Jumat, 29 Apr 2016 06:44 WIB

'Mamet' Pensiun Sinetron dan Bangun Startup

Adi Fida Rahman - detikInet
Foto: detikINET/afr Foto: detikINET/afr
Jakarta - Popularitas dan uang berlimpah dari bermain sinetron rupanya tidak membuat hati Dennis Adishwara puas. Ia lantas memilih pensiun dan membangun startup untuk mewujudkan mimpi besarnya.

Ditemui beberapa waktu lalu di sebuah pusat perbelanjaan di kawasan SCBD, Jakarta, pria yang dikenal akan perannya sebagai Mamet di film 'Ada Apa Dengan Cinta?' ini menuturkan alasan di balik keputusannya tersebut.

Dennis mengatakan hidup di industri televisi dan sinetron memang membuatnya cepat kaya. Bagaimana tidak? Ia cukup datang ke lokasi, membaca skrip dan berlakon. Setelah lima hari Dennis mendapat upah dalam hitungan dua digit alias puluhan juta rupiah.

"The easiest work i ever had," ujarnya.

Tapi di balik itu, hati Dennis meronta. Pasalnya, ia seperti menerima kenyataan bahwa apa yang dia kerjakan tidak memberikan dampak yang baik.

"Lebih banyak memberikan mimpi dan fantasi. Tidak membuat orang-orang memiliki fighting spirit. Orang-orang jadi tidak memiliki semangat berinovasi, pasrah pada keadaan. Lama-lama ini membuat bertentangan dengan hati saya," papar Dennis.

Dengan tekad bulat, Dennis meninggalkan kemilau industri televisi dan sinetron Indonesia. Ia lalu banting stir membangun startup.

Namun keputusan tersebut menuai tanggapan sinis dari banyak pihak. Mereka beranggapan bahwa pria kelahiran Malang itu sudah tidak laku lagi sehingga memilih untuk pensiun dini dari layar kaca.

Untungnya hal itu tidak menyurutkan tekad Dennis. Dan pada November 2012, ia mendirikan Layaria TV bersama beberapa temannya. Mereka fokus menggarap konten video online.

Layaria TV

Cibiran rupanya tidak berhenti setelah Dennis membangun Layaria TV. Banyak yang meragukan startupnya itu akan menuai kesuksesan. Tapi Dennis cukup memakluminya karena di tahun 2012 masih jarang sekali orang yang menonton YouTube, begitu pula orang yang membuat konten video online.

Pada zaman itu video online masih menjadi sesuatu hal yang misterius, bahkan di Amerika Serikat sekalipun yang industrinya dinilai lebih mapan dan maju dibanding Indonesia. Namun demikian pria berumur 33 tahun ini tetap meneruskan tekadnya.

"Saya sih masa bodo amat. Mungkin seberapa bodo amat seperti Nabi Nuh bikin bahtera tapi dikata-katain orang lain. Bukan saya kayak Nabi Nuh ya, tapi kondisi seperti itu. Kami tetap saja, presistence di jalur itu," kata Dennis.
 
Kegigihan Dennis akhirnya terbayar, lambat laun Layaria TV terus berkembang. Awalnya hanya membuat konten, sekarang berkembang menjadi multi channel network. Sebanyak ratusan channel dipayunginya, baik bersifat perorangan maupun dari perkelompok.

Kini dengan menggusung bendera Layaria, Dennis coba membantu para pembuat konten terhubung dengan sponsor. Selain itu memfasilitasi proses produksi sehingga lebih berkarya lebih maksimal.

Tidak Anti Televisi

Meski sudah pensiun dari sinetron dan berhasil membangun bisnis konten video online, tidak lantas membuat pria yang pernah menyutradarai film Kwaliteit 2 ini memusuhi dunia layar kaca.

Malah ia mengaku sangat respek dengan para pelaku industri televisi Tanah Air. Dari mereka juga Dennis mengerti bagaimana proses produksi suatu konten sesuai standar dan prosedur. Namun ia punya harapan industri sinetron dan televisi dapat lebih baik ke depannya.

"Mungkin mereka saat ini tidak melihat apa yang saya lihat. Bagi saya hidup cuma sekali, kita diberi kesempatan untuk membuat hidup kita dan orang lain lebih baik lagi," pungkas Dennis.

(afr/ash)
-
Load Komentar ...

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed