Jumat, 09 Jun 2017 14:51 WIB

Samsung Mungkin Masih Dianggap Elektronik Murahan Tanpa Orang Ini

Fino Yurio Kristo - detikInet
Lee Kun Hee. Foto: Getty Images Lee Kun Hee. Foto: Getty Images
Jakarta - Samsung sekarang dikenal sebagai raksasa elektronik yang produk-produknya disegani. Namun dahulu, produsen asal Korea Selatan ini sempat dicap sebagai perusahaan elektronik murahan.

Para pimpinan Samsung memang bekerja keras menaikkan citra perusahaan dan memastikan untuk selalu memproduksi produk bagus. Etos seperti itu ditanamkan oleh sosok bernama Lee Kun Hee.

Ya, Lee boleh dibilang sebagai bapak kejayaan Samsung. Anak dari pendiri Samsung ini meletakkan pondasi kejayaan Samsung setelah sempat dianggap remeh oleh para rival.

Lee Kun Hee adalah putra ketiga dari pendiri Samsung, Lee Byung Chull. Dia lahir tanggal 9 januari 1942, pada masa perang dunia sedang berkecamuk.

Dikenal sebagai sosok pintar, Lee mendapatkan gelar sarjana ekonomi dari Waseda University di Jepang dan kemudian meraih gelar MBA dari George Washington University di Amerika Serikat. Dia mahir beberapa bahasa, yaitu bahasa Jepang, Inggris dan tentu saja bahasa Korea.

Menjadi putra pendiri Samsung Group, Lee pun sangat paham dengan seluk beluk perusahaan. Dan dengan ambisi besarnya, dia berencana untuk membuat Samsung menjadi perusahaan Korea Selatan yang berbicara banyak secara global.

Gabung ke Samsung

Lee Kun Hee pun mulai berkiprah di perusahaan milik ayahnya. Dia bergabung ke Samsung Group pada tahun 1968.

Samsung memang sebuah konglomerasi besar yang dikendalikan oleh keluarga, sering disebut sebagai chaebol. Jabatan tinggi di perusahaan pun biasanya diwariskan turun temurun.

Pada 1 Desember 1987, Lee diangkat sebagai chairman Samsung, dua minggu setelah sang ayah meninggal dunia.

Pada saat itu, Samsung sudah memimpin dalam beberapa area di pasar dalam negeri. Namun ambisi Lee adalah membuat Samsung berjaya juga di arena internasional.
Mengenal Sosok yang Membangkitkan Samsung Samsung Galaxy S8. Foto: Fino Yurio Kristo/detikINET

Lee menilai Samsung tidak fokus dalam berbisnis dan hanya memproduksi barang kualitas rendah dengan kuantitas tinggi sehingga kalah gengsi dari merek lain. Dia pun ingin mengubah situasi tersebut.

Lee sangat optimistis bahwa Samsung berpeluang menyaingi perusahaan elektronik Jepang yang saat itu sudah mendunia. Yaitu dengan praktik bisnis yang lebih efisien serta produk berkualitas tinggi.

Dari tahun 1987 saat awal Lee Kun Hee memimpin sampai tahun 1993, pendapatan Samsung sudah tumbuh dua kali lipat. Tapi dia sama sekali belum merasa puas. Dia ingin Samsung diakui sebagai perusahaan kelas dunia dengan deadline tahun 2000.

Kecewa Disepelekan

Pada tahun 1993, Lee melakukan tur global ke berbagai negara untuk mengetahui performa produk Samsung di sana. Alangkah kecewanya Lee setelah melihat produk Samsung disepelekan.

Saat berada di sebuah toko di California, televisi Samsung diletakkan di rak bagian sudut yang hampir tidak terlihat. Sedangkan televisi Sony dan Panasonic dipajang sebagai barang jualan utama.

Namun Lee tidak patah arang, malah kenyataan itu membuatnya semakin termotivasi lagi. Dia pun memanggil para eksekutif top Samsung untuk berkumpul di Jerman.

Pada bulan Juni 1993, Lee mendarat di Frankfurt, Jerman. Dia mengumpulkan ratusan eksekutif Samsung dalam rapat besar di Falkenstein Grand Kempinski Hotel.

Selama tiga hari, dia mengungkapkan visi masa depan Samsung dan apa yang harus dilakukan agar visi tersebut segera tercapai. Pidatonya kala itu disebut sebagai Frankfurt Declaration of 1993.

Semenjak hari itu, Samsung mulai serius mengangkat citranya dari produsen elektronik kelas dua menjadi vendor yang dihormati masyarakat dunia. Pidato Lee pun ditranskrip menjadi buku 200 halaman dan dibagikan ke seluruh karyawan sebaagai motivasi.

Kata paling terkenal dari pidato itu adalah 'ubah semua hal kecuali istri dan anakmu'. Saking berpengaruhnya pidato itu terhadap sukses Samsung, kabarnya terdapat replika ruangan hotel tempat Lee berbicara di kantor pusat Samsung Korea Selatan.

Di bawah kepemimpinan Lee, Samsung perlahan tapi pasti menjadi raksasa disegani, terutama di bidang elektronik. Mereka menjadi produsen ponsel dan televisi terbesar di dunia, dan juga memimpin di berbagai segmen industri lainnya.

Sosok Lee yang dianggap paling berperan membawa Samsung ke masa keemasan. Meski tidak luput dari cela, misalnya kasus penghindaran pajak yang membuatnya dihukum cukup berat, Lee tetap menjadi sosok yang dikagumi di Korea Selatan.

Lee sendiri diampuni presiden Korsel dari hukuman mengingat jasanya yang besar. Saat ini, dia termasuk orang terkaya di dunia dengan harta diestimasi USD 14,8 miliar. Sayang belakangan kesehatannya memburuk sehingga sudah tak pernah lagi tampil di publik. (fyk/rou)
-

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed