BERITA TERBARU
Selasa, 26 Jul 2016 16:12 WIB

Yahoo Dijual

'Evita Peron' Pun Gagal di Yahoo

Rachmatunnisa - detikInet
Foto: GettyImages Foto: GettyImages
FOKUS BERITA Yahoo Dijual
Jakarta - Datang di saat kondisi Yahoo tidak baik, Marissa Mayer tak gentar. Wanita cantik ini optimistis dengan setiap langkah yang dilakukannya.

Kalau CEO sebelum Mayer terbiasa membuat strategi atau menyetujui strategi yang diajukan ke mereka, tidak demikian dengan Marissa. "Dialah CEO, yang di hari pertamanya bekerja, menyetting sendiri komputernya untuk coding," kata penulis investigatif Business Insider Nicholas Carlson dalam bukunya Marissa Mayer and the Fight to Save Yahoo.

Saat pergantian tahun 2013 ke 2014 bergulir, Mayer merefleksikan satu setengah tahun pertamanya di Yahoo. Istri dari Zachary Bogue yang sebelumnya dikenal cemerlang di Google ini memulai dengan momentum yang hebat.

Dia memperbaiki kultur Yahoo. Meningkatkan transparansi perusahaan dengan FYI, pertemuan rutin seluruh karyawan setiap Jumat. Makanan dan ponsel gratis meningkatkan moral. Larangan bekerja dari rumah melejitkan produktivitas. Yahoo mengubah semua lini produknya, bahkan memenangkan penghargaan dari Apple. Mayer pun merekrut tim yang bisa dia banggakan.



Gagal dengan Cepat

Namun sinar yang dihadirkan Mayer sejak kedatangannya ke Yahoo dengan cepat meredup. Setelah satu setengah tahun pertamanya di Yahoo, muncul berbagai masalah.

Moral karyawan kembali menyusut akibat kekacauan proses penilaian karyawan dengan sistem QPR. Yahoo gagal menjual iklan yang selama ini menjadi sumber keuntungannya. Pionir di industri internet ini juga tidak memiliki produk baru yang fenomenal.

Pada tahun 2012, Mayer mencoba membawa Yahoo 'kembali ke masa depan' dan menentukan kembali tujuan aslinya. Dia percaya awal-awal internet mobile sulit digunakan dan Yahoo bisa membuatnya menjadi mudah.

Yahoo, di bawah kepemimpinan Mayer, memang bekerja sangat keras, terutama memperkuat divisi internet mobilenya. Namun di luar mereka, ada perusahaan seperti Apple dan Google yang menyelesaikan persoalan internet mobile dengan jauh lebih baik. Yahoo tertinggal.

"Apple memecahkan masalah itu dengan iPhone dan Google dengan Android-nya," kritik Carlson seperti dikutip detikINET dari bukunya, Selasa (26/7/2016).

Yahoo juga menderita karena ketidakmampuan Mayer merekrut eksekutif berbakat. Sangat sering orang mendapatkan posisi di Yahoo bukan karena Mayer mencari mereka, melainkan karena mereka yang mencari Mayer dan menawarkan diri kepadanya. Tiga rekrutan terpentingnya, CFO Ken Goldman, COO Henrique De Castro dan CMO Kathy Savitt bergabung ke Yahoo dengan cara seperti ini.

Karena kesulitan merekrut orang yang sesuai, dia mengerjakan banyak pekerjaan yang bukan menjadi alasan perekrutannya. Sebagai CEO Yahoo, Mayer juga harus belajar hal lain yang tidak sama dengan apa yang sukses dilakukannya selama 13 tahun di Google, dan ini di luar dugaan dia.

Misalnya, wanita berambut pirang ini harus belajar sistem keuangan untuk menyelamatkan saham Yahoo. Karena pertanggungjawaban Mayer tak hanya kepada para karyawannya di Yahoo, tetapi juga para pemegang saham. Hanya satu hal yang dipedulikan para pemegang saham, yakni harga saham naik.

Mayer juga melakukan pekerjaan eksekutif media dan mengurusi bisnis periklanan. Takdir Yahoo bergantung pada pemahaman Mayer terhadap industri ini. Karena harus melakukan pekerjaan yang bukan menjadi tugasnya, Mayer justru tak mampu mengerjakan keahlian yang selama ini membuatnya bersinar, yaitu mengembangkan produk.

Gaya kepemimpinan Mayer pun menuai kritikan. Sosok yang semula dibangga-banggakan sebagai penyelamat Yahoo ini, di kemudian hari dinilai sebagian orang yang kecewa padanya sebagai pengatur, penghambat dan diktator.

Beberapa karyawan menyebut Mayer sebagai Evita, merujuk pada Evita Peron atau Eva Peron, istri kedua mantan Presiden Argentina Juan Peron. Tentu tidak salah menyamakannya dengan Evita yang dikenal dengan prestasinya di kancah politik dan berkuasa. Sayangnya julukan ini bukan bermakna baik, melainkan lebih menganggap Mayer haus pamor dengan kekuasaannya.



Tak Bisa Diselamatkan

"Yahoo, siapa pun CEO-nya, tidak bisa diselamatkan," tegas Carlson menutup bagian akhir bukunya. Mayer bukan sosok berbakat pertama yang mencoba menyelamatkan Yahoo.

Mulai dari Jeff Mallet, Terry Semel, Jerry Yang, Sue Decker, Carol Bartz dan kini Marissa Mayer, semua adalah orang terkenal di balik Yahoo yang berakhir dengan kegagalan.

Sebelum gilirannya sebagai pucuk pemimpin Yahoo, Terry Semel sudah sangat dikagumi oleh eksekutif media. Sebelum eranya, Carol Bartz adalah rekrutan unggulan karena kinerjanya yang mengesankan di Sun Microsystem dan Autodesk.

Sebelum mengambil posisi sebagai CEO, Jerry Yang selalu menjadi co-founder kesayangan. Sebelum promosinya, Sue Decker dianggap pahlawan karena ketegasannya dengan Wall Street dan kewaspadaannya di ruang rapat. Demikian juga Mayer, dia menarik perhatian dengan segudang prestasinya di Google dan keahliannya dalam pengembangan produk dan urusan desain.

"Setelah itu, mereka semua menjadi pengemis dalam industri ini, dihina secara luas dan kadang dengan tidak adil karena gagal mengembalikan Yahoo ke masa kejayaannya," tutup Carlson. (rns/ash)
FOKUS BERITA Yahoo Dijual
Load Komentar ...

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed