BERITA TERBARU
Senin, 30 Jan 2017 07:28 WIB

Protes Trump, Bos Teknologi Rapatkan Barisan: Lawan!

Fino Yurio Kristo - detikInet
Foto: BBC World Foto: BBC World
Jakarta - Sejak sebelum jadi presiden Amerika Serikat, Donald Trump sudah kurang akur dengan mayoritas petinggi perusahaan teknologi. Kini, ketika Trump benar-benar mewujudkan janji membatasi ruang gerak imigran bahkan melarang warga dari 7 negara mayoritas Muslim masuk AS, para bos itu merapatkan barisan dan meneriakkan kata: lawan!

Bukan apa-apa, para perusahaan teknologi itu hampir semuanya berstatus multinasional dan beroperasi di banyak negara. Karyawannya pun berasal dari seluruh dunia, tak ada diskriminasi. Asalkan punya kemampuan dan lulus seleksi, siapapun bisa bekerja di Google, Apple, Facebook ataupun Microsoft.

Tengok saja Google yang mendadak kalang kabut karena ratusan karyawannya ternyata berasal dari negara-negara dimaksud dan saat ini mereka sedang berada di luar AS. CEO Google, Sundar Pichai yang juga imigran keturunan India, memerintahkan mereka semua segera kembali ke AS.

"Kami kecewa akan dampak aturan ini dan juga proposal lain yang bisa membatasi karyawan Google dan keluarga mereka, atau bisa menciptakan penghalang dalam membawa talenta berbakat ke AS," tulis Sundar dalam memo internal ke karyawan.

Pendiri Google, Sergey Brin, bahkan ketahuan ikut berdemo menentang kebijakan Trump di bandara San Francisco. Ia tergerak karena merasa sebagai pengungsi, di mana keluarganya dulu pindah ke AS dari Uni Soviet karena terancam bahaya.

Selain Google, ada juga Apple yang menyesalkan kebijakan Trump. "Dalam pembicaraanku di Washington minggu ini, aku memperjelas bahwa Apple sungguh meyakini pentingnya imigrasi, baik bagi perusahaan kita ataupun bagi masa depan negara ini. Apple tidak akan eksis tanpa imigrasi, apalagi berkembang dan berinovasi," tulis CEO Apple, Tim Cook.

"Apple itu terbuka. Terbuka bagi siapapun, tidak peduli dari mana mereka berasal, bahasa apa yang mereka katakan, siapa yang mereka cintai dan bagaimana mereka beribadah. Karyawan kita mewakili talenta terbaik di dunia ini dan tim kita berasal dari setiap sudut bumi," tambahnya.



Lalu ada Microsoft, di mana sekitar 76 karyawannya berasal dari negara yang untuk sementara dicekal AS. "Sebagai imigran dan CEO, aku telah mengalami dan melihat dampak positif imigrasi bagi perusahaan kita, bagi negara ini dan bagi dunia. Kita akan terus mendukung hal ini sebagai topik yang penting," sebut CEO Microsoft, Satya Nadella.

Pernyataan keras dikemukakan Reed Hastings, CEO layanan streaming Netflix. "Tindakan Trump melukai karyawan Netflix di seluruh dunia dan sangat tidak Amerika dan melukai juga kita semua. Lebih buruk lagi, aksi itu akan membuat Amerika kurang aman (karena kebencian dan kehilangan teman) ketimbang lebih aman," tulisnya di Facebook resminya.

Tidak cuma mereka, masih banyak lagi miliarder di jagat teknologi yang menentang kebijakan Trump. CEO Uber, Travis Kalanick, berjanji memberikan kompensasi pada sopir Uber yang gagal kembali ke AS dari negara asalnya karena aturan baru imigrasi tersebut.

Petinggi Twitter yang layanannya jadi favorit Trump ikut buka suara. "Imbas ekonomi dan kemanusiaan dari perintah eksekutif ini nyata dan menjengkelkan. Kita ini diuntungkan dengan apa yang dibawa para pengungsi dan imigran ke AS," tulis CEO Twitter, Jack Dorsey.

"Di setiap level, baik moral, kemanusiaan, ekonomi, logika dan lain-lain, pelarangan ini adalah kesalahan dan sepenuhnya antitesis dari Amerika," tulis Aaron Levie, CEO dan pendiri layanan cloud, Box.

"Buyutku berasal dari Jerman, Austria dan Polandia. Sementara orang tua Priscilla adalah pengungsi dari China dan Vietnam. AS adalah negaranya imigran, dan kita harus bangga atas hal itu," demikian pernyataan CEO Facebook, Mark Zuckerberg, yang termasuk sosok paling getol menentang Trump.

Begitulah, kekesalan para petinggi teknologi pada Trump sepertinya mulai mencapai puncaknya. Sebagian di antara mereka berjanji akan berdialog langsung dengan Trump soal masalah tersebut. Nantikan saja perkembangan selanjutnya.

(fyk/yud)
Load Komentar ...

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed
  • Ucapan Duka Netizen Iringi Kepergian Eko DJ

    Ucapan Duka Netizen Iringi Kepergian Eko DJ

    Selasa, 28 Mar 2017 09:02 WIB
    Setelah menderita sakit yang cukup lama, pelawak Eko DJ akhirnya tutup usia pada pukul 23:00 WIB tadi malam. Ucapan duka pun berdatangan dari netizen.
  • iOS 10.3 Final Dirilis, Perlukah Update?

    iOS 10.3 Final Dirilis, Perlukah Update?

    Selasa, 28 Mar 2017 07:00 WIB
    Setelah menyodorkan tujuh versi beta, Apple akhirnya merilis iOS 10.3 versi final ke pengguna iDevice. Perlukah kita menginstall update ini?
  • Game Nostalgia Starcraft Lahir Kembali

    Game Nostalgia Starcraft Lahir Kembali

    Senin, 27 Mar 2017 18:53 WIB
    Blizzard, yang dikenal sebagai pengembang game di balik Dota, dipastikan bakal membangkitkan kembali salah satu game nostalgia andalannya, Starcraft.
  • Teknologi Penting di Kamera Mirrorless

    Teknologi Penting di Kamera Mirrorless

    Senin, 27 Mar 2017 17:30 WIB
    Ada beberapa aspek yang perlu diperhatikan saat memilih kamera mirrorless. Bagian terpenting yang harus diperhatikan adalah sensor yang digunakan. Apa lagi?
  • Andai Jokowi Jadi Rocker

    Andai Jokowi Jadi Rocker

    Senin, 27 Mar 2017 16:32 WIB
    Jokowi mendapat pertanyaan dari anak muda soal kemungkinan dirinya tetap berpolitik jika jadi rocker. Apa jawaban Jokowi?