BERITA TERBARU
Rabu, 15 Mei 2013 08:11 WIB

Kolom Telematika

Sisi Gelap Twitter, Dunia Nan Pendek & Serba Cepat

- detikInet
Ilustrasi (Ist.) Ilustrasi (Ist.)
Jakarta - Saya yakin, sebagian besar pembaca menikmati dan suka dengan 'kehidupan' di Twitter. Di samping banyaknya aplikasi sehingga memudahkan untuk ngetweet, di dunia ini juga banyak informasi yang bisa didapat secara cepat dan padat, tanpa bertele-tele.

Namun, tahukah pembaca sekalian bahwa ada sisi gelap yang mungkin tidak Anda sadari?

Nah, berbicara soal kebaikan dan kegunaan Twitter jelas ada banyak yang bisa disebutkan dan 99% dari Anda juga menyadari hal itu. Jika masih belum menyadari dan merasakan manfaat serta kebaikan Twitter namun tetap menggunakan, mungkin saja sedang dihipnotis atau hanya menuruti wejangan dari Eyang Subur.

Lalu akan menjadi lain masalahnya untuk menyebutkan atau menyadari bahwa ada sisi gelap dari Twitter. Sebagian dari Anda juga akan sontak berteriak, 'APA? TWITTER PUNYA SISI GELAP?! INI BECANDA KAN?!'

Iya. Sebagaimana layaknya layanan umum lainnya, Twitter juga memiliki celah dan sebagian dari itu berwujud buruk.

Hasil dari beberapa riset kecil menunjukkan bahwa sebagian besar pengguna Twitter ternyata mudah percaya dengan sebuah tweet. Sehingga hal ini dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab dengan menyebarkan berita bohong.

Banyak kasus yang telah terjadi sebenarnya dapat diambil hikmahnya terkait dengan level kepercayaan kita terhadap tweet. Tentu saja kita masih ingat dengan banyaknya berita palsu terutama saat terjadi bencana baik di dalam maupun luar negeri.

Atau berita tentang wafatnya seorang artis padahal hanya dirawat di rumah sakit. Dan berita-berita lainnya yang diciptakan untuk memuaskan hasrat ngerjain.

Efek yang dihasilkan dari berita palsu ini memang bermacam-macam. Berita kematian palsu efeknya mungkin tidak seberapa yaitu sekadar sakit hatinya fans dan keluarga, misalnya.

Namun efek dari berita palsu juga dapat mengakibatkan lenyapnya uang senilai USD 200 miliar Amerika dari Bursa Efek New York sebagaimana yang terjadi kemarin akibat berita palsu dari sebuah akun terverifikasi Associated Press lantaran dibajak.

Dampak dari mudahnya kita percaya pada satu tweet memang tidak secara langsung bersifat individual. Namun ada hal lain yang ruang lingkup dampaknya adalah perseorangan namun merata dan bukan sesuatu yang sepele.

Dulu, Twitter belum memiliki fitur realtime pada timeline baik via website maupun aplikasi 3rd party. Hal ini menghadirkan jeda dan pengguna harus melakukan refresh pada timeline untuk mendapatkan tweet terbaru.

Jeda yang hadir saat itu bukan semata-mata karena kemauan atau kontrol pengguna melainkan oleh karena desain dari Twitter sudah seperti itu. Namun jeda itu sudah tak ada lagi sejak API versi baru yang mampu streaming timeline secara cepat. Dan sejak saat itu, timeline seperti yang kita lihat saat ini datang secara realtime.

Apa yang Anda tweet pada detik itu juga akan muncul di timeline orang-orang yang mengikuti Anda. Tak ada jeda walau sedetik. Di sisi lain cepatnya informasi yang datang membuat kita menjadi tahu akan informasi baru dari berbagai sumber tanpa perlu menunggu, seperti pada portal berita misalnya.

Namun, informasi yang datang bertubi-tubi dengan berbagai macam topik juga menghadirkan perkara lain.

Di dunia yang serba cepat dan pendek ini, otak menjadi kehilangan kemampuan yang penting dan sejak dulu mampu menghadirkan banyak inovasi maupun penemuan. Dan hal tersebut adalah deep thought, pemikiran mendalam.

Sejak hadirnya internet sebenarnya kebiasaan otak kita sedikit ataupun banyak telah berubah, sebagaimana dituturkan oleh Nicholas Carr dalam bukunya The Shallows.

Dari menyimpan banyak ilmu dalam otak menjadi mengandalkan Google dan Wikipedia sebagai gudang ilmu dan rujukan. Dan dari berpikir mendalam pasca membaca buku menjadi berselancar di antara tautan-tautan dalam browser dengan pemahaman ala kadarnya.

Era dan dunia Twitter semakin mengokohkan kebiasaan ini dengan sifatnya yang realtime dan pendek. Dua hal yang saling melengkapi dalam rangka menghilangkan dan menyingkirkan kebiasaan baik untuk otak dan ilmu pengetahuan.

Pendeknya tulisan membuat kita menjadi cepat menyimpulkan sesuatu sebagaimana menciptakannya. Sementara cepatnya informasi baru yang masuk dan tanpa jeda tidak memberikan kesempatan kepada otak untuk berpikir lebih dalam.

Twitter bukanlah satu-satunya penyebab. Karena ada banyak layanan lain yang juga memiliki peran yang kurang lebih sama, baik berupa forum, portal berita, maupun yang lain.

Twitter dan layanan lain memang mempunyai kemampuan luar biasa untuk dimanfaatkan untuk hal-hal baik. Dan sudah menjadi tugas pengguna untuk dapat memilah dan memanfaatkan kebaikan dan manfaat dari semua layanan tersebut dengan tetap berusaha sadar dan tidak terjebak dalam hal negatif yang dibawanya.

Sekarang, mari kita ngetweet!


Saiful MuhajirTentang Penulis: Ahmad Saiful Muhajir adalah blogger yang juga aktif sebagai pemerhati dunia teknologi informasi. Dapat dihubungi via https://saifulmuhajir.web.id atau melalui akun Twitter @saifulmuhajir.

(ash/ash)
Load Komentar ...

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed