam cerita yang disajikan.

Tokoh utama game ini adalah Ethan Winters, seorang pria yang kehilangan istrinya, Mia, selama tiga tahun. Ia pun mendapat pesan terakhir dari sang istri pada tahun 2014 lalu. Di situ Mia mengatakan bahwa ia berjanji akan pulang ke rumah dalam waktu dekat.

Foto: screenshot detikINET

Selang tiga tahun, ia kembali mendapat pesan dari Mia tentang keberadaannya. Lewat video, Mia memberi tahu Ethan untuk menjemputnya di sebuah rumah milik keluarga Baker di Dulvey, Louisiana, Amerika Serikat. Dalam video Mia tampak sangat ketakutan. Hal inilah yang membuat Ethan tidak tega dan membulatkan tekad menjemput istri tercinta.

Di sinilah masalah bermula. Rumah kosong yang disebutkan Mia dalam pesannya itu ternyata tidak benar-benar kosong. Setelah masuk ke dalam rumah tersebut, Ethan akan dihadap banyak puzzle dan musuh.

Minimnya informasi jadi titik penting dalam game ini. Jika ceritanya terlalu banyak dibahas, maka nuansa horornya akan hilang. Jalan yang dihadapi pun akan sangat berliku. Namun seiring perjalanan dan waktu, cerita inti game ini terbuka perlahan-lahan.

Lalu apakah Ethan bisa menyelamatkan Mia? Semua ini tentu saja tergantung dari cara Anda memainkannya.


Sudut Pandang Orang Pertama Bikin Merinding

Foto: screenshot detikINET


Seperti yang pernah disampaikan oleh Kawata, sudut pandang orang pertama dalam game horor dianggap mampu membuat bulu kuduk merinding ketika bermain. Pernyataan Kawata ini bukan main-main. Sebab dalam praktiknya, bermain Resident Evil 7 bisa bikin kami terkejut bahkan tak malu untuk berteriak.

Sama halnya dengan game FPS (first-person shooter), di Resident Evil 7 yang terlihat hanya dua pasang tangan. Anda bisa menyerang musuh dengan tangan kosong, senjata melee, atau senjata api.

Pun dilengkapi dengan aksi tembak menembak, ada kalanya Anda harus kabur dari kejaran musuh. Peluru dalam game bak sebongkah berlian. Kehadirannya sangat langka. Oleh karenanya, Anda harus mengirit seirit mungkin peluru agar tidak jadi mubazir.

Foto: screenshot detikINET

Bermain Resident Evil, maka tak lengkap rasanya bila tidak memecahkan puzzle. Yap, puzzle dalam serial game horor ini sudah dihadirkan sejak seri pertama. Di Resident Evil 7 ini, puzzle semakin mantap karena Anda harus memecahkan sembari dikejar musuh. Perasaan deg-degan menerka kapan musuh akan datang menyelimuti Anda selama permainan.

Masih kurang seram? Jika Anda minat, Anda bisa menggunakan PlayStation VR. Headset virtual reality milik Sony ini menambah kesan horor menjadi dua kali lipat alias double!

Pemain akan seolah-olah benar-benar masuk di dalam permainan, apalagi dengan pandangan tidak terbatas alias 360 derajat. Pemain bisa menengok kiri-kanan, atas-bawah, sebebas-bebasnya. Hati-hati saja tidak dipukul dari depan saat menengok ke belakang.

Pergerakan pemain tetap menggunakan Dual Shock (DS) controller, termasuk ketika bertarung melawan musuh. Bagi yang belum terbiasa dengan settingan ini, jangan sampai main pakai VR selama berjam-jam karena bisa menimbulkan efek pusing dan mual.

Ada sedikit minus ketika bermain VR yaitu grafis yang terlihat menurun alias tidak sejernih ketika bermain tanpa VR. Meski demikian, game ini tetap seru dimainkan secara normal maupun pakai VR.


Opini detikINET

Foto: screenshot detikINET


Resident Evil 7 wajib dimiliki penggemar game horror, apalagi penggemar berat seri Resident Evil. Jangan harap bisa banyak membunuh musuh dengan tembakan membabi-buta seperti di game-game Resident Evil sebelumnya.

Di sini insting bertahan hidup si pemain adalah hal yang paling utama. Berusaha tetap hidup, hemat amunisi dan medikit, hindari musuh sebisa mungkin, dan segera keluar dari rumah terkutuk itu.

Kedengarannya simpel, tapi coba saja mainkan sendiri. Pemain yang lemah jantung disarankan untuk tidak memainkan game ini. Sebab, banyak kejutan yang bisa bikin pemain kaget.

Bahkan setelah kejutan itu berlalu, pemain tetap was-was dan deg-degan ketika berjalan menyusuri lorong-lorong yang setengah gelap serta kamar dan ruangan yang harus dimasuki.

Foto: screenshot detikINET


Apalagi sudut pandang orang pertama membuat permainan ini jadi lebih personal, seolah-olah kita sendiri yang mengalami langsung. Tambahan grafis dan visual yang ciamik juga membuat seolah-olah game ini menjadi lebih nyata.

Sayangnya grafis hanya menarik di lingkungan saja, karena grafis para karakter terlihat kaku dan kurang tajam.

Alur ceritanya sangat menarik disimak. Pemain akan banyak bertanya-tanya soal banyak hal, mulai dari mengapa Ethan harus mencari istrinya, mengapa istrinya bisa tiba-tiba berada di rumah itu, siapa saja anggota keluarga yang ada di rumah itu, dan banyak lagi.

Minimnya informasi di awal permainan ini yang memberi ketegangan ekstra saat bermain. Sebab pemain tidak akan tahu bahaya apa saja yang ada di rumah terkutuk itu.

Foto: screenshot detikINET

Ketegangan itu timbul dari dalam diri sendiri. Bukan tidak mungkin jantung pemain terus berdebar meski hanya sedang berjalan menyusuri koridor gelap atau ketika hendak membuka pintu.

Selain menawarkan rasa takut berlebihan, game ini juga menyuguhkan teka-teki (puzzle) yang seru untuk dipecahkan. Bayangkan saja, pemain harus memutar otak menyelesaikan puzzle sambil diahntui rasa takut.

Suara juga jadi faktor yang penting dalam game ini, cobalah mainkan dengan menggunakan headphones. Secara samar-samar akan terdengar suara jangkrik, air mengalir, dan lain-lainnya seolah-olah pemain berada di sekitar rawa-rawa.

Langkah kaki musuh juga bisa terdengar jelas arahnya kalau memakai headphone, berbeda kalau hanya mengandalkan suara televisi.

Kekurangan dari game ini adalah sistem pertempuran yang agak lambat. Pemain akan dibekali dengan berbagai senjata, mulai dari pisau hingga senjata api seperti handgun hingga shotgun.

Foto: screenshot detikINET

Ketika bertempur menggunakan senjata api jadinya biasa saja. Namun kesulitan itu terasa ketika kita menggunakan senjata tajam untuk jarak dekat (meele). Pemain akan kesulitan memperhitungkan jarak antara Ethan dengan musuhnya.

Seringkali ayunan pisau pemain tidak berhasil mendarat di badan musuh, tapi tak jarang juga justru ayunannya gagal karena keburu dihantam musuh akibat jarak yang terlalu dekat. (mag/mag)
Load Komentar ...

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed