Sabtu, 04 Jun 2016 13:58 WIB

Perjuangan Demi Berlaga di Kontes Robot Nasional

Imam Wahyudiyanta - detikInet
Foto: detikINET/Imam Wahyudianto Foto: detikINET/Imam Wahyudianto
Surabaya - Perjuangan untuk bisa mengikuti Kontes Robot Indonesia 2016 cukup berat. Selain menyita tenaga, waktu pun banyak terkuras agar bisa berlaga di kontes robot paling prestisius di Indonesia ini.

"Persiapan kami setahun. Sejak tahun kemarin atau sejak lomba tahun lalu kami mulai berbenah," ujar Wahyu Trisfianto, peserta asal Institut Teknologi Bandung (ITB) kepada wartawan di Supermall Surabaya Convention Centre, Jumat (3/6/2016).

Wahyu dan timnya merasa harus berusaha lebih keras, karena prestasi tim robotnya yang bertanding pada divisi sepak bola jeblok dibanding tahun sebelumnya.

Tahun lalu, tim yang diberi nama Dago Hoogeschool ini tak lolos menjadi juara grup sehingga langsung tersingkir. Padahal pada tahun sebelumnya, tim yang digawangi sembilan kru ini mencapai semi final.

"Jadi target kami tahun ini adalah finish di empat besar juga," lanjut Wahyu.



Wahyu mengaku sudah melakukan persiapan termasuk melakukan evaluasi dan riset. Strategi pun sudah dirancang agar robotnya bisa lebih lincah saat dilombakan. Personel juga mengalami pergantian. Wahyu sendiri adalah personel yang sebelumnya ikut KRI 2015. Ada empat robot yang dibawa oleh tim ITB.

"Kami membawa empat robot. Namanya Zared, Daritem, Alfasari, dan Darcondut," sebut mahasiswa berkaca mata ini.

Tim lain yang juga bekerja keras untuk kontes robot nasional ini adalah tim asal Universitas Sam Ratulangi yang berkompetisi di divisi robot seni tari. Tim yang anggotanya perempuan semua ini sudah mempersiapkan diri sejak setengah tahun yang lalu.

"Kami mempersiapkan diri sejak Desember tahun lalu," kata Affi Amira Daniel.

Untuk divisi robot seni tari, ada dua robot yang harus disiapkan. Tim yang digawangi Affi, Sri rahayu Saleho, dan Karina M Kaloh ini sudah mempersiapkan Nona Noni yang sudah menjadi juara pertama regional 2 sehingga berhak maju mengikuti KRI 2016.

"Tahun lalu kami menjadi juara dua regional 5 dan maju ke KRI 2015. Di KRI 2015 kami menjadi juara lima. Dan ini adalah keikutsertaan kami yang kedua di KRI," lanjut Affi.



Seperti sudah disebutkan sebelumnya, Nona Noni bukan robot baru. Nona Noni adalah robot lama yang mengikuti KRI 2015 dengan nama Pingkan dan Mambao. Perubahan nama dilakukan untuk menandai personel tim baru dan sejumlah update yang membuatnya menjadi lebih canggih.

"Yang dinilai dari robot seni tari adalah sinkronisasi gerak," ujar mahasiswa jurusan Teknik Informatika ini.

Baik tim ITB dan tim Universitas Sam Ratulangi menganggap bahwa saingan terberat mereka adalah tim dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dan Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS). Dalam KRI, kedua tim sudah dikenal mendominasi.

Pada babak penyisihan di kontes robot ABU Indonesia, tim ITS dengan robotnya RI-NHA berhasil melakukan tugasnya dalam waktu 1 menit 19 detik. Namun rekor itu langsung dipatahkan PENS yang mencatatkan waktu 25 detik menggunakan robot bernama PENSAE. (iwd/rns)
-
Load Komentar ...

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed