BERITA TERBARU
Senin, 30 Nov 2015 13:30 WIB

Wahai Penggiat Startup, Pilih Go Global atau Jago Kandang?

Rachmatunnisa - detikInet
Wilix Halim (rns/detikINET) Wilix Halim (rns/detikINET)
Jakarta - Pertumbuhan ekosistem startup di Indonesia sangat menggembirakan. Dalam beberapa tahun terakhir, makin banyak anak muda yang terpikir membuat startup.

"Memang banyak yang latah, tapi menurut gue bagus. Jadi lebih banyak startup kan positif buat profile Indonesia juga naik," kata Senior Vice President of Growth Freelancer.com Wilix Halim, berbincang dengan detikINET pekan lalu.

Pengalamannya mengawal Freelancer yang bermarkas di Australia, membuatnya hafal dengan tren startup di Negeri Kanguru tersebut, dan melihat perbedaannya dengan di Indonesia.

"Indonesia itu five years behind dibandingkan Australia. Di Australia dan US (Amerika Serikat) startupnya udah global thinking-nya. Kalau di Indonesia kan masih lokal mikirnya," ujar lulusan bidang robotik dan teknik informatika University of Melbourne ini.

Namun dikatakannya, pola pikir lokal sah-sah saja karena tergantung bisnis apa yang dirintis. Dalam hal ini, Wilix menekankan sebuah startup harus melihat ukuran pasar yang akan disasar.

"I think that's okay ya. Dilihatnya dari market size. Berapa potensi yang bisa kita target. Jadi kalau seperti Bukalapak atau Tokopedia gak apa fokus ke lokal karena market size-nya di Indonesia aja besar banget kan," kata Wilix.

Pola pikir global menurutnya diperlukan ketika startup yang didirikan memang tak hanya menyasar kebutuhan lokal, tetapi juga pengguna atau konsumen di tingkat global.

"Freelancer.com itu contohnya. Dari awal mindset-nya global, karena ngapain kalau lokal saja. Kita ingin agar orang bisa mendapat project dari mana saja globally. Kalau lokal di Australia saja itu kecil. Sisanya itu tersebar di area lebih besar," terang Wilix memberi contoh.

Wilix pun memberi pandangan lain soal gap perkembangan startup di Australia dengan Indonesia. Menurutnya, hal ini justru menjadi potensi pertumbuhan yang besar.

"Startup yang pintar, dalam lima tahun ke depan tahu akan seperti apa. Mereka mengkopi dari Australia dan US, bisa lebih bagus startupnya. Indonesia growth-nya bisa 5-6 kali. Internet penetration masih berkembang, kalau di Australia udah 93%, sudah lebih dulu. Jadi pasarnya masih besar di Indonesia," simpulnya

(rns/ash)
-
Load Komentar ...

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed