Selasa, 11 Okt 2016 09:15 WIB

Menelusuri Sejarah Candi Prambanan dengan Video Mapping

Adi Fida Rahman - detikInet
Foto: Faela Shafa Foto: Faela Shafa
Yogyakarta - Malam itu, Candi Prambanan tampak berbeda dari biasanya. Tidak ada sorot lampu yang menerangi, berganti visual efek yang menghiasi dinding candi.

Efek visual tersebut berasal dari sejumlah proyektor yang sengaja dipasang dalam rangka pertunjukan video mapping yang dibesut Epson bersama Sembilan Matahari.

Head of Marcom & Public Relations Epson Indonesia Nolly Dhanurendra menjelaskan, sebanyak 20 proyektor dikerahkan pihaknya. Dua belas proyektor dipasang di area Candi Prambanan, di mana salah satunya adalah MB-L25000U. Delapan sisanya ditempatkan di area panggung yang biasa digunakan untuk pagelaran sendara tari Ramayana.

Persiapan teknis dalam mensetup proyektor berlangsung selama seminggu. Tapi perencanaannya sudah dilakukan sejak dua bulan silam.
Menelusuri Sejarah Candi Prambanan dengan Video Mapping

"Kami tidak hanya fokus pada video mapping di candi, tapi dikolaborasikan dengan tarian tradisonal yang dipimpin oleh Didik Nini Thowok, menampilkan sejarah Prambanan," kata Nolly saat ditemui usai peluncuran proyektor MB-L25000U di Hotel Royal Ambarrukmo.

Penuh Tantangan

Rencana Sembilan Matahari membuat video mapping di Candi Prambanan sudah cukup lama. Mereka telah menginisiasi sejak 2010 setelah sukses membesut video mapping di Museum Fatahillah, Jakarta.

Dipilihnya Candi Prambanan sendiri lantaran karena salah satu situs peninggalan dunia UNESCO yang memiliki nilai kebudayaan lokal cukup tinggi. Selain itu, Candi Prambanan memiliki arena pertunjukan sendiri sehingga dapat dikolaborasikan dengan sendra tari.
Menelusuri Sejarah Candi Prambanan dengan Video Mapping

Karena itu pihak Sembilan Matahari coba mengajukan ke sejumlah pihak agar dapat melakukan video mapping di candi Hindu terbesar di Asia Tenggara ini. Sayang prosesnya tidak begitu mulus.

Titik terang baru terlihat ketika 2015 saat Sembilan Matahari berkolaborasi dengan Epson melakukan video mapping di Museum Nasional, Jakarta. Ide yang tersimpan enam tahun akhirnya dapat terealisasi segera.

Meski demikian tantangan belum mau berakhir. Malah sejumlah rintangan baru pun bermunculan.

"Saat mengajukan izin cukup rumit, bukan soal birokrasi tapi kehati-hatian untuk mempersilahkan siapa yang dapat mengakses Candi Prambanan. Tapi kami berhasil menyakinkan," kata Adi Panuntun pentolan Sembilan Matahari.

Kondisi dinding Candi Prambanan turut memperberat eksekusi. Permukaan yang tidak rata dan warna gelap, membuat proyeksi tidak semudah bidang yang rata seperti gedung museum.
Menelusuri Sejarah Candi Prambanan dengan Video MappingAdi Panuntun

"Hardware pun jadi tantangan karena bagaimana menjamin kualitas proyektor, kabel konektor dan komputer harus benar-benar dalam kondisi baik. Jika tidak begitu saya rasa tidak dapat menghadirkan show dengan kompleksitas cukup tinggi," kata pria berkacamata ini.

Namun jerih payah Sembilan Matahari menghadapi tantangan terbayar. Pertunjukan video mapping mampu memukau penonton malam itu. Meski sempat turun rintik hujan, tidak membuat para penonton bergeming dari bangku, malah mereka tetap fokus menonton. Di akhir pertunjukan, penonton sangat riuhan memberikan tepukan tangan.

Semoga saja pertunjukan seperti ini sering digulirkan di objek sejarah. Sehingga akan makin banyak generasi yang menikmati sejarah yang dimiliki ibu pertiwi.

"Objek sejarah jika dikemas dengan media baru dapat menjemput zaman. Sehingga nilai luhur kita bisa ketransfer ke generasi milenial dengan kemasan yang baru," ujar pria yang berdarah sunda ini.

"Kami berencana akan melakukan video mapping di Candi Borobudur pada pergantian tahun nanti. Semoga dapat terlaksanan," harap Adi.

Berikut cuplikan video mapping di Candi Prambanan

(afr/ash)
-
Load Komentar ...

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed