Senin, 30 Nov 2015 10:51 WIB

Penting! Startup Harus Belajar Growth Hacking

Rachmatunnisa - detikInet
Wilix Halim (rns/detikINET) Wilix Halim (rns/detikINET)
Jakarta - Dengan budget minim, startup ditantang memikirkan strategi pemasaran yang efisien dan efektif. Beranjak dari latar belakang ini, growth hacking bagi startup menjadi penting.

"Untuk startup penting banget. Karena kan startup itu gak punya uang dan fokus akuisisi pengguna dan customer baru. Kalau gak eksperimen gak tau dong akuisisi channelnya yang paling bagus yang mana. Akuisisi itu cuma salah satu konsep growth hacking," kata Senior Vice President of Growth Freelancer.com Wilix Halim, berbincang dengan detikINET beberapa waktu lalu.

Dalam konsep growth hacking, dikatakan Wilix ada lima kunci berupa matriks baku yang digunakan, yaitu Acquisition, Activation, Retention, Referral dan Revenue (AARRR).

1. Acquisition: Bagaimana menggaet pengguna.
2. Activation: Membuat pengguna melakukan aktivasi di situs yang dikembangkan.
3. Retention: Bagaimana agar pengguna kembali ke situs.
4. Referral: Membuat pengguna mengajak orang lain menjadi pengguna baru.
5. Revenue: Memikirkan agar layanan atau produk mendatangkan pendapatan

Melakukan growth hacking, artinya mengedepankan data driven culture untuk mendorong pertumbuhan. Semua eksperimen dan kampanye marketing yang dilakukan, harus dilacak dan dianalisa untuk mengetahui apakah bekerja dengan baik atau tidak.

"Sederhananya, always be data driven dan rajin melakukan eksperimen. Sebelum meluncurkan produk, lihat data," saran pria yang berdomisili di Australia ini.

Dia memberi catatan agar tak seperti kebanyakan perusahaan yang hanya mengecek data trafik, user, dan revenue, melainkan memperhatikan semua data sebelum membuat keputusan.

"Testingnya juga harus cepat, agar tahu lebih cepat, mana yang gagal mana yang berhasil untuk langsung dieksekusi buat fitur baru yang lebih bagus," jelasnya.

Di Freelancer.com sendiri dikatakannya, dalam sepekan bisa ada lebih dari 50 pengujian application program interface (API). Rajin melakukan eksperimen dilakukan agar pengguna mau menggunakan produk yang dibuat, terus menggunakannya, dan menarik lebih banyak pengguna baru untuk menggunakan produk tersebut.

Startup menurut Wilix juga harus mengembangkan learning machine. Dia mencontohkan bagaimana revenue raksasa e-commerce Amazon sebagian besar berasal dari fitur recommended. Fitur ini menjadi learning machine untuk mengenali perilaku dan minat pengguna sehingga bisa menyarankan produk yang tepat sasaran.

"Di website kita sendiri misalnya ada yang namanya funnel, jadi pas user kita masuk ke website, kita pelajari mereka ngapain. Setelah mereka masuk, kita buat mereka aktivasi, lalu make sure mereka mau balik lagi, bahkan mengajak temannya, lalu kita monetize jadikan revenue," terang Wilix.

Lebih jauh lagi, ketika startup sudah semakin berkembang dan memiliki cukup banyak pesaing, tak kalah penting menurutnya adalah mengenali matriks AARRR milik kompetitor. Ini sama pentingnya dengan memahami matriks sendiri. Dengan demikian, startup bisa selangkah lebih maju dibandingkan pesaing.

(rns/ash)
Load Komentar ...

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed