Kamis, 23 Nov 2017 19:11 WIB

Airbnb cs Jadi Ancaman Nyata Pada Bisnis Konvensional

Fino Yurio Kristo - detikInet
Airbnb. Foto: Getty Images Airbnb. Foto: Getty Images
Jakarta - "Uber, perusahaan taksi terbesar dunia, tak punya kendaraan. Dan Airbnb, penyedia akomodasi terbesar, tak punya properti. Sesuatu yang menarik sedang terjadi," tulis Tom Goodwin, analis industri di TechCrunch.

Begitulah, seiring demam startup yang menghinggapi berbagai belahan dunia, beberapa sukses menciptakan terobosan atau gejolak. Umumnya karena mengganggu status quo dari penguasa bisnis dengan metode lama, dengan model bisnis yang benar benar baru.

Uber sering berseteru dengan perusahaan taksi konvensional, demikian juga perusahaan sejenis yang muncul setelahnya seperti Go-Jek dan Grab. Airbnb bukan tak mungkin akan jadi jaringan hotel terbesar dengan jumlah penyewa dan yang menyewakan penginapan online terus bertambah. Tak heran mereka juga bikin jengah pebisnis hotel.

Dari bisnis ponsel, ada nama Xiaomi yang melesat cepat berkat strategi baru di jagat smartphone. Mereka menawarkan handset spek tinggi dengan harga rendah dan berjualan langsung secara online.

Sama seperti Uber mengganggu industri taksi, Airbnb merongrong hotel konvensional, maka Xiaomi menyaingi nama besar di industri ponsel walau sempat tenggelam. Dan strategi mereka banyak ditiru, seperti metode berjualan secara langsung lewat internet yang memangkas biaya dan tepat sasaran.

Di ranah e-commerce, raksasa seperti Amazon dan Alibaba yang mempelopori penjualan online disinyalir berdampak pada penjualan di retail fisik. Kemudahan berbelanja online pun mulai menghinggapi Indonesia.

Begitulah memang, dunia terus maju dan inovasi terjadi. "Proses distrupsi semacam ini bukan hal baru. Dulu, industri manuskrip diguncang oleh industri cetak. Dan mereka yang terguncang itu tentu saja protes," tulis Tom Hodgkinson, kolumnis Guardian yang dikutip detikINET.

"Pihak yang terganggu selalu mengeluh, tapi ini memang tetap terjadi. Pertanyaannya adalah apakah terobosan itu menciptakan lebih banyak kemerdekaan individual atau malah menuju ke arah penciptaan monopoli global," tambahnya.

Memang para startup besar terus berekspansi secara agresif meski menghadapi banyak tantangan ataupun terganjal regulasi. Mungkin kalau tak mau ketinggalan, pemain lama harus punya terobosan agar tak kehilangan pasar. (fyk/rns)
-

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed