Jumat, 24 Nov 2017 15:10 WIB

2018, Sampah Elektronik Tembus 49,8 Juta Ton!

Muhamad Imron Rosyadi - detikInet
Ilustrasi. Foto: istimewa Ilustrasi. Foto: istimewa
Jakarta - Dengan pertumbuhan yang dapat mencapai 5% tiap tahunnya, sampah elektronik telah menjadi masalah serius bagi seluruh negara di dunia.

Asia bisa dikatakan menjadi benua penyumbang sampah elektronik terbesar, dengan pertumbuhan mencapai 63% dalam lima tahun (2010-2015).

Benua kuning ini juga menjadi pasar dan industri terbesar dalam sektor barang elektronik, yang cenderung tidak diperuntukkan sebagai benda daur ulang atau digunakan kembali.

Pada 2015, sampah elektronik di Asia sendiri sudah mencapai 12,3 juta ton. Angka tersebut setara dengan 2,4 kali lipat dari berat Piramida Agung di Giza, Mesir.

China menjadi kontributor terbesar dengan 6,7 juta ton sampah, meningkat 107% dari jumlah yang ada pada 2010.

Di sisi lain, Hong Kong (21,7 kg) dan Singapura (19,95) menjadi negara dengan rataan tertinggi sumbangan sampah elektronik per kapita.

Berdasarkan penelitian dari United Nations University, untuk skala global, pada 2018 mendatang diperkirakan jumlah sampah elektronik akan terus bertambah mencapai 49,8 juta ton, dengan tingkat pertumbuhan 4%-5%.

"Kebanyakan ponsel bekas diekspor ke negara lain, salah satunya Hong Kong sebagai pasar terbesar untuk barang bekas dan/atau refurbished," ujar Shunichi Honda, Programme Officer UN Environment Jepang, seperti dilansir detikINET dari Forbes pada Jumat (24/11/2017).

"Sisanya, biasanya dibawa pengepul, dikirim ke tempat pembuangan akhir (TPA), atau, yang paling berbahaya, diekspor ke negara-negara yang ingin mengurangi material sampah elektronik dengan pembakaran," katanya.

Ia menambahkan, masih banyak proses daur ulang yang dilakukan oleh beberapa negara di Asia dan Afrika yang membahayakan kesehatan manusia dan lingkungan, seperti pembakaran dan penumpukkan.

Salah satu tindakan paling sederhana yang dapat mengurangi sampah elektronik, terutama oleh konsumen, adalah menukar gadget lama dengan yang baru melalui program buyback atau trade-in.

Dari sisi produsen, Apple dapat menjadi salah satu contoh terbaik dalam mendaur ulang limbah elektronik.

Berdasarkan investigasi yang dilakukan oleh Bloomberg, sejumlah sampah yang dihasilkan oleh iPhone bekas dibakar untuk menghasilkan bingkai jendela, furnitur, maupun ubin. (fyk/fyk)
-

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed