Rabu, 29 Apr 2015 18:38 WIB

Samsung 'Paksa' Pengguna Galaxy S6 Andalkan Cloud

- detikInet
(ash/detikINET) (ash/detikINET)
Jakarta - Mengusung desain bodi metal, Galaxy S6 dan Galaxy S6 Edge memang tampil memikat. Sayangnya, demi hal itu Samsung malah menghilangkan sejumlah fitur standar yang dulunya jadi andalan, yakni slot micro SD dan baterai yang bisa dilepas.

Tentu keputusan Samsung menghilangkan kehadiran kedua fitur standar itu sudah dipikirkan masak-masak, termasuk soal absennya slot micro SD. Menurut Fleon Koen, PM Manager Mobile Samsung Indonesia, hal ini dilakukan karena Samsung ingin memberikan performa terbaik bagi pengguna Galaxy S6 dan Galaxy S6 Edge.

Performa terbaik yang dimaksud adalah dengan dibenamkannya chip SSD terbaru yang diklaim punya kecepatan transfer data yang tinggi. Sebagai informasi, SSD adalah nama lain dari memori internal yang dimiliki oleh Galaxy S6 dan Galaxy S6 Edge.

Sedangkan bila Samsung tetap mempertahankan kehadiran slot micro SD, ditakutkan akan terjadi bottleneck alias performa mentok pada micro SD yang digunakan. Yang mana hal itu akan berpengaruh pada keseluruhan performa Galaxy S6 itu sendiri.

"Micro SD itu kecepatan reading-nya jauh dibawah kecepatan reading memori internal yang dimiliki Galaxy S6. Kami ingin memberi performa terbaik, itulah alasan kami menghilangkan fitur slot micro SD," ujar Fleon, di Hotel Raffles, Jakarta, Rabu (29/4/2015).

Pun demikian, Samsung tak menutup mata mengenai pengguna yang masih menginginkan kehadiran media penyimpanan alternatif di luar memori internal.

Vebyyna Kaunang, Direktur Marketing IT & Mobile Business Samsung Indonesia, mengatakan pengguna Galaxy S6 tetap punya banyak pilihan, misalnya menggunakan layanan cloud maupun lewat jalur USB On-The-Go (OTG) yang telah didukung Galaxy S6.

"Kami sudah menyiapkan penyimpanan cloud bagi pengguna Galaxy S6. Lebih aman juga, dan bisa diakses dari ponsel manapun. Sehingga pengguna tak perlu panik bila misalnya terjadi masalah pada ponsel miliknya," kata Vebbyna.

Samsung sendiri menggandeng Microsoft untuk penyimpanan cloud-nya. Mengandalkan layanan cloud Microsoft One Drive, Samsung menjamin pengguna Galaxy S6 bisa bebas menggunakannnya sampai dua tahun lamanya.

Sementara itu, terkait desain unibodi yang artinya pengguna tak bisa melepas komponen baterai Galaxy S6. Dikatakan hal ini dilakukan Samsung demi bisa memberikan desain terbaik.

Karena dengan menggunakan baterai yang terintegrasi langsung dengan bodi, Samsung bisa mendesain bentuk baterainya mengikuti desain yang diusung ponsel.

"Bentuknya (baterai-red) juga bisa dibuat lebih tipis, karena tak perlu lagi memberi lapisan tambahan. Lapisannya kan langsung bodi metalnya (yang dipakai Galaxy S6) itu sendiri," pungkas Fleon.

(yud/rns)
-
Load Komentar ...

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed
  • FIFA 18 Tuai Pujian, Tapi..

    FIFA 18 Tuai Pujian, Tapi..

    Senin, 25 Sep 2017 08:26 WIB
    Setelah PES 2018, jagat game kembali diramaikan oleh FIFA 18. Meski baru dirilis 29 September, sejumlah review sedikit-banyak telah menggambarkan game ini.
  • Nokia 8 Versi RAM 6 GB Siap Meluncur

    Nokia 8 Versi RAM 6 GB Siap Meluncur

    Senin, 25 Sep 2017 08:05 WIB
    Nokia 8 sempat diremehkan karena hanya memiliki RAM 4 GB dan penyimpanan 64 GB. Kini HMD Global selaku pemegang lisensi Nokia mengkonfirmasi versi RAM 6 GB.
  • photo Menyusuri Beijing dengan Mi Mix 2 FotoINET

    Menyusuri Beijing dengan Mi Mix 2

    Minggu, 24 Sep 2017 08:25 WIB
    Kamera belakang Mi Mix kualitasnya tak bisa dibilang bagus. Namun di Mi Mix 2, kualitas kameranya jauh meningkat. Seperti ini contoh jepretannya.
  • Inikah Wujud BlackBerry Krypton?

    Inikah Wujud BlackBerry Krypton?

    Minggu, 24 Sep 2017 18:05 WIB
    Rumor BlackBerry akan membuat smartphone berbasis sistem operasi Android dengan layar penuh sudah tersiar sejak lama, yang bernama Krypton.
  • Hacker Rusia Dituding Usik Pilpres AS 2016

    Hacker Rusia Dituding Usik Pilpres AS 2016

    Minggu, 24 Sep 2017 16:20 WIB
    Pemerintah Amerika Serikat seringkali menuding Rusia terkait urusan serangan cyber, dan kali ini mereka menuduh hacker Rusia telah mengusik Pilpres AS 2016.