Kamis, 27 Agu 2015 06:50 WIB

Fenomena Hate-Speech, Sang Penebar Kebencian

Yudhianto - detikInet
Suasana diskusi di Bakoel Koffie, Cikini (yud/detikINET) Suasana diskusi di Bakoel Koffie, Cikini (yud/detikINET)
Jakarta - Kasus penebaran kebencian yang dilakukan oleh salah satu akun facebook menjadi perhatian serius sejumlah organisasi masyarakat yang menamai dirinya Forum Demokrasi Digital. Forum terbuka ini mengajak para netizen dan juga pemerintah untuk bersama-sama menangani permasalahan tersebut.

Baru-baru ini netizen dibuat geger oleh postingan akun Facebook bernama Arif Kusnandar. Isi statusnya membuka luka lama masyarakat Indonesia soal tragedi yang pernah terjadi pada bulan Mei tahun 1998. Arif terkesan menyalahkan pemerintah terkait nilai tukar dolar yang membumbung tinggi. Melalui postinganya, Arif juga mengancam kejadian di bulan Mei 1998 bisa terulang lagi.

Forum Komunikasi Digital menganggap apa yang dilakukan sudah kebablasan. Forum ini sejatinya juga menghargai kebebasan berekspresi, pun demikian tetap harus ada norma-norma yang harus diikuti. Karena bila kelewatan malah bisa mencederai demokrasi itu sendiri. Pemerintah lantas diharapkan punya aturan jelas untuk mengatasi permasalahan hate-speech ini.

“Saya pikir itu (kebebasan berekspresi-red) harus ada standar minimumnya. Negara harus punya aturan yang jelas soal ini dan juga harus proporsional. Jangan semena-mena, karena tetap ada hak-hak warga negara di situ,” ujar Haris Ashar dari Kontras yang juga tergabung dalam Forum Demokrasi Digital, di restoran Bakoel Koffie, Cikini, Jakarta, Rabu (26/8/2015).

Tak ingin sekadar wacana, Forum Demokrasi Digital juga telah meluncurkan sebuah petisi yang bisa diakses di situs change.org. Isinya adalah mengajak pihak-pihak terkait di pemerintahan untuk serius memperhatikan persoalan hate-speech ini dengan menelurkan aturan-aturan yang dibutuhkan.

Tak cuma di sisi pemerintah, elemen sipil yang dalam hal ini adalah netizen juga diharapkan ikut andil dengan melakukan edukasi yang lebih intensif melalui jalur online. Yang tujuannya agar mampu meningkatkan kerukunan beragama, menghormati pluralisme, dan menjunjung ke-bhinneka-an di Indonesia.

“Kami menebar petisi (soal aturan hate-speech) demi memberi masukan ke pihak-pihak terkait (termasuk netizen sendiri). Jangan sampai kejadian Mei 1998 terulang,” pungkas Damar Juniarto dari Forum Demokrasi Digital.

Menanggapi petisi tersebut, respon masyarakat juga terbilang cepat. Karena meski baru beberapa hari diluncurkan, petisi yang dimaksud diklaim telah mendapat dukungan lebih dari 16 ribu orang. Angka ini pun diharapkan dapat terus bertambah demi mencapai tujuannya.

(yud/rou)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed